Oktober 9, 2026

Untuk Ekologi dan Ekonomi

Disampaikan Oleh : Toto Izul Fatah (Diirektur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA)

Untuk yang kesekian kalinya, melalui tulisan ini saya ingin kembali mengingatkan negara pada pentingnya dan besarnya manfaat bambu.
Tentunya, penting baik untuk ekologi seperti penanganan pasca kebakaran hutan, ancaman longsor, banjir dan jenis amuk alam lainnya,  maupun untuk ekonomi yang dapat menghasilkan devisa negara.

Saya tidak sedang menghakimi negara yang sama sekali lupa, apalagi awam terhadap manfaat bambu. Tetapi saya justru ingin mengingatkan kembali bahwa negara sudah mulai melirik bambu.

Paling tidak, itulah yang sudah dan sedang digagas Kementerian Lingkungan Hidup melalui program menanam dua miliar pohon bambu. Sebuah program sangat relevan di tengah ancaman berbagai krisis ekologi, baik nasional maupun global.

Menteri Lingkungan Hidup, M. Jumhur Hidayat, melalui ajakan Tobat Ekologisnya sudah ambil bagian menggaungkan program mulia itu. Karena itulah, saya ingin mengingatkan kembali pada negara, bahwa program itu ada dan harus terlaksana.

Ini penting saya ingatkan, karena program besar yang digagas kementerian Lingkungan Hidup itu harusnya mendapat dukungan terbuka dari Presiden Prabowo Subianto.

Dukungan tersebut bisa disampaikan langsung kepada publik, bisa juga dalam bentuk dukungan penguatan dan penambahan anggaran kementerian lingkungan hidup di APBN, yang dalam bacaan saya, masih terlalu kecil dibanding dengan besarnya ancaman ekologi ke depan.

Bayangkan, untuk anggaran kementerian lingkungan tahun 2027, pagu definitif yang disetujui DPR hanya 1,23 Triliun. Dari angka tersebut, terbesarnya untuk dukungan managemen (sekitar 800 an miliar). Sementara, untuk program kualitas lingkungan hidup hanya 314 Miliar dan untuk Ketahanan Bencana dan Perubahan Iklim hanya 80 an miliar.

Menurut saya, ini angka yang sama sekali tidak mencerminkan keseriusan pemerintahan dalam mengatasi ancaman lingkungan hidup ke depan. Apalagi, ada program penanaman bambu nasional dengan dua miliar pohon.

Anggaran yang kecil ini juga menjadi bukti bahwa program penanaman bambu yang digagas Menteri Jumhur Hidayat bukan saja tak mendapat perhatian serius, tapi juga potensial hanya menjadi program yang baik dan indah di atas kertas.

Negara seolah-olah telah lupa bahwa bambu adalah bagian penting dari sejarah, kebudayaan, ekologi, dan masa depan ekonomi Indonesia. Negara tampaknya lupa bahwa bambu memiliki sejarah panjang dalam perjuangan bangsa Indonesia.

Negara lupa, bahwa bambu pernah hadir dalam bentuk yang sangat heroik lewat bambu runcing. Ia menjadi simbol keberanian rakyat menghadapi kekuatan kolonial yang memiliki senjata jauh lebih modern.

Negara juga lupa, bahwa kata bamboo yang digunakan dalam bahasa Inggris memiliki jejak kuat dari bahasa Melayu. Sejumlah kamus etimologi menjelaskan bahwa kata tersebut masuk ke bahasa Inggris melalui bahasa Belanda bamboe, yang akarnya diperkirakan berasal dari rumpun bahasa Melayu.

Namun, fakta bahwa namanya dikenal dunia melalui kosakata yang hidup di kawasan Melayu-Nusantara seharusnya menjadi modal kebudayaan bagi Indonesia. Kita semestinya mampu menjadikan bambu sebagai bagian dari identitas nasional sekaligus merek hijau Indonesia di dunia.

Sayangnya, negara lain justru tampak lebih serius mengembangkan industri bambu, sementara Indonesia masih lebih banyak menjual bambu sebagai kerajinan tradisional berskala kecil. Kita memiliki bahan bakunya, kebudayaannya, jenisnya, dan tenaga kreatifnya, tetapi belum membangun ekosistem industri yang kuat.

Selanjutnya, negara juga lupa, bahwa Indonesia memiliki keragaman bambu yang sangat besar. Publikasi BRIN menyebutkan terdapat lebih dari 160 jenis bambu di Indonesia.

Pertanyaannya, berapa jenis yang telah dibudidayakan secara komersial? Berapa yang sudah dipetakan sifat mekanisnya? Berapa yang dikembangkan menjadi bahan konstruksi, furnitur, tekstil, pangan, obat, kertas, energi, atau komposit berteknologi tinggi?

Jangan-jangan kita baru bangga mempunyai lebih dari 160 jenis bambu, tetapi belum benar-benar memahami dan mengolah kekayaan tersebut.

Kelupaan negara yang paling serius menyangkut manfaat ekologis bambu adalah bahwa ia  tumbuh cepat, menghasilkan biomassa dalam jumlah besar, menyerap karbon, membantu menutup lahan terbuka, serta mempunyai sistem akar dan rimpang yang dapat mengikat tanah.

Karena itu, bambu berpotensi digunakan untuk mengendalikan erosi dan membantu rehabilitasi lahan terdegradasi. Kajian ilmiah juga menempatkan bambu sebagai tanaman potensial untuk rehabilitasi tanah, pengendalian erosi, dan penyimpanan karbon.

Selain itu, bambu juga dapat dipanen jauh lebih cepat dibandingkan banyak jenis kayu. Untuk sejumlah jenis dan kegunaan, pemanenan dapat dimulai sekitar tiga sampai lima tahun setelah penanaman.

Kajian tahun 2026 mencatat bahwa bambu dapat membentuk bahan berkayu dalam empat sampai lima tahun, sedangkan pedoman budidaya tertentu menyebut pemanenan rumpun dapat dimulai setelah tiga tahun.

Meski harus diakui bahwa bambu bisa  mempercepat tahap awal pemulihan lahan, bukan berarti menjadi alasan untuk mengganti hutan alam dengan perkebunan bambu monokultur.

Yang pasti, di tengah kebakaran hutan dan lahan, banjir, longsor, krisis air, serta meluasnya lahan kritis, mengapa negara tidak mempunyai program nasional bambu berskala besar?

Pasca-kebakaran, lahan tidak boleh dibiarkan menjadi ruang spekulasi. Tidak boleh muncul kecurigaan bahwa kebakaran sengaja dibiarkan agar kawasan tersebut kemudian dialihkan menjadi kebun sawit, pertambangan, permukiman, atau kepentingan komersial lainnya.

Pemerintah harus segera mengumumkan status dan rencana pemulihan setiap kawasan yang terbakar. Sebagian lahan yang sesuai dapat ditanami bambu sebagai tanaman pelopor, dikombinasikan dengan pohon-pohon asli setempat.

Pada lahan gambut, kawasan konservasi, dan ekosistem khusus, pemulihannya harus mengikuti ilmu hidrologi dan karakter ekosistem, karena bambu tidak boleh ditanam sembarangan.

Secara ekonomi, kalau berbicara pasar, bambu merupakan komoditas ekonomi masa depan. FAO mencatat nilai ekspor produk bambu dunia mencapai sekitar US$2,9 miliar pada 2018.

Sementara itu, berbagai riset pasar komersial memperkirakan nilai keseluruhan pasar bambu global sekitar US$65–75 miliar pada 2025, bergantung pada definisi produk dan metode penghitungan.

Jepang adalah salah satu pasar penting. Laporan INBAR mencatat impor komoditas bambu Jepang pada 2022 mencapai sekitar US$329 juta, meningkat 7,9 persen, sehingga Jepang menjadi importir terbesar kedua di dunia pada tahun tersebut.

Begitu juga India bukan hanya pasar, tetapi juga produsen dan pengembang industri besar. Salah satu estimasi menilai pasar bambu India sekitar US$11,69 miliar pada 2025.
Sementara pasar Eropa diperkirakan sekitar US$5,86 miliar, didorong oleh kebutuhan bahan konstruksi rendah karbon, furnitur, interior, kemasan, dan produk ramah lingkungan.

Pada akhirnya, masalah kita mungkin bukan kekurangan sumber daya alam. Masalahnya adalah ketidakmampuan melihat apa yang tumbuh di depan mata sebagai sumber keuangan negara.

Pertanyaannya, kenapa negara masih terkesan terus melupakan bambu? Kalau pun ingat, kenapa negara seperti tutup mata terhadap manfaat bambu. Padahal itu, anugrah Tuhan yang sangat besar manfaatnya?

Jakarta, September 2026

#BangkitlahNuswantara

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca