(Kuota Tambahan Haji Reguler untuk Pangkas Antrean tapi Malah Buat Haji Khusus)
Disampaikan Oleh: Haremen

Di bawah kubah langit Makkah, doa-doa naik tanpa antre, menembus udara panas dan debu gurun, namun di tanah air, jutaan nama tertahan di daftar panjang, menunggu giliran puluhan tahun, sementara tubuh menua, dan harap mulai berderak seperti papan tua di bawah beban hujan.
Pemimpin negeri, datang ke istana Riyadh dengan senyum diplomasi, membawa kabar dari negerinya: “Antrean haji reguler kami terlalu panjang, beri kami kuota tambahan, agar rakyatku tidak menunggu hingga rambut mereka seluruhnya putih.” Arab Saudi membuka pintu, 20 ribu kursi tambahan pun dihamparkan, seperti tikar baru di Masjidil Haram.
Tapi cerita di meja pembagian berubah arah. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2018 jelas berkata: 92 persen untuk reguler, 8 persen untuk khusus. Artinya 18.400 kursi untuk rakyat jelata yang menabung bertahun-tahun, 1.600 untuk mereka yang bisa membayar lebih. Itu hitungan yang tidak butuh malaikat pencatat.
Namun entah di mana, di lorong gorong-gorong mana, di rapat mana, angka itu terbalik. Kursi reguler dikebiri, kursi khusus membengkak, hingga mereka yang antreannya singkat tertawa di balik paspor, sementara wajah-wajah renta menatap kalender, menghitung tahun yang tidak lagi mereka miliki.
KPK pun mengetuk pintu, membawa berkas dan tanda tanya besar: Bagaimana doa bisa jadi dagangan? Bagaimana janji memotong antrean jadi undangan bagi segelintir? Plt Deputi Penindakan, Asep Guntur Rahayu, menggenggam mikrofon dan menyebut ini persoalan keadilan, bukan sekadar pasal dan hukuman.
Di luar gedung merah putih, ada Siti yang sudah 18 tahun menabung dari berjualan nasi uduk, ada Pak Rusman yang sudah mendaftar sejak anaknya lahir, dan kini sang anak sudah punya anak, sementara namanya masih di urutan seratus ribu sekian.
Mereka tidak kenal istilah haji khusus, mereka hanya tahu satu jalan: sabar dan doa. Tapi kesabaran itu kini terasa seperti kunci yang diputar dari luar, mengunci mereka di ruang tunggu yang semakin sempit.
Kisah ini akan bergulir, BPK akan menghitung kerugian negara, tapi siapa yang akan menghitung kerugian hati? Siapa yang akan mengembalikan tahun-tahun yang dicuri dari daftar tunggu? Siapa yang akan memulangkan hak-hak yang terbang, bukan ke langit tempat doa seharusnya sampai, tapi ke saku orang-orang yang sudah punya jalan pintas?
Dan di bawah langit Makkah, doa-doa itu tetap naik. Hanya saja, kali ini ada yang berat—bukan karena dosa, tapi karena ditumpangi rasa kecewa, yang tidak pernah masuk hitungan kuota.
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.