Disampaikan oleh : Haremen

Di negeri yang gemar menghafal hasil, namun sering lupa pada jalan menuju hasil, orang-orang berdebat tentang puncak tanpa pernah menengok siapa yang membangun tangga.
Nama itu kembali disebut, bukan sebagai bayang-bayang, melainkan sebagai tangan lama yang pernah membuka pintu ketika pintu itu masih terkunci rapat.
Jusuf Kalla, lelaki dari timur yang suaranya tidak pernah perlu berteriak untuk didengar sejarah, berdiri membawa kenangan politik yang tidak semua orang ingin akui.
Dan di seberangnya, berdiri nama yang telah menjadi musim panjang republik ini, Jokowi, anak sungai dari Solo yang kemudian mengalir sampai ke istana.
Di antara mereka, ada partai, ada restu, ada ruang tertutup, ada bisik-bisik yang menentukan nasib jutaan suara.
Sebab demokrasi, meski sering dipuja sebagai pesta rakyat, tetaplah dimulai dari ruang sempit tempat segelintir orang memilih siapa yang layak dipilih. Dan dari ruang itulah sejarah kadang lahir bukan dengan tepuk tangan, tetapi dengan keraguan.
Pada suatu waktu ketika Jakarta masih menjadi panggung yang diperebutkan banyak wajah, tahun dua ribu dua belas menyimpan satu percakapan penting.
Nama Jokowi belum sebesar baliho yang kini tersebar di seluruh negeri. Ia masih seorang anak sungai, masih seorang lelaki yang terlihat sederhana, terlihat beragama, ia yang lebih dikenal karena blusukan ke gorong-gorong daripada pidato.
Dan ketika kursi gubernur ibu kota membutuhkan pemain baru, tidak semua orang percaya bahwa Solo bisa melahirkan Jakarta. Bahkan, kata cerita, Megawati Soekarnoputri sempat menggeleng. “Ah, jangan.” Dua kata pendek yang bisa mengubur masa depan atau menunda takdir.
Tetapi politik bukan seni menerima kata pertama. Ia adalah seni datang kembali, mengetuk lagi, meyakinkan ulang, sampai pintu yang keras akhirnya mau terbuka. Dan Jusuf Kalla datang lagi. Membawa satu nama. Membawa satu keyakinan. “Ibu, ini orang baik.” Betapa sederhana kalimat itu, namun kadang sejarah tidak membutuhkan pidato panjang, hanya satu orang yang berani berkata : dia layak dan orang itu adalah Jusuf Kalla.
Dan akhirnya, pintu itu terbuka. Jakarta menerima. Rakyat memilih. Tetapi sebelum rakyat memilih, partai lebih menentukan dan seseorang lebih dulu memilih untuk mempercayai.
Lalu waktu berjalan seperti kereta yang tidak pernah menunggu. Dua tahun berlalu. Kursi gubernur ternyata hanyalah stasiun, bukan tujuan akhir.Istana mulai memanggil. Tahun dua ribu empat belas menjadi musim paling gaduh. Negeri ini penuh spanduk, penuh harapan, penuh ketakutan. Dan sekali lagi, nama anak sungai berdiri di persimpangan besar.
Menjadi presiden bukan perkara popularitas semata. Ada restu yang harus diperoleh. Ada kekhawatiran yang harus dijawab. Ada senioritas yang harus dipertimbangkan. Dan sekali lagi, kata cerita itu kembali : belum ada keputusan.
Menit-menit terakhir. Detik-detik penentuan. Satu hari sebelum batas pendaftaran. Betapa republik ini, kadang ditentukan oleh waktu yang nyaris habis.
Di sana, menurut kesaksian, Jusuf Kalla kembali menjadi poros. Nama Jokowi terus diajukan. Bukan sekali. Bukan dua kali. Tetapi berkali-kali seperti doa yang tidak lelah.Dan syarat itu pun datang : “Baik, asal Pak JK mendampingi.” Karena pemimpin muda sering membutuhkan bahu yang lebih tua. Karena kapal besar tak cukup hanya dengan nahkoda populer, ia juga perlu orang yang tahu arah badai.
Dan akhirnya pasangan itu lahir. Bukan tanpa tarik-ulur. Bukan tanpa keraguan. Tetapi lahir. Dan sejarah kemudian mencatat mereka menang.
Rakyat bersorak. Relawan bergerak. Spanduk kemenangan berkibar di jalan-jalan. Namun sejarah, seperti laut, selalu menyimpan arus bawah yang tidak terlihat dari permukaan.
Tahun-tahun berlalu. Kekuasaan berganti warna tetapi ingatan manusia sering lebih cepat berganti daripada musim. Relawan tumbuh menjadi barisan yang militan.
Nama-nama baru muncul. Istilah-istilah baru lahir. Pendukung menjadi pasukan. Pujian menjadi profesi. Dan suatu hari, Jusuf Kalla berbicara.
Bukan dengan nada meminta penghargaan, tetapi dengan suara yang seperti ingin berkata : jangan hapus sejarah hanya karena kalian sedang menikmati hasilnya.
“Aku yang membawa dia ke Jakarta.” Kalimat itu jatuh seperti batu di tengah kolam politik. Riaknya ke mana-mana. Ada yang tersinggung. Ada yang marah. Ada yang menepis.
Relawan berkata : Presiden dipilih rakyat, bukan karena satu orang. Dan tentu saja itu tidak salah. Tetapi seperti kata yang lebih tua : rakyat memilih siapa yang sudah lebih dulu dipilih oleh partai. Itulah ironi demokrasi—suara terbanyak sering dimulai dari keputusan segelintir orang. Bukan penghinaan pada rakyat, melainkan pengingat tentang bagaimana sistem bekerja.
Bahwa one man, one vote tetap harus melewati gerbang partai. Dan jika gerbang itu tertutup, sebanyak apa pun cinta rakyat tidak akan cukup untuk mencetak nama seseorang di surat suara.
Lalu Ferdinand Hutahaean muncul membawa penegasan. Ia berkata : yang disampaikan Pak JK memang benar adanya.
Bahwa sejarah itu nyata. Bahwa jasa itu ada. Bahwa malu mengakui tidak akan menghapus fakta. Ia menyebut telah mengonfirmasi kepada Hasto Kristiyanto, penjaga arsip politik partai, tentang jalan panjang itu.
Dan jawaban sejarah tetap sama. Ya. Itu benar. Bahwa nama Jokowi pernah dibawa. Bahwa Megawati pernah diyakinkan. Bahwa JK bukan sekadar penonton. Tetapi salah satu penentu.
Dan bukankah politik selalu tentang mereka yang berdiri di belakang layar sementara tepuk tangan diberikan pada yang berada di depan panggung…?
Namun manusia lebih suka pahlawan tunggal. Kita menyukai cerita sederhana: satu orang bangkit, satu orang menang, satu orang menjadi legenda. Padahal kenyataannya kekuasaan selalu kolektif.
Ada tangan yang terlihat, ada tangan yang disembunyikan. Ada suara rakyat, ada restu elite. Ada panggung kampanye, ada ruang rapat yang sunyi.
Dan sejarah yang jujur harus berani mengakui keduanya. Bahwa rakyat memang memilih. Tetapi jalan menuju pilihan itu dibuka oleh banyak tangan. Dan jika satu tangan tua berkata “Aku pernah membuka pintu itu,” maka mungkin yang dibutuhkan bukan kemarahan, melainkan keberanian untuk berkata : ya, kami ingat.
Sebab republik ini terlalu sering kehilangan ingatan. Kita cepat sekali menjadikan orang sekadar batu loncatan, lalu melupakan siapa yang pernah menjadi jembatan.
Padahal sejarah tidak dibangun oleh lupa. Ia dibangun oleh pengakuan. Bukan untuk menyembah masa lalu, tetapi agar masa depan tidak tumbuh di atas kebohongan.
Dan di antara Jokowi, JK, Megawati, partai, relawan, serta rakyat yang terus memilih, ada satu pelajaran sederhana : kekuasaan tidak pernah lahir sendirian. Ia lahir dari pertemuan antara kesempatan dan keberanian, antara restu dan momentum, antara orang yang dipilih dan orang yang memilihnya.
Dan bila hari ini orang-orang bertengkar tentang siapa paling berjasa, mungkin jawabannya bukan satu nama. Melainkan sebuah kalimat panjang : bahwa sejarah selalu ditulis oleh banyak tangan, tetapi hanya sedikit yang mau mengakuinya.
Dan di situlah narasi politik republik ini terus berulang—tentang nama, tentang restu, tentang pintu, dan tentang mereka yang membuka pintu itu, lalu berdiri diam sementara orang lain masuk menjadi legenda.(□U73)
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.