Qorun (bagian #4) Gemuruh dari Bawah, Ketika Bumi Menelan Kesombongan
Oleh : M. Syarif Hidayatullah, S. Ag., M.M.Inov – Sekertaris PDM Kota Batu

Dari puncak kemewahan yang memukau, kita kini tiba pada klimaks yang mengguncang jiwa. Bagian keempat dari kisah Qarun ini adalah sebuah adegan penghakiman Ilahi yang paling dramatis, di mana semua gemerlap harta, semua klaim kepemilikan, dan semua kesombongan manusia ditundukkan oleh satu kekuasaan yang Maha Mutlak. Ini adalah pengingat abadi bahwa di atas segalanya, ada hukum sebab-akibat yang tidak terelakkan—bahwa setiap kesombongan pada akhirnya akan menemui kehancurannya sendiri.
Setelah semua peringatan diabaikan, setelah nasihat ditolak, dan setelah pamer kekuasaan mencapai puncaknya, tibalah saat bagi Keadilan Ilahi untuk berbicara. Al-Qur’an menggambarkan momen yang menghancurkan ini dengan kesederhanaan yang dahsyat:
فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ
“Maka Kami benamkan dia (Qarun) beserta rumahnya ke dalam bumi.” (QS. Al-Qasas: 81)
Kata “khasafnā” (Kami benamkan) membawa makna yang sangat dalam. Ini bukan sekadar tanah longsor atau gempa bumi biasa, melainkan sebuah intervensi langsung dari langit yang membuat bumi—yang biasanya menjadi tempat berpijak yang stabil—berubah menjadi cair dan menelan segala sesuatu di atasnya. Ia tidak hanya ditenggelamkan ke dalam lubang, tetapi ia dibenamkan. Rumahnya, yang merupakan simbol kekayaan, kekuasaan, dan keangkuhannya, ikut ditelan bersama dirinya. Tidak ada yang tersisa. Istana yang megah, perbendaharaan harta yang begitu banyak, dan semua kemewahan yang dibanggakannya—semuanya lenyap dalam sekejap tanpa bekas.
Kekuatan ayat ini terletak pada kesederhanaannya. Tidak ada deskripsi dramatis tentang jeritan atau kepanikan. Hanya satu pernyataan tegas: dia dibenamkan. Ini menunjukkan betapa remehnya kekuatan manusia di hadapan kekuasaan Allah. Apa yang dibangun selama puluhan tahun dengan penuh kesombongan, dihancurkan dalam sekejap.
Kemudian, ayat berikutnya semakin mempertegas kesempurnaan kehancuran ini:
فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ
“Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang akan menolongnya selain Allah, dan dia tidak termasuk orang yang dapat membela diri.” (QS. Al-Qasas: 81).
Inilah kebenaran pahit yang harus dihadapi setiap orang sombong pada akhirnya. Ketika azab datang, tidak ada yang bisa menolong:
– Tidak ada pengawal yang bisa menghalangi bencana
– Tidak ada teman yang berani membela
– Tidak ada kekayaan yang bisa menyuap maut
– Tidak ada ilmu yang bisa mengelabui takdir
Semua sistem pendukung yang dibangun dengan bangga—jaringan kekuasaan, pengaruh politik, dan kekayaan materi—ternyata rapuh sama sekali ketika menghadapi kekuatan Ilahi. Qarun yang begitu perkasa, akhirnya sama sekali tidak mampu membela dirinya sendiri.
Dari perspektif psikologis, kehancuran Qarun adalah contoh sempurna dari divine justice yang bekerja melawan narcissistic collapse. Kesombongan ekstremnya (narcissism) pada akhirnya mengalami kehancuran total (collapse) ketika dihadapkan pada realitas yang tidak bisa dimanipulasi atau dikendalikan. Ini mengajarkan bahwa sifat narsistik dan arogan pada akhirnya akan menemui kehancuran sendiri—baik secara literal seperti Qarun, maupun secara metaforis dalam kehidupan kita.
Renungan untuk kita semua dalam bagian ini begitu dalam: Apa yang sedang kita bangun dalam hidup ini? Apakah kita membangun istana-istana kesombongan yang suatu saat bisa ditelan bumi? Atau kita membangun sesuatu yang lebih abadi—kebaikan, kasih sayang, kerendahan hati, dan iman?
Setiap kali kita merasa memiliki kekuatan, pengaruh, atau kekayaan, ingatlah Qarun. Ingatlah bahwa segala sesuatu yang kita miliki hanyalah pinjaman sementara. Ingatlah bahwa tanpa kerendahan hati dan rasa syukur, segala yang kita bangun bisa runtuh dalam sekejap.
Kisah Qarun mengajarkan kita bahwa kesombongan bukan hanya dosa moral—tetapi juga kesalahan strategis yang berujung pada kehancuran total. Sebelum kita menutup renungan ini, mari bertanya pada diri sendiri: Adakah bagian dari hidup kita yang mulai menyerupai Qarun? Adakah kesombongan yang perlu kita kubur sebelum bumi yang melakukannya untuk kita?
Wallahu a’lam…
Nantikan Bagian selanjutnya akan membahas: Pelajaran Bagi yang Menyaksikan dan Transformasi Kesadaran Massa.
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.