Oktober 10, 2026
Gambar ilustrasi

Disampaikan Oleh : Suherman

Anak-anak muda negeri ini sesungguhnya tidak kalah cerdas dari bangsa mana pun. Di kampus-kampus, di laboratorium, di ruang kelas, di bengkel kerja, hingga di pelosok desa, banyak lahir generasi yang penuh ide, kreativitas, dan semangat untuk membawa perubahan

Potensi untuk maju ada, bahkan sangat besar

Namun sering kali potensi itu seperti perahu yang kehilangan arah karena minimnya teladan. Bukan karena generasi muda tidak mau belajar, melainkan karena mereka kerap menyaksikan kenyataan yang bertolak belakang dengan nilai-nilai yang diajarkan

Mereka diajarkan tentang kejujuran, tetapi melihat kebohongan menjadi hal biasa

Mereka diajarkan tentang pengabdian, tetapi menyaksikan kekuasaan sering digunakan untuk kepentingan pribadi

Mereka diajarkan tentang amanah, tetapi melihat sebagian pemegang amanah justru sibuk memperkaya diri

Di sinilah kegelisahan itu muncul

Negeri ini sebenarnya tidak kekurangan orang pintar. Gelar akademik bertebaran. Pakar dan ahli hadir di berbagai bidang. Orang-orang baik pun masih banyak ditemukan. Namun persoalannya sering kali bukan pada kecerdasan, melainkan pada keberanian untuk tetap jujur ketika kesempatan untuk menyimpang terbuka lebar

Merawat negara tidak cukup dengan pidato yang menggelegar atau janji yang terdengar indah. Negara tidak dibangun oleh kata-kata besar, melainkan oleh perilaku kecil yang dilakukan secara konsisten : jujur dalam jabatan, serius dalam bekerja, serta taat pada hukum dan aturan

Sebab kejujuran adalah fondasi yang tidak bisa digantikan oleh kecerdasan setinggi apa pun.

Ironisnya, di negeri yang menjadikan “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai sila pertama Pancasila, nilai ketuhanan terkadang hanya berhenti pada simbol dan seremonial. Padahal jika seseorang benar-benar merasa diawasi oleh Tuhan, ia akan berpikir berkali-kali sebelum mengkhianati amanah rakyat.

Ketika rasa takut kepada Tuhan memudar, maka rasa malu kepada rakyat pun ikut menghilang.

Yang tersisa hanyalah ambisi, transaksi, dan kepentingan.Lalu rakyat menunggu

Menunggu perubahan, Menunggu keteladanan.

Menunggu hadirnya pemimpin yang mampu menyatukan kata dan perbuatan.Namun sampai kapan?

Apakah kita sedang menunggu Godot, sosok yang dalam karya sastra terkenal itu terus dinanti tetapi tak pernah datang…?

Mungkin jawabannya bukan menunggu, karena perubahan tidak lahir dari penantian yang panjang.

Perubahan lahir ketika setiap orang memilih untuk menjadi bagian dari solusi. Ketika guru mengajar dengan hati, pejabat bekerja dengan integritas, aparat menegakkan hukum dengan adil, dan generasi muda berani menjaga idealismenya

Negeri ini tidak membutuhkan manusia sempurna

Negeri ini membutuhkan lebih banyak orang yang jujur, karena bangsa yang besar tidak runtuh akibat kekurangan orang pintar. Bangsa yang besar runtuh ketika kejujuran kehilangan tempat di dalam kehidupan bernegara

Dan harapan itu masih ada

Selama masih ada anak-anak muda yang berani bermimpi, berpikir kritis, dan menjaga nuraninya tetap hidup, masa depan Indonesia belum pernah benar-benar kehilangan cahaya

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca