
Disampaikan Oleh : Suherman
Ya Rasulullah,
Di tengah dunia yang riuh dan penuh kegaduhan ini, namamu tetap menenangkan hati. Shalawat yang terucap lirih menjadi pengikat rindu yang tak pernah benar-benar terbayar. Kami hidup berabad-abad setelah engkau wafat, namun cahaya risalahmu masih menyinari zaman.
Rindu ini bukan sekadar emosi. Ia adalah kesadaran bahwa dunia hari ini begitu jauh dari akhlak yang engkau ajarkan.
Ketika kebencian mudah disebarkan, engkau mengajarkan kelembutan.
Ketika fitnah menjadi senjata, engkau mencontohkan kesabaran.
Ketika kekuasaan diperebutkan dengan ambisi, engkau memimpin dengan amanah.
Engkau adalah rahmat bagi seluruh alam sebagaimana difirmankan Allah dalam Al-Qur’an. Rahmat, bukan ancaman. Kedamaian, bukan permusuhan.
Ya Rasulullah,
kami sering menyebut diri sebagai umatmu, tetapi betapa sulit meneladani akhlakmu. Engkau dihina di Thaif, namun tidak membalas dengan kutukan. Engkau memaafkan saat kemenangan di Makkah, padahal engkau berhak membalas.
Kami mudah tersulut amarah, padahal engkau menahan diri.
Kami mudah merasa benar, padahal engkau selalu rendah hati.
Rindu ini seharusnya tidak berhenti pada shalawat yang diucapkan, tetapi pada perubahan diri yang nyata. Menjadi umatmu berarti:
Jujur dalam perkataan dan tindakan.
Amanah dalam memegang tanggung jawab.
Adil bahkan kepada yang tidak kita sukai.
Lembut tanpa kehilangan ketegasan.
Ya Rasulullah,
jadikan kami umat yang tidak hanya bangga menyebut namamu, tetapi sungguh-sungguh berjalan di atas sunnahmu. Jadikan lisan kami terjaga, hati kami bersih, dan langkah kami selaras dengan tuntunanmu.
Di zaman ketika kebenaran sering dikaburkan, ajarkan kami keberanian seperti keberanianmu.
Di saat kesabaran terasa berat, kuatkan kami sebagaimana engkau menanggung ujian.
Di tengah perpecahan umat, satukan hati kami dalam kasih sayang sebagaimana engkau mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar.
Kami tidak pernah melihat wajahmu, ya Rasulullah.
Namun kami berharap kelak engkau mengenali kami sebagai umatmu.
Bimbinglah kami agar rindu ini tidak sia-sia.
Agar cinta ini tidak hanya menjadi kata,
tetapi menjadi akhlak yang hidup dalam diri kami.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad
Semoga kelak kami dikumpulkan bersamamu, bukan hanya sebagai pengagum, tetapi sebagai pengikut yang setia.
Aamiin Ya Rabbal’alamiin
19.17/19 Februari 2026
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.