Oktober 9, 2026

Disampaikan Oleh : Saiful Huda Ems

Dicopot dan ditangkapnya Kepala BGN Dadan Hindayana (Mang Dadan) yang begitu singkat, telah mengejutkan banyak orang. Betapa tidak, hampir semua orang awalnya sangat meyakini, bahwa Mang Dadan merupakan orang kepercayaan Jokowi, yang selama ini nampak diberi kepercayaan penuh oleh Presiden Prabowo Subianto untuk mengurus program MBG. Dan selama mengurus program MBG itu, banyak sekali kebijakan-kebijakan yang anggarannya sangat fantastis diluar nurul (baca: nalar).

Ada anggaran kaos kaki untuk pegawai SPPG yang kalau dihitung per pasangnya seharga Rp. 450 ribu, ada motor listrik yang harga per motornya Rp. 42 juta danya.n lain-lainnya. Netizen selama berbulan-bulan menghujat habis-habisan anggaran untuk MBG yang perharinya menghabiskan dana Rp. 1,2 triliun ini, sedangkan Presiden Prabowo Subianto yang nampak di setiap pidato-pidatonya, malah selalu bangga terhadap program MBG ini.

Publikpun bertanya-tanya dalam hati, “sebegitu kuatkah pengaruh Jokowi terhadap Presiden Prabowo, hingga seorang Kepala BGN, Dadan Hindayana ketika itu nyaris tidak pernah ditegur dengan keras, apalagi diberhentikan? Ataukah memang hal itu sengaja dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto, agar melalui Dadan Hindayana, Presiden Prabowo beserta segenap orang-orang terdekatnya dapat menikmati hasil korupsi yang sangat kasat mata? Sedangkan Dadan Hindayana yang sejatinya merupakan seorang akademisi itu, bersama pejabat-pejabat lainnya di BGN yang mengurus MBG, dimaksudkan hanya sebagai pelaku yang dimunculkan di permukaannya saja, tanpa publik harus tahu siapa-siapa aktor intelektual di belakangnya?”.

Lama sekali publik mendapatkan jawaban atas berbagai pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal di hati dan pikirannya, barulah kemarin Selasa (2/Juni/2026) publik seolah mendapatkan jawabannya: Mang Dadan Hindayana dicopot dari jabatannya sebagai Kepala MBG, dan beberapa jam kemudian Mang Dadan langsung diperiksa dan dibergol oleh Kejaksaan Agung! Selain Mang Dadan ada dua lagi pejabat BGN yang turut dicopot oleh Presiden Prabowo Subianto dan konon sekarang kedua orang tersebut menjadi buronan Kejagung.

Kali ini publik kembali bertanya-tanya dalam pikirannya, “loh…bukankah Mang Dadan itu orang titipan dan kepercayaannya Jokowi? Kenapa Presiden Prabowo Subianto kok berani-beraninya mencopot dan kemudian Kejagung memeriksa lalu membergolnya? Apakah ini pertanda bahwa Prabowo dan Jokowi sudah pecah kongsi, alias sudah mulai bersebrangan? Jika itu yang terjadi apa alasan yang mendasarinya?”.

Begini, sebelum saya kemukakan analisa saya soal itu, ada baiknya saya akan terlebih dahulu menjelaskan riwayat singkat Mang Dadan Hindayana diangkat menjadi Kepala BGN. Mang Dadan Hindayana itu sebelumnya merupakan ahli serangga alumnus S3 Universitas Hannover Jerman. Beliau merupakan dosen di IPB Bogor. Di akhir masa kepemimpinan nasional Jokowi, Mang Dadan diangkat oleh Jokowi menjadi Kepala BGN pada 19 Agustus 2024 dan berlanjut di masa kepemimpinan nasional Prabowo Subianto.

Dengan demikian Mang Dadan merupakan orang kepercayaan Jokowi yang dititipkan pada Presiden Prabowo Subianto, untuk mengurus program yang nilainya sangat fantastis dan diambil dari menjarah anggaran dana pendidikan dan kesehatan itu. Program ini sudah berjalan sejak menjelang akhir kepemimpinan nasional Jokowi dan berlanjut terus menerus hingga hari ini. Jika dana anggaran MBG yang sebegitu besar itu dibuat untuk membangun sekolah, jembatan penyeberangan ataupun rumah sakit, entah sudah berapa ribu sekolah, jembatan penyeberangan dan rumah sakit yang negeri ini miliki.

