Oktober 9, 2026
Gambar ilustrasi

Kita membangun kota-kota tinggi, menumpuk beton sampai menantang langit, seolah ketinggian adalah ukuran kemajuan

Jalan-jalan dibentangkan, lampu-lampu dinyalakan, teknologi dipuja seperti dewa baru yang tak pernah tidur

Kita menyebutnya peradaban, sebuah kata besar yang terdengar mulia, meski sering kali kosong di dalamnya

Namun di balik gemerlap itu, ada sesuatu yang retak

Peradaban ini diisi oleh manusia yang lupa cara menjadi manusia. Mereka pandai berbicara tentang nilai, tapi gagap saat diminta berlaku jujur

Mereka fasih mengutip etika, tapi kikuk ketika harus berempati

Kata-kata menjadi hiasan, bukan pegangan. Moral menjadi slogan, bukan tindakan

Kita hidup berdampingan, tapi tidak benar-benar bersama

Wajah-wajah saling berpapasan tanpa pernah bertemu. Di ruang yang sama, hati-hati terpisah oleh jarak yang tak terlihat

Orang berlomba untuk terlihat benar, bukan untuk menjadi benar. Dan di tengah riuh itu, nurani sering kali kalah suara

Ironisnya, ketidakadaban kini menemukan tempat yang nyaman. Ia tidak lagi bersembunyi di sudut-sudut gelap, melainkan berjalan di panggung utama. Ia dipoles, diberi alasan, bahkan kadang dirayakan

Yang kasar disebut tegas, yang culas disebut cerdas, yang tak tahu malu dianggap berani

Peradaban ini tidak runtuh oleh kebodohan, melainkan oleh kepintaran yang kehilangan arah

Orang-orang tahu banyak, tapi mengerti sedikit

Mereka bisa menjelaskan segalanya, kecuali bagaimana bersikap adil.

Mereka menguasai dunia, tapi gagal menguasai diri sendiri

Barangkali masalahnya bukan pada zaman, melainkan pada pilihan

Kita memilih untuk tergesa daripada bijak, memilih untuk menang daripada benar, memilih untuk didengar daripada memahami

Dalam pilihan-pilihan kecil itulah, peradaban perlahan berubah menjadi sekadar panggung, tempat semua orang berperan, tapi sedikit yang benar-benar hidup

Dan suatu hari nanti, mungkin kita akan menyadari bahwa peradaban bukan diukur dari apa yang kita bangun, melainkan dari bagaimana kita memperlakukan satu sama lain

Bahwa kemajuan bukan tentang seberapa jauh kita melangkah, tapi seberapa dalam kita tetap berakar pada nilai

Sampai saat itu tiba, peradaban ini akan terus berdiri megah di luar, namun rapuh di dalam, dihuni oleh manusia-manusia yang lupa bahwa menjadi beradab bukan pilihan tambahan, melainkan syarat utama untuk disebut manusia

Disampaikan Oleh : Atma


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca