Oktober 9, 2026
Gambar ilustrasi

Disampaikan Oleh : Suherman

Di negeri yang gemar berisik ini, politik tidak lagi berjalan ia melompat, tergesa, tersandung kata-katanya sendiri.

Orang-orang menyebutnya gedabrus : keputusan yang jatuh dari langit tanpa sempat berpikir, seperti ember bocor di musim hujan, menumpahkan janji sebelum sempat diisi.

Para pemimpin berdiri di panggung yang rapuh, berpidato dengan suara lantang, seolah gema lebih penting daripada makna. Kata-kata dipoles, disulap jadi mantera; rakyat diminta percaya bahwa retorika adalah kenyataan. Padahal di balik layar, kertas-kertas kebijakan ditulis tergesa, seperti anak sekolah yang menyalin PR lima menit sebelum bel masuk.

Politik gedabrus bukan sekadar kelalaian ia adalah kebiasaan. Ia hidup dalam rapat yang terlalu cepat disimpulkan, dalam proyek yang lebih dulu diresmikan sebelum selesai, dalam janji yang diumumkan sebelum dihitung. Segalanya ingin segera terlihat, segera viral, segera dipuji meski fondasinya belum sempat diletakkan.

Di jalanan, rakyat berjalan pelan. Mereka menghitung receh, menimbang kebutuhan, menahan harapan agar tidak terlalu tinggi. Mereka tahu, setiap keputusan yang dibuat terburu-buru di atas sana akan turun sebagai beban di bawah sini.

Gedabrus di meja rapat berubah jadi antrean panjang, harga yang melonjak, dan wajah-wajah yang makin lelah.Lucunya, setiap kegagalan selalu punya alasan yang rapi. “Situasi mendesak,” kata mereka. “Demi kepentingan bersama,” tambahnya. Seolah-olah ketergesaan adalah kebijaksanaan, dan kesalahan adalah strategi yang belum dipahami. Maka politik terus berlari, tanpa sempat bercermin.

Padahal negeri ini tidak kekurangan waktu yang kurang adalah kesabaran untuk berpikir. Tidak kekurangan suara yang kurang adalah keberanian untuk diam sejenak dan mendengar. Di tengah hiruk-pikuk itu, politik gedabrus menjadi semacam budaya: dirayakan diam-diam, dikritik setengah hati.

Barangkali suatu hari nanti, kita akan belajar bahwa tidak semua hal harus diputuskan hari ini.

Bahwa kebijakan, seperti puisi, butuh jeda agar maknanya tidak hilang di antara kata-kata. Dan ketika hari itu tiba, mungkin politik tidak lagi terdengar seperti benda jatuh yang gaduh, tetapi seperti langkah yang tenang, pasti, dan tahu ke mana ia pergi.

Sampai saat itu, kita hanya bisa berdiri di pinggir panggung, menyaksikan pertunjukan yang terus berulang sebuah sandiwara bernama politik gedabrus, di mana yang paling cepat berbicara sering kali menjadi yang paling lambat berpikir.

07.00/7 April 2026

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca