
Kita membangun kota-kota tinggi, menumpuk beton sampai menantang langit, seolah ketinggian adalah ukuran kemajuan
Jalan-jalan dibentangkan, lampu-lampu dinyalakan, teknologi dipuja seperti dewa baru yang tak pernah tidur
Kita menyebutnya peradaban, sebuah kata besar yang terdengar mulia, meski sering kali kosong di dalamnya
Namun di balik gemerlap itu, ada sesuatu yang retak
Peradaban ini diisi oleh manusia yang lupa cara menjadi manusia. Mereka pandai berbicara tentang nilai, tapi gagap saat diminta berlaku jujur
Mereka fasih mengutip etika, tapi kikuk ketika harus berempati
Kata-kata menjadi hiasan, bukan pegangan. Moral menjadi slogan, bukan tindakan
Kita hidup berdampingan, tapi tidak benar-benar bersama
Wajah-wajah saling berpapasan tanpa pernah bertemu. Di ruang yang sama, hati-hati terpisah oleh jarak yang tak terlihat
Orang berlomba untuk terlihat benar, bukan untuk menjadi benar. Dan di tengah riuh itu, nurani sering kali kalah suara
Ironisnya, ketidakadaban kini menemukan tempat yang nyaman. Ia tidak lagi bersembunyi di sudut-sudut gelap, melainkan berjalan di panggung utama. Ia dipoles, diberi alasan, bahkan kadang dirayakan
Yang kasar disebut tegas, yang culas disebut cerdas, yang tak tahu malu dianggap berani
Peradaban ini tidak runtuh oleh kebodohan, melainkan oleh kepintaran yang kehilangan arah
Orang-orang tahu banyak, tapi mengerti sedikit
Mereka bisa menjelaskan segalanya, kecuali bagaimana bersikap adil.
Mereka menguasai dunia, tapi gagal menguasai diri sendiri
Barangkali masalahnya bukan pada zaman, melainkan pada pilihan
Kita memilih untuk tergesa daripada bijak, memilih untuk menang daripada benar, memilih untuk didengar daripada memahami
Dalam pilihan-pilihan kecil itulah, peradaban perlahan berubah menjadi sekadar panggung, tempat semua orang berperan, tapi sedikit yang benar-benar hidup
Dan suatu hari nanti, mungkin kita akan menyadari bahwa peradaban bukan diukur dari apa yang kita bangun, melainkan dari bagaimana kita memperlakukan satu sama lain
Bahwa kemajuan bukan tentang seberapa jauh kita melangkah, tapi seberapa dalam kita tetap berakar pada nilai
Sampai saat itu tiba, peradaban ini akan terus berdiri megah di luar, namun rapuh di dalam, dihuni oleh manusia-manusia yang lupa bahwa menjadi beradab bukan pilihan tambahan, melainkan syarat utama untuk disebut manusia
Disampaikan Oleh : Atma
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.