Oktober 9, 2026
Gambar ilustrasi

Disampaikan Oleh : Suherman

Dunia tidak boleh naif membaca politik global

Sejarah telah berulang kali menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri Amerika Serikat sering kali tidak sekadar soal demokrasi, HAM, atau stabilitas tetapi juga tentang kepentingan strategis, kekuasaan, dan dominasi geopolitik.

Dan yang paling nyata terlihat dalam satu pola :
“pergantian rezim” (regime change). Lihat apa yang terjadi di Irak. Invasi tahun 2003 dilakukan dengan alasan senjata pemusnah massal. Namun klaim itu kemudian tidak terbukti.

Yang terjadi justru jauh lebih tragis :
Presiden Saddam Hussein digulingkan, lebih dari 100.000 warga sipil tewas. Negara terjerumus ke dalam konflik sektarian berkepanjangan.

Alih-alih stabil, Irak justru menjadi contoh bagaimana intervensi bisa menciptakan kekosongan kekuasaan dan kekacauan panjang. Hal yang sama juga terlihat di Libya.

Setelah intervensi Barat yang menjatuhkan Muammar Gaddafi, negara yang dulu relatif stabil berubah menjadi wilayah konflik dengan milisi bersenjata yang saling berebut kekuasaan.

Fenomena ini bahkan diakui dalam banyak analisis global : pergantian rezim sering berujung pada perang saudara, ketidakstabilan dan konflik berkepanjangan.

Kemudian lihat Venezuela. Intervensi dan tekanan terhadap pemerintahan Nicolás Maduro disebut sebagai upaya “perubahan rezim”.

Pemerintah Venezuela sendiri secara terbuka menyebutnya sebagai bentuk agresi dan pelanggaran kedaulatan.

Bahkan dalam perkembangan terbaru, wacana dan tindakan langsung untuk mengganti pemerintahan menunjukkan bahwa pendekatan ini masih menjadi bagian dari alat kebijakan luar negeri AS.

Masalahnya bukan sekadar intervensi. Masalahnya adalah pola yang berulang. Dari Irak, Libya, hingga Venezuela, terdapat kesamaan:

Dalih: demokrasi, keamanan, atau stabilitas
Metode: tekanan, sanksi, hingga intervensi militer
Hasil : sering kali ketidakstabilan jangka panjang
Ini bukan opini kosong.

Sejumlah kajian menunjukkan bahwa praktik “regime change” dalam sejarah modern sering berujung pada otoritarianisme baru, konflik, atau kekacauan sosial.

Karena itu, dunia terutama negara berkembang, harus belajar. Bahwa dalam politik global, tidak semua intervensi datang untuk menyelamatkan.

Tidak semua narasi demokrasi benar-benar murni demokrasi. Dan tidak semua perubahan kekuasaan membawa kebaikan bagi rakyatnya.

Dunia Arab, Asia, Afrika, semuanya harus membaca ini dengan jernih. Kedaulatan sebuah negara tidak boleh dengan mudah ditentukan oleh kekuatan luar.

Karena sekali pintu intervensi dibuka, yang masuk bukan hanya perubahan… tetapi juga ketidakpastian.

Ini bukan berarti membenarkan semua rezim yang ada. Tetapi ini adalah pengingat keras :

Bahwa perubahan sebuah bangsa seharusnya datang dari rakyatnya sendiri,
bukan dipaksakan dari luar dengan kekuatan militer atau tekanan geopolitik.

Karena sejarah sudah cukup jelas menunjukkan :
tidak sedikit negara yang kehilangan pemimpinnya…
tetapi belum tentu mendapatkan masa depan yang lebih baik.

06.43/29 Maret 2026

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca