
Disampaikan Oleh: Haremen
KPK, tunggu apa lagi? Nama itu sudah tidak bisa disembunyikan lagi : Mulyono. Ia bukan sekadar manusia, tapi simbol dari kerakusan yang menahun, bayangan hitam yang menempel di dinding republik.
Suara-suara bermunculan, bukan sekali, bukan dua kali, tapi berkali-kali, dari bibir pejabat, politisi, pengamat, hingga rakyat yang berteriak di jalanan.Budi Gunawan berdiri tegak, suaranya memantul di dinding kekuasaan : “Jemput paksa Mulyono dari Solo! Jangan biarkan ia bersembunyi di balik pagar kekuasaan, biarkan ia duduk di kursi pesakitan, menjawab soal sepuluh tahun korupsi, dua kali menjabat, dua kali menjarah, dua kali menari di atas penderitaan rakyat.”
Apakah negara ini—yang katanya besar, berdaulat, yang katanya kokoh dengan 285 juta rakyat—akan terus bergetar di hadapan satu nama, satu orang, satu bayangan yang menakuti sistem hukum?
LBP singgung dana yang di pakai Mulyono, membuka angka seperti membuka luka : “Lima ratus triliun!” Bayangkan, rakyat, lima ratus Triliun rupiah yang bisa jadi jembatan, bisa jadi rumah sakit, bisa jadi beasiswa anak negeri, tapi malah jadi tembok istana yang melindungi kerakusan.
Silfester mengungkap berkas lama, ijazah palsu, dokumen kabur sejak 2005.
“Bangsa ini dibohongi, bangsa ini dipermainkan, ijazah palsu bukan sekadar kertas, ia adalah kebohongan yang dipelihara, dengan restu kekuasaan.”
Rieke Diah Pitaloka menunduk, air mata bercampur amarah : “Bansos fiktif, nama-nama tidak ada, data yang dimanipulasi, sementara rakyat lapar, sementara anak-anak kurus, sementara ibu-ibu menangis di depan pintu rumah kosong.” Bansos yang seharusnya roti, menjadi debu di tangan rakyat, tapi menjadi emas di meja Mulyono.
Satu per satu nama menyeruak, seperti arus deras yang tak bisa dibendung : Nadiem menyebut Mulyono. Budi Ari menyebut Mulyono. Noel menyebut Mulyono. Tom Lembong menyebut Mulyono. Hasto menyebut Mulyono. Yaqut menyebut Mulyono. Ahok menyebut Mulyono.
Apakah benar Johnny G Plate juga menuding namanya…? Apakah benar Syahrul Yasin Limpomengaitkan skandal yang sama…?
Yang pasti, Juliari Batubara membuka rahasia getir: “Anak Mulyono, ikut menari di panggung gelap ini.”Setelah Bahlil siapa lagi berikutnya, apakah ia juga akan menyebut Mulyono?
Warisan Era Mulyono Di bawah bendera merah putih yang berkibar, ada noda hitam yang sulit diseka, warisan yang ditinggalkan bukanlah kesejahteraan, melainkan tumpukan kasus yang membusuk, menyisakan bau amis uang haram dari ruang-ruang kekuasaan.
KPK ditatap rakyat dengan mata penuh tanya : Tunggu apa lagi? Kejaksaan Agung pun diguncang suara rakyat : Usut tuntas, jangan lagi ditutup tirai abu-abu…!
Jiwasraya—kisah dana rakyat yang dipermainkan, nasib pensiunan terkatung-katung di bawah angka-angka fiktif.Gula dan Timah—manis di atas meja para pejabat, tapi pahit di lidah petani, dan berat di pundak generasi penerus bangsa.PGN, CPO, dan lautan minyak Pertamina—api yang menyala bukan lagi harapan, tetapi kerakusan yang membakar, menyulut bara di tubuh negeri.
Lalu ada suara Yusri dari CERI, menuliskan kalimat yang mengguncang hati : “Kasus-kasus ini harus dibongkar, semua pihak yang terlibat harus dipertanggungjawabkan.”
Dan dari Formappi Lucius Karus berdiri, membawa pertanyaan yang menusuk inti : “Mengapa di era Mulyono, korupsi disembunyikan begitu rapat, baru terbongkar di era Prabowo? Apakah hukum kala itu tertidur, atau memang dipasung oleh kekuasaan?”
Korupsi di negeri ini—bukan sekadar perbuatan individu, tapi jaring laba-laba yang mengikat lembaga, dari eksekutif hingga legislatif, dari ruang pengawas hingga ruang pengadil.
Maka rakyat bertanya dengan nada getir : Apakah hukum masih berpihak pada kebenaran? Ataukah hukum kini hanya baju seremonial, dipakai untuk menakuti yang lemah, tapi dilepas saat berhadapan dengan penguasa?
Wahai aparat penegak hukum, jangan biarkan rakyat menunggu jawaban hampa. Sebab sejarah akan mencatat, bukan hanya nama-nama koruptor, tapi juga keberanian—atau ketakutan—dari mereka yang mengaku penjaga keadilan.Kini negeri menanti,apakah jerat hukum akan menimpa para raksasa, atau hanya menjerat tikus-tikus kecil yang lapar di sudut-sudut gelap?
KPK, tunggu apa lagi? Apakah tanganmu telah dipasung, dengan tali yang tak terlihat, tali yang dijalin oligarki, tali yang disiram oleh uang, tali yang membuat hukumhanya tajam ke bawah, tumpul ke atas?Rakyat menunggu. Mereka menunggu dengan napas tertahan, dengan hati yang penuh luka. Di pasar, pedagang kecil bergumam : “Mengapa Mulyono belum ditangkap?” Di kampus, mahasiswa menulis spanduk : “Hukum jangan pilih kasih!” Di desa, petani menatap sawah : “Apakah hasil keringatku harus terus jadi santapan koruptor?”
Bayangan Mulyono membesar, menjadi wajah oligarki yang masif, menjadi pertanyaan sejarah : Apakah republik ini berani jujur? Atau akan menyerah, membiarkan kebenaran terkubur di bawah meja uang sogokan?
KPK, tunggu apa lagi? Rakyat sudah bersuara, para pejabat sudah bersuara, sejarah sudah menuliskan nama itu.Jika engkau diam, maka diam itu bukan lagi netral, tapi bagian dari pengkhianatan.
Dan kelak, ketika buku sejarah dibuka, akan tertulis dengan tinta darah dan air mata : “Mulyono—sebuah nama yang dibiarkan, sebuah korupsi yang dilindungi, sebuah keadilan yang ditunda, hingga rakyat sendiri yang menagihnya, dengan suara, dengan perlawanan, atau dengan revolusi.”
KPK, Kejagung dan Kepolisian, inilah saatnya.
Jangan menunggu dia kabur kenegeri yang tidak ada perjanjian ektradisi.
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.