Lalu kenapa Presiden Prabowo Subianto berani-beraninya mencopot dan menyerahkan Mang Dadan pada Kejaksaan Agung? Itu karena pertama, Prabowo Sudah mulai kebingungan mendengar suara rakyat yang terus menerus gaduh menghujat Mang Dadan dan Prabowo sendiri. Mang Dadan dianggap oleh publik sudah kelewat batas memark up berbagai anggaran MBG, sedangkan Presiden Prabowo sendiri seolah malah bangga dengan semua itu.

Kedua, informasi soal jual beli Dapur MBG sudah berseliweran selama beberapa bulan ini, dan ini mengakibatkan program MBG berjalan tidak semestinya. Rakyatpun banyak yang marah atas hidangan yang disuguhkan oleh MBG pada para penerimanya, ditambah pula banyak siswa yang keracunan atau meninggal dunia karena mengkonsumsi MBG. Berita ini terdengar santer sampai ke luar negeri, yang mengakibatkan para investor malas untuk berinvestasi di Indonesia.

Presiden Prabowopun terpaksa harus memilih, mau mempertahankan Mang Dadan yang di belakangnya ada Jokowi, ataukah “menghabisi” karier Mang Dadan, yang berarti akan segera pecah kongsi dengan Jokowi. Di sini Presiden Prabowo nampak seperti masih ragu dan galau untuk memilih salah satunya. Hingga Mang Dadan selama hampir dua tahun di pemerintahan Prabowo ini masih dipertahankannya sebagai Kepala MBG.

Barulah kemudian di alasan berikutnya (yang ketiga) ini yang terjadi dan ini yang paling menarik untuk dicermati: Jokowi sudah mau mulai keliling daerah untuk kampanye membesarkan PSI diketuai oleh anak bungsunya sendiri, Kaesang Pangarep. Namun di balik agenda itu, sebenarnya ada agenda tersembunyi yang tak pernah diungkapkannya ke publik.

Apa itu? Jokowi mau mempromosikan anaknya, Gibran Rakabuming Raka untuk menjadi Capres 2029 dan bila perlu menjadi Presiden sebelum 2029, yang berarti Jokowi ingin menggulingkan Presiden Prabowo Subianto sebelum berakhir masa jabatannya di periode yang pertama ini. Jokowi bahkan sudah terang-terangan mulai membagi-bagikan amplop berisi uang kepada masyarakat yang ditemuinya. Sebuah ciri khas dari kampanye Jokowi yang tidak pernah bermodal otak namun hanya bermodal uang/bansos!.

Kenyataan itu tentu sangat menyinggung hati Presiden Prabowo Subianto, yang merasa sudah jadi presiden dan dahulu sudah banyak menyupport dana besar ke Jokowi, kok sekarang setelah Prabowo menjadi presiden malah mau digeser oleh anaknya Jokowi. Maka, tanpa pikir panjang lagi Presiden Prabowo Subianto mulai “menghabisi” satu persatu para loyalis Jokowi yang duduk bertengger di kekuasaannya. Mang Dadan sebenarnya bukanlah orang pertama yang “dihabisi” oleh Prabowo, namun masih ada beberapa orang yang sudah dan akan “dihabisinya”.

Semua apa yang saya katakan di atas hanyalah analisa politik saya, yang bisa benar bisa pula salah. Tetapi setahu saya, dari sekian banyak analisa politik saya, mungkin hanya 1 persen yang salah, itupun kadang ada berbagai alasan yang bisa saya kemukakan, misalnya ketika konteksnya saya sedang berkampanye untuk kemenangan calon presiden tertentu di pemilu-pemilu yang telah lewat. Namun sekarang kan kita tidak sedang menghadapi Pemilu/Pilpres bukan? Ini murni analisa politik saya dan tidak ada kepentingan politik yang lain.

Jadi, mari kita tunggu saja kelanjutan Perang Dingin akibat dari pecah kongsinya Prabowo dan Jokowi ini, jika analisa politik saya tersebut benar adanya. Yang jelas ada satu kebenaran yang pasti dan menjadi adagium di dunia hukum: “Tiada kejahatan yang sempurna! (there is no perfect crime!)”. Suatu ketika rakyat akan dikejutkan lagi tentang kejahatan-kejahatan orang-orang yang memperalat Mang Dadan untuk melakukan korupsi, entah itu Prabowo maupun Jokowi dengan genknya! Kita tunggu saja langit mengungkap rahasia-Nya! Wallahu a’lamu bishawab… Sapere aude!

3 Juni 2026.

Saiful Huda Ems (SHE). Lawyer dan Analis Politik, Aktivis ’98

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca