
Qorun (Bag #5) Dari Decak Kagum ke Gema Peringatan: Transformasi Kesadaran Massa
Oleh : M. Syarif Hidayatullah, S. Ag., M.M.Inov – Sekertaris PDM Kota Batu
Melanjutkan artikel sebelumnya dalam tajuk “Qorun (Bag #4): Gemuruh dari Bawah, Ketika Bumi Menelan Kesombongan“
Dari debu dan puing yang membisu setelah kehancuran Qarun, bangunlah sebuah kesadaran kolektif yang baru. Bagian kelima dari kisah Qarun ini bukan lagi tentang seorang individu, melainkan tentang kita—tentang bagaimana masyarakat berevolusi, belajar dari tragedi, dan menemukan kebenaran abadi di balik reruntuhan kesombongan. Ini adalah babak pencerahan, di mana kekecewaan berubah menjadi hikmah, dan ketakjuban duniawi bermetamorfosis menjadi kearifan spiritual.
Keesokan hari setelah bencana yang menggetarkan itu, suasana telah berubah total. Al-Qur’an mengabadikan transformasi kesadaran massal ini dengan kalimat yang penuh makna:
وَأَصْبَحَ الَّذِينَ تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِالْأَمْسِ يَقُولُونَ وَيْكَأَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ
“Dan jadilah orang-orang yang kemarin mendambakan kedudukan Qarun itu berkata: ‘Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan membatasinya.'” (QS. Al-Qasas: 82).
Perhatikan perubahan dramatis dalam pola pikir mereka! “Tamanawwa makānahū“—mereka yang semula berangan-angan memiliki apa yang Qarun miliki, kini justru menjadi sumber kebijaksanaan baru. Kata “Waka an” yang diucapkan mencerminkan decak kagum yang sama sekali berbeda—bukan lagi kekaguman naif pada kemewahan duniawi, melainkan kekaguman pada kebesaran Allah dan hikmah di balik takdir-Nya.
Ini adalah momen cognitive restructuring secara massal. Mereka mengalami pergeseran paradigma dari fixed mindset (yang melihat kekayaan sebagai bukti kehebatan individu) menuju growth mindset spiritual (yang memahami bahwa rezeki adalah bagian dari rencana Ilahi yang lebih besar). Mereka kini menyadari dua kebenaran mendasar:
1. Allah Yang Melapangkan Rezeki: Kekayaan Qarun bukanlah hasil karyanya sendiri, melainkan karena Allah menghendakinya demikian.
2. Allah Yang Membatasi Rezeki: Keterbatasan rezeki yang mereka alami bukanlah kutukan, melainkan bagian dari kebijaksanaan-Nya.
Kesadaran ini kemudian melahirkan pengakuan yang begitu jujur dan mendalam:
لَوْلَا أَنْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا
“Jika Allah tidak melimpahkan karunia-Nya kepada kita, niscaya Dia telah membenamkan kita (pula).”
Inilah puncak dari spiritual humility. Mereka menyadari bahwa bukan karena mereka lebih baik atau lebih shaleh daripada Qarun, tetapi semata-mata karena karunia dan perlindungan Allah-lah mereka tidak ikut terbenam. Mereka melihat Qarun bukan sebagai “orang lain” yang jahat, tetapi sebagai cermin yang memantulkan kemungkinan kegagalan mereka sendiri. Ini adalah bentuk empathy dan self-reflection yang paling dalam.
Pengakuan ini diakhiri dengan kesimpulan teologis yang menggetarkan:
وَيْكَأَنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ
“Aduhai, benarlah tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah).”
Kata “Kāfirūn” di sini bukan sekadar berarti “orang kafir” dalam artian teologis sempit, tetapi lebih luas: siapa saja yang mengingkari nikmat Allah, baik dengan menyangkalnya, menyombongkannya, atau menyalahgunakannya. Mereka memahami bahwa “keberuntungan” sejati bukanlah terletak pada kelapangan rezeki, tetapi pada kemampuan untuk mensyukurinya.
Dari perspektif psikologi sosial, ini adalah contoh sempurna dari *collective learning* dan *post-traumatic growth*. Sebuah komunitas yang mengalami trauma bersama justru tumbuh menjadi lebih bijaksana, lebih reflektif, dan lebih spiritual. Mereka tidak menyia-nyiakan penderitaan, tetapi mengubahnya menjadi pelajaran.
Renungan untuk kita di zaman media sosial dan budaya viral amatlah dalam: Berapa sering kita “berangan-angan” seperti orang-orang yang memandangi Qarun? Ingin seperti selebgram yang pamer kemewahan, seperti pejabat yang pamer kekuasaan, seperti konglomerat yang pamer harta?
Kisah ini mengajarkan kita untuk melakukan check realitas secara berkala:
– Apakah yang kita kagumi benar-benar membawa keberuntungan?
– Apakah kita bersyukur untuk “keterbatasan” kita yang mungkin justru menyelamatkan kita?
– Sudahkah kita belajar dari kejatuhan orang lain, atau kita harus jatuh sendiri dulu baru belajar
Qarun mungkin sudah tenggelam, tetapi pola pikir Qarun masih ada di sekitar kita—bahkan mungkin dalam diri kita. Transformasi kesadaran massal yang dialami kaum Musa mengajarkan kita bahwa kita bisa belajar dari kehancuran orang lain tanpa harus mengalami kehancuran yang sama.
Wallahu a’lam…
Nantikan kelanjutan tentang pelajaran dari kisah Qorun ini dalam tajuk: Qarun dalam Perspektif Lebih Luas dan Relevansinya di Zaman Modern.
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.