Oktober 10, 2026


(Boleh Bodoh Tapi Jangan Terlalu Tolol)
— Sutoyo Abadi : 07.09.2025

Gambar ilustrasi

Pasca demo mereda seperti pahlawan kesiangan langsung cari kotak hitam (black box) nya. “Siapa dalang, aktor, penggerak kerusuhan”.

Demo tanpa komando terus di goreng sampai kosong bahkan tidak tanggung tanggung bahwa demo demo akan menyerang Presiden Prabowo, hanya karena ada segelintir Ternak Mulyono (Termul) ikutan demo, maka Ternak Prabowo (TerPra) langsung menuding ada gerakan akan memakzulkan Presiden Prabowo.

Aparat kepolisian dalam menghadapi para pendemo, luar biasa represif dengan alasan demo tanpa ijin dianggap liar. Selama ini aksi demo harus diawali surat ijin dengan bahasa cinta (aksi damai dan saling mencintai).

Tidak kalah pusingnya Presiden Prabowo Subianto kesulitan mencari aktor bayangan gerakan demo untuk diajak kompromi, salah asuhan memanggil para Tokoh Agama, Ketum Partai Politik, ini pertemuan untuk apa.

Puncaknya Presiden mengeluarkan perintahnya kepada TNI dan Polri untuk mengatasi demo yang merebak di beberapa daerah dengan cepat dan spontan, salah cara bisa memperparah keadaan

Memang gerakan demo 25 – 30 Agustus 2025 agak unik karena sifat gerakan tanpa komando bahkan tanpa isue tunggal, selain menuntut keadilan atas  biadaban penguasa yang telah dikendalikan kaum kapitalis terus menyerang rakyat dengan macam – macam kebiadaban dan kekerasan.

Penguasa sejak mantan Presiden Jokowi dan dilanjutkan oleh Presiden Prabowo Subianto, perilaku dan  bajakannya masih sama menjajakan kapitalis

Konsekuensi strategis lahirnya “Leaderless movement”  berarti gerakan yang tidak memiliki pemimpin tunggal yang tetap atau terstruktur. Dalam gerakan ini, kepemimpinan muncul secara spontan dari berbagai anggota seiring dengan perkembangan konteks, sehingga memungkinkan seluruh peserta untuk berkontribusi dan memanfaatkan bakat mereka. 

Itu wajar karena masyarakat sudah frustasi tidak ada lagi kanal penguasa yang mau menengar keluhan ceritan penderitaannya.

Gerakan demo spontan rakyat yang merasa sebagai pemilik kekuasaan  sudah tidak lagi memiliki wakilnya di DPR, karena mereka yang mengaku wakil rakyat sudah bisu dan tuli.

Ciri gerakan spontan kemarahan rakyat memang akan bergerak sangat cepat, apinya juga akan meluas seperti hutan kering yang siap di lalap si jago merah.

Aparat keamanan sebagain terpancing bersikap anarkis dengan kekerasan (represi politik) seperti selama ini bergaya hero PKI di era rezim Jokowi, mendapatkan perlawanan rakyat lebih keras. Muncullah pembakaran di sana sini.

Gerakan yang cair membuat fragmentasi sosial alasan sama sama frustasi, sudah secara sosial akan bisa menyatukan gerakan terstruktur sekalipun tanpa komando. Kemunculan bebera gerakan oportunis itu wajar ikut nimbrung memanfaatkan momentum.

Kalau rezim akan tetap melakukan gaya represi politik meredam demo dengan tindakan penindasan, kekangan atau pembatasan yang dilakukan oleh badan negara terhadap warga negara untuk membatasi partisipasi mereka dalam kehidupan politik dan mempertahankan kepentingan kekuasaan, ini sangat berbahaya karena api masih dalam sekam.

Kekuatan bawah tanah kalau sudah sampai pada mosi tidak percaya kepada rezim (pemerintahan), maka tinggal tunggu waktu, siapapun rezimnya yang tidak lagi pro rakyat , mengendalikan dan mengelola negara untuk kesejahteraan rakyat pasti akan tumbang.

Pasca demo mereka penguasa (aparat keamanan) dan aktifis kiri, hentikan bergaya mencari aktor penggerak dan perusuhnya, karena sumbernya kemarahan rakyat adalah Jokowi dan Presiden Prabowo  sendiri yang kebijakannya selama ini masih sama dengan Jokowi mengabaikan kepentingan dan kesejahteraan rakyat mendahulukan dan memuliakan kaum kapitalis.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca