
Disampaikan Oleh : Ahmad Khozinudin, Sastrawan Politik
“Kami sedang berperang dengan Muslim, mereka adalah musuh kita, baik Sunni maupun Syiah.”
(Pete Hegseth, Menteri Perang Amerika Serikat)
Pada awal Maret 2026, Menteri Pertahanan Amerika atau sering juga disebut ‘Menteri Perang’ Amerika, mengeluarkan pernyataan jujur yang keluar dari mulutnya terkait perang Iran. Dia menyebut, Amerika sedang memerangi Islam, bukan Sunni atau Syiah.
Hegseth menyatakan bahwa AS tidak membedakan antara musuh dari kalangan Sunni maupun Syiah. Menurutnya, selama suatu kelompok memiliki ideologi “Islamis” yang mengancam atau membunuh warga Amerika, mereka dianggap sebagai musuh yang sama.
Permusuhan yang nampak dari mulut Amerika ini luar biasa kebenciannya terhadap umat Islam. Apalagi didalam dadanya, jauh lebih dahsyat. Hal ini, mengingatkan kita pada firman Allah SWT : “…Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi…” (QS. Ali ‘Imran: 118).
Pernyataan terbuka Amerika ini, wajib dijadikan perhatian bagi segenap umat Islam, agar jangan mau dipecah belah dan diadu domba dengan sentimen mahzab, aliran, maupun suku bangsa. Umat Islam, adalah umat yang satu, terlepas beraliran Sunni atau Syiah, terlepas bermazhab Syafi’i, Hanafi, Maliki atau Hambali, terlepas berbangsa Persia, Arab, Turki, Melayu, terlepas dari Indonesia, Malaysia, Iran, Irak, Qatar, Lebanon, Arabia, UEA, Afghanistan, Pakistan, Afrika, dan yang lainnya.Menyikapi sentimen brutal dan rasial, radikal dan anti Islam dari Pete Hegseth, kita dapat memetik hikmah dan pelajaran sebagai berikut :
Pertama, isu Sunni Syiah yang selama ini digembar gemborkan untuk memecahbelah umat Islam, adalah kelanjutan dari strategi pecah belah dan adu domba yang dilancarkan Inggris, saat meruntuhkan institusi Khilafah di Turki melalui agennya Mustafa Kemal Laknatullah dan Lawrence Arabia bersama Bani Saud dan mahzab Wahabi (Abdul Wahab: belakangan bermetamorfosa menjadi Salafi).
Saat itu, Inggris melakukan tiga gerakan sekaligus. Di Turki, melalui Mustafa Kemal Pasha, Inggris memprovokasi Turki agar melepaskan keterikatan dengan Khilafah dan membentuk negara Turki modern berbentuk Republik. Bangsa Turki diprovokasi agar tak perlu mengurusi bangsa Arab dan bangsa lainnya yang menjadi tanggungjawab Kekhilafahan Islam di Turki.
Di Arab, Inggris memprovokasi bangsa Arab untuk melakukan Bughot (pemberontakan), melepaskan diri dari Khilafah Islam yang berpusat di Turki, dan mendirikan negara mandiri, baik berbentuk kerajaan atau bentuk lainnya.
Bani Saud, dibantu Inggris untuk mendirikan Kerajaan Saudi Arabia, memisahkan diri dari kesatuan Khilafah.Mahzab Abdul Wahab (Wahabi) yang minoritas, diprovokasi oleh Inggris bekerja sama dengan Bani Saud, untuk melegitimasi pemberontakan dengan kompensasi akan menjadi mahzab fiqh utama yang berdampingan dengan penguasa. Isu pecah belah Sunni Syiah, termasuk sentimen Mahzab dan kebangsaan, dijadikan sarana oleh Inggris untuk memecahbelah umat Islam dan meruntuhkan persatuan umat Islam melalui penghapusan institusi Khilafah. Puncak pecah belah umat Islam adalah ketika inggris mampu meruntuhkan Khilafah. Saat itu, Lord Curzon mengatakan, “Kita telah mematikan jantung khilafah di Turki,”.
