
Disampaikan Oleh : Suherman
Anak-anak muda negeri ini sesungguhnya tidak kalah cerdas dari bangsa mana pun. Di kampus-kampus, di laboratorium, di ruang kelas, di bengkel kerja, hingga di pelosok desa, banyak lahir generasi yang penuh ide, kreativitas, dan semangat untuk membawa perubahan
Potensi untuk maju ada, bahkan sangat besar
Namun sering kali potensi itu seperti perahu yang kehilangan arah karena minimnya teladan. Bukan karena generasi muda tidak mau belajar, melainkan karena mereka kerap menyaksikan kenyataan yang bertolak belakang dengan nilai-nilai yang diajarkan
Mereka diajarkan tentang kejujuran, tetapi melihat kebohongan menjadi hal biasa
Mereka diajarkan tentang pengabdian, tetapi menyaksikan kekuasaan sering digunakan untuk kepentingan pribadi
Mereka diajarkan tentang amanah, tetapi melihat sebagian pemegang amanah justru sibuk memperkaya diri
Di sinilah kegelisahan itu muncul
Negeri ini sebenarnya tidak kekurangan orang pintar. Gelar akademik bertebaran. Pakar dan ahli hadir di berbagai bidang. Orang-orang baik pun masih banyak ditemukan. Namun persoalannya sering kali bukan pada kecerdasan, melainkan pada keberanian untuk tetap jujur ketika kesempatan untuk menyimpang terbuka lebar
Merawat negara tidak cukup dengan pidato yang menggelegar atau janji yang terdengar indah. Negara tidak dibangun oleh kata-kata besar, melainkan oleh perilaku kecil yang dilakukan secara konsisten : jujur dalam jabatan, serius dalam bekerja, serta taat pada hukum dan aturan
Sebab kejujuran adalah fondasi yang tidak bisa digantikan oleh kecerdasan setinggi apa pun.
Ironisnya, di negeri yang menjadikan “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai sila pertama Pancasila, nilai ketuhanan terkadang hanya berhenti pada simbol dan seremonial. Padahal jika seseorang benar-benar merasa diawasi oleh Tuhan, ia akan berpikir berkali-kali sebelum mengkhianati amanah rakyat.
Ketika rasa takut kepada Tuhan memudar, maka rasa malu kepada rakyat pun ikut menghilang.
Yang tersisa hanyalah ambisi, transaksi, dan kepentingan.Lalu rakyat menunggu
Menunggu perubahan, Menunggu keteladanan.
Menunggu hadirnya pemimpin yang mampu menyatukan kata dan perbuatan.Namun sampai kapan?
Apakah kita sedang menunggu Godot, sosok yang dalam karya sastra terkenal itu terus dinanti tetapi tak pernah datang…?
Mungkin jawabannya bukan menunggu, karena perubahan tidak lahir dari penantian yang panjang.
Perubahan lahir ketika setiap orang memilih untuk menjadi bagian dari solusi. Ketika guru mengajar dengan hati, pejabat bekerja dengan integritas, aparat menegakkan hukum dengan adil, dan generasi muda berani menjaga idealismenya
Negeri ini tidak membutuhkan manusia sempurna
Negeri ini membutuhkan lebih banyak orang yang jujur, karena bangsa yang besar tidak runtuh akibat kekurangan orang pintar. Bangsa yang besar runtuh ketika kejujuran kehilangan tempat di dalam kehidupan bernegara
Dan harapan itu masih ada
Selama masih ada anak-anak muda yang berani bermimpi, berpikir kritis, dan menjaga nuraninya tetap hidup, masa depan Indonesia belum pernah benar-benar kehilangan cahaya
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.