Tetesan Tinta Ida 03925
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh,
Aksi anarkis dan penjarahan yang pecah di akhir Agustus lalu menimbulkan tanda tanya besar. Terlalu terorganisir untuk disebut spontan, terlalu terkoordinasi untuk dikatakan sekadar luapan emosi massa.

Dugaan adanya pendana dan dalang politik di baliknya pun menguat. Pertanyaannya, siapa yang diuntungkan dari kekacauan ini? Di saat yang sama, publik masih terngiang dengan ucapan Dr. Conny terkait pernyataan Rosan loyalis Jokowi : bahwa Presiden Prabowo “hanya diberi waktu dua tahun” oleh Jokowi.Pernyataan itu, walaupun mungkin dianggap analisis pribadi, tetap saja menimbulkan spekulasi bahwa ada skenario pembatasan masa kekuasaan yang tidak tertulis.
Jika benar demikian, maka Aksi akhir Agustus bisa dilihat sebagai sinyal dini : sebuah ujian terhadap stabilitas pemerintahan baru, sekaligus pesan bahwa ada kekuatan yang mampu menggerakkan massa jika diperlukan ( 08 Harus Waspada).
Faktor lain yang tak bisa diabaikan adalah keberadaan “geng Solo” di lingkaran istana. Mereka, loyalis Jokowi yang menempati posisi strategis, berpotensi menjadi faktor pengganggu bila tidak segera diseterilkan.
Prabowo menghadapi dilema : apakah membiarkan mereka tetap berpengaruh, atau melakukan sterilisasi untuk memastikan soliditas pemerintahan.
Jika langkah tegas tidak segera diambil oleh presiden Prabowo maka risikonya jelas. Aksi anarkis bisa berulang dengan skala lebih besar. Kebijakan strategis pemerintahan Prabowo bisa terhambat oleh loyalitas ganda, dan legitimasi presiden bisa terkikis oleh kesan lemah dalam mengendalikan lingkar kekuasaan.
Dalam situasi ini, pilihan Prabowo sederhana namun krusial : Menata ulang istana agar tak menjadi ajang tarik menarik kepentingan, atau membiarkan bayang-bayang keserakahan geng solo terus menghantui dan mengganggu pemerintahannya dimasa datang.
Situasi genting saat ini semakin terasa, aura ketakutan dari rakyat semakin kuat, apalagi sempat beberapa hari kegiatan pendidikan, perkuliahan dan perkantoran di lakukan dengan daring… seperti memberikan signal… “warning..”, dan butuh kehati hatian, hingga harus fokus dalam mengambil sikap dan tindakan, apalagi ada permintaan dari pendemo untuk mengembalikan TNI ke barak.
Bulan September adalah bulan dimana pernah ada suatu tragedi bersarah dari 7 orang Jendral AD yang menjadi korban kebiadaban PKI, semoga ini tidak terulang.
Stay safe serta tenang untuk semua teman- teman dan sahabat, perjuangam masih harus berlanjut, tentunya untuk keutuhan NKRI dan kedaulatan bangsa.
Wassalamualaikum warrohmatullahi wabarokatuh.
Id@ NKusdianti, Sekjend FTA
–Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.