Saat ini, isu pecah belah Sunni Syiah, termasuk sentimen Mahzab dan kebangsaan, dijadikan oleh Amerika selaku negara adidaya yang mengambil alih tampuk kepemimpinan dunia dari Inggris pasca perang dunia 2, sebagai sarana untuk memecah persatuan kaum muslimin sekaligus menghalangi penegakan kembali institusi Khilafah.
Dalam hal ini, kekhawatiran Amerika akan kembalinya Khilafah terbaca dari pernyataan Mantan Presiden Amerika Goerge Bush. Dalam pidatonya pada 6 Oktober 2005 di depan National Endowment for Democracy, Bush memperingatkan bahwa kelompok militan (seperti Al-Qaeda) bertujuan untuk membangun “kekhalifahan Islam radikal yang membentang dari Spanyol hingga Indonesia”.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa siapapun yang ikut memperuncing isu pecah belah Sunni Syiah, termasuk sentimen Mahzab dan kebangsaan, mereka adalah agen Amerika dan Inggris, atau setidaknya Agen penguasa Bani Saud di Saudi Arabia yang dahulu memperoleh kerajaan dengan memberontak kepada Khilafah, atau setidaknya orang yang taklid buta dan buta ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu sejarah, yang lebih memilih memberikan loyalitas kepada Inggris dan Amerika ketimbang persatuan Islam dan kaum Muslimin.
Kedua, pernyataan Menteri Perang Amerika, Hegseth, sangat manipulatif dan fitnah yang keji kepada umat Islam. Mengingat, tak ada satupun umat Islam yang ingin membunuh warga negara Amerika.
Adapun saat kaum muslimin di Iran memerangi dan membunuh tentara Amerika itu karena Amerika bersama Zionis menyerang Iran. Dalam konteks hukum perang, hukum yang berlaku adalah ‘membunuh atau dibunuh’.
Saat Iran menarget sipil Amerika di Kedubes, secara hukum Islam dibenarkan sebagai balasan atas kekejian Amerika dan zionis menarget anak anak sekolah SD di wilayah Iran. Jadi, umat Islam tidak pernah mengajak perang, jika ditantang dan diserang, dihadapi hingga menang atau syahid di jalan Allah SWT.
Hegseth pura-pura bodoh, bahwa serangan Amerika ke Iran juga bukan karena masalah bom nuklir Iran. Akan tetapi, karena ingin menguasai minyak dan gas alam yang melimpah di Iran.Dulu, Irak diserang oleh Amerika dalihnya senjata pemusnah massal. Akan tetapi ketika tidak terbukti, Amerika tidak mau tanggungjawab atas jutaan muslim Irak yang menjadi korban kebiadaban Amerika.
Ketiga, untuk menghadapi kekejian Amerika dan Barat, juga zionis Israel maka umat Islam harus bersatu. Persatuan yang hakiki, adalah ketika umat Islam memiliki kekuasaan Islam yang satu, yakni umat Islam berhasil kembali menegaskan Khilafah.
Karena itu, saat ini umat Islam harus segera menanggalkan sentimen Sunni Syiah, termasuk sentimen Mahzab dan kebangsaan. Umat Islam wajib bersatu, dan menyadari bahwa persatuan adalah asas kesatuan.Umat Islam, wajib menyeru Iran dan Yaman, bukan hanya membela diri dan menolong Palestina, tetapi juga menolong umat Islam dan peradaban manusia. Caranya, dengan menjadi kaum Anshor era kini, memberikan kekuatan yang dimiliki untuk menolong tegaknya Daulah Khilafah Rasyidah yang kedua, sebagaimana telah dikabarkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW.
Adapun seluruh umat Islam se dunia, wajib meninggalkan sentimen Sunni Syiah, termasuk sentimen Mahzab dan kebangsaan, dan berikan dukungan penuh pada perjuangan penegakan Khilafah. InsyaAllah, fajar Khilafah sudah di ufuk, sebentar lagi kaum muslimin akan bersatu dibawah naungan Khilafah yang dipimpin oleh seorang Khalifah. Allahu Akbar !
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.