Disampaikan Oleh: Haremen

Mungkin ia masih ingat, suara bel berbunyi seperti palu nasib, menutup jam pelajaran yang tidak pernah ia pahami dan membuka jalan sunyi menuju kesalahan yang ditenteng dalam punggungnya.
Di dalam tas itu, terselip barang-barang terlarang, baik dilarang oleh sekolah, melawan hukum, berseberangan dengan agama. Bukan buku, bukan pena, tetapi sesuatu yang kelam, yang meneteskan racun pada masa depan seperti ular yang diam dalam gelap.
Ia tahu itu sangat salah, namun masa muda sering dibutakan oleh keberanian semu, oleh rasa ingin terlihat berani, oleh bisikan kawan sebaya yang tidak tahu arti sesal di hari tua.
Gemetar tangannya dulu bukan karena takut pada guru, tapi karena nurani berteriak: “Apakah ia ingin jadi manusia yang hancur sebelum tumbuh?”
Waktu pun berlalu, seperti sungai yang menyeret bebatuan menuju laut tidak kembali. Ia dewasa, menyadari betapa satu kesalahan kecil dapat menjadi pintu kehancuran besar.
Ia berdiri di persimpangan sejarah, bukan lagi anak sekolah dengan tas penuh noda, tetapi seseorang yang seolah-olah melihat generasi baru yang sedang berjalan di jalan yang sama seperti dirinya, mungkin tergoda pada jebakan yang dulu merenggutnya.
Saat itu ia berfikir lirih: “Apakah aku sama dengan mereka, yang tidak peduli aturan, yang menukar masa depan dengan barang-barang sia-sia?”
Seolah-olah Ia tidak ingin mereka jatuh, seperti ia dulu pernah jatuh. Seolah-olah Ia tidak ingin tangan-tangan muda itu menenteng racun dengan bangga, padahal yang dibawa hanyalah musibah dan bencana bagi orang tuanya.
Maka ia punya kewajiban, seperti pagar yang menjaga ladang, seperti lampu yang menerangi lorong gelap. Seolah-olah Ia harus bersuara, seolah-olah ia harus mengingatkan: “Jangan ulangi jejakku,
jangan biarkan masa depanmu terikat pada kesalahan kecil yang berbuah luka tidak berakhir.”
Mungkin ia menyesali, ia belajar, bahwa pencegahan bukan hanya kata, tetapi tindakan nyata: mengulurkan tangan pada yang rapuh, menjadi sahabat bagi yang terjebak, membangun ruang aman di sekolah agar tas hanya berisi buku,
dan hati hanya berisi cita-cita.
Seolah-olah ia percaya, setiap kesalahan yang terjadi padanya dulu bukanlah akhir, tetap dilakukan oleh murid saat ini. Tetapi pesan dari nuraninya : “ seolah-olah ingin jadilah ia pelita, agar orang lain tidak tersesat pada kegelapan yang pernah menelannya.”
Seolah-olah ia pun berjanji pada dirinya sendiri, pada anak-anak yang masih berlari di koridor sekolah, pada generasi yang masih menulis mimpi di papan tulis: Kesalahannya jangan ditiru, jangan jadi warisan, tapi jadikan peringatan. Kesalahannya jangan jadi bayangan, tapi jadikan ia cahaya pencegahan.
Ia menatap wajah anak-anak yang berlari membawa tas penuh buku, dan dalam sorot mata mereka ia melihat bayangan dirinya di masa lalu. Getar hatinya berkata: “Jangan sampai kesalahan itu menurun seperti warisan pahit. Jangan sampai rahasia gelapku jadi jejak yang mereka ulang.”
Maka ia merasa wajib, seperti utusan waktu
yang seolah-olah membawa pesan preventif: mencegah sebelum terlambat, menutup celah sebelum terjatuh.
Namun, langkahnya tidak selalu mulus. Dalam kunjungannya ke kelas, ia mencoba cara-cara yang janggal, yang tidak selaras dengan nilai pendidikan: ia membuka tas-tas murid, meraba isi yang tersembunyi, seolah-olah dirinya adalah guru BP—padahal ia hanya tamu, bukan pengajar yang bertanggung jawab.
Ada yang memandang heran, ada yang berbisik di pojok bangku, ada pula yang diam seribu bahasa. Tapi asa yang berpikir, berujar : “mungkin ia tidak ingin sejarah kelamnya menjadi cerita baru di antara generasi yang tumbuh.”
Maka ia melangkah, bukan lagi dengan tas yang penuh rahasia kelam, melainkan dengan hati yang penuh tekad, agar dunia sekolah tidak lagi diwarnai racun yang ia sembunyikan dulu. Karena ia ingin masa depan itu bersih, sejernih halaman buku putih yang siap ditulis dengan harapan baru. Jangan sampai rahasia gelapnya jadi jejak yang terulang pada anak-anak.”
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.