Disampaikan Oleh : Haremen

Di akhir bulan Agustus, api menjilat jalan-jalan kota, massa berhamburan bagaikan ombak tanpa arah, namun terlalu rapi, terlalu serentak, untuk disebut sekadar amarah rakyat yang meledak.
Ada jejak yang tertinggal, bayangan dalang yang menyulam benang kusut, ada suara berbisik: “kekacauan ini bukan kebetulan, ini pesan politik, ini ujian.”
Pertanyaan pun berkelindan di ruang publik: siapa yang menyalakan api? siapa yang mengumpulkan bensin amarah? dan siapa yang duduk menonton dari kejauhan, menikmati setiap percikan bara yang jatuh?
Ucapan Dr. Conny menggema kembali, menyentil nadi kekuasaan: “Prabowo hanya diberi waktu dua tahun.” Kalimat itu, meski bisa disebut analisis pribadi, muncul bagaikan palu yang memecah ruang senyap, menyisakan tanda tanya: apakah ada skenario tifak tertulis? apakah masa jabatan seorang presiden bisa dipagari janji yang tidak kasat mata?
Jika benar, maka aksi akhir Agustus adalah salam peringatan, sebuah sinyal dini, bahwa ada kekuatan yang sanggup menggerakkan ribuan tubuh, mengguncang jalanan kapan saja ia mau.
Di jantung istana, bersemayam “geng Solo” — loyalis yang berdiri di antara dua bayang-bayang, loyalitas ganda yang menusuk dalam diam. Prabowo tahu, istana bukan sekadar rumah pemerintahan, ia bisa jadi medan tarik-menarik kepentingan, arena pertarungan kesetiaan dan pengkhianatan.
Maka pilihan presiden pun sederhana tapi krusial:
Apakah ia mensterilkan lingkar kuasa dari sisa-sisa geng yang masih menggenggam pengaruh, atau ia membiarkan istana menjadi ladang bayang-bayang, tempat setia dan khianat bercampur dalam satu meja makan?
Jika langkah tegas tidak segera ditempuh, maka risiko jelas terbentang: aksi anarkis bisa berulang, lebih besar, lebih buas, lebih terkoordinasi. Kebijakan strategis akan tersandera, legitimasi presiden akan terkikis, dan rakyat akan melihatnya bukan sebagai pemimpin, melainkan bayangan yang rapuh.
Hari-hari genting itu menyisakan luka pada denyut kehidupan. Sekolah ditutup, perkuliahan beralih ke daring, perkantoran sunyi bagaikan kota dalam keadaan darurat. Aura ketakutan menebal, seperti kabut yang menolak pergi dari pagi. Dan rakyat bertanya lirih: apakah ini sekadar protes? atau tanda awal dari badai yang lebih besar?
Teriakan demonstran menuntut: “Kembalikan TNI ke barak!” Suara yang mengguncang memori sejarah, mengingatkan pada bayangan lama ketika militer pernah menjadi mesin kekuasaan.
September pun mendekat. Bulan yang menyimpan darah, bulan yang pernah mencatat tragedi tujuh jenderal, bulan yang tak pernah bisa dilupakan bangsa. Doa pun mengalir: semoga sejarah tak berulang, semoga kebiadaban tak kembali, semoga negeri ini tidak terseret dalam jurang pengkhianatan.
Maka seruan terakhir menggema: Stay safe. Stay tenang. Karena perjuangan belum selesai, karena keutuhan NKRI masih harus dijaga, karena kedaulatan bangsa lebih mahal dari segalanya.
Dan di tengah pusaran ini, Presiden Prabowo harus memilih: apakah ia menjadi pengendali badai atau sekadar layar yang diterpa angin geng Solo.
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.