
Ilmu pengetahuan bukanlah sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama di atas mana peradaban yang makmur dan adil dapat didirikan. Ketika Allah menetapkan manusia sebagai Khalifah (pemimpin dan pengelola) di muka bumi, Dia tidak menyerahkan tugas tersebut tanpa bekal. Bekal utama itu adalah ilmu. Tugas kita sebagai manusia adalah mengembangkan, mengaplikasikan, dan mewariskan ilmu tersebut untuk membangun peradaban yang sejalan dengan fitrah ilahi.
Pengangkatan Nabi Adam ‘alaihissalam sebagai khalifah di hadapan para malaikat menunjukkan bahwa keunggulan ilmu adalah prasyarat kepemimpinan. Ini bukan sekadar pengetahuan hafalan, melainkan kemampuan untuk memahami esensi, fungsi, dan potensi segala sesuatu di alam semesta. Firman Allah :
“Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, ‘Sebutkan kepada-Ku nama-nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!'” (QS. Al-Baqarah: 31-33):
Para mufasir menjelaskan bahwa Al-Asmā’ (nama-nama) di sini mencakup pengetahuan mendalam tentang fungsi, kegunaan, hukum, dan sifat-sifat segala sesuatu. Inilah yang memungkinkan Adam mengelola bumi, membedakan antara yang baik dan buruk, dan membuat keputusan yang tepat.
Ayat di atas mengajarkan bahwa untuk membangun peradaban, manusia harus memiliki kapasitas kognitif yang unggul—kemampuan untuk menganalisis, mensintesis, dan mengembangkan pengetahuan.
Perintah pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah membaca (Iqra’) dan menulis dengan pena (Al-Qalam). Ini adalah peta jalan ilahi untuk pembangunan peradaban umat akhir zaman. Firman Allah:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan (1)… Yang mengajar (manusia) dengan pena (4), Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya (5).” (QS Al-‘Alaq: 1-5)
“Iqra‘” (Membaca), mencakup membaca wahyu (membaca teks) dan membaca alam semesta (observasi dan penelitian). Inilah esensi ilmu: memahami wahyu sebagai software kehidupan dan memahami alam semesta sebagai hardware tempat kehidupan dijalankan.
“Al-Qalam” (Pena) adalah alat revolusioner yang membebaskan ilmu dari keterbatasan memori lisan. Dengan pena, ilmu dapat didokumentasikan, diarsipkan, dikaji ulang, dan diwariskan melintasi waktu dan batas geografis. Tanpa Al-Qalam, tidak akan ada universitas, buku, atau sistem hukum yang terperinci—semua elemen penting peradaban.
Allah sangat memuliakan pena. Allah bahkan bersumpah demi pena dalam Surah Al-Qalam (ayat 1):
{نٓ وَ الْقَلَمِ وَ مَا يَسْطُرُوْنَ}
(Nūn. Demi pena dan apa yang mereka tulis.).
Sumpah ini meninggikan derajat pena dan segala aktivitas menulis sebagai sesuatu yang sakral.
Sunnah Nabi Muhammad SAW menjadikan ilmu sebagai prioritas yang melampaui kepentingan materi dan sebagai sarana tertinggi untuk mencapai keridaan Allah.
Sabda Rasulullah SAW:
“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Imam Muslim (No. 2699))
Ini menunjukkan bahwa pencarian ilmu adalah bentuk ibadah yang secara langsung mendekatkan manusia kepada kesempurnaan dan tujuan akhir penciptaan.
Hadis lain riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi disebutkan sebagai berikut: “Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham (harta), mereka hanya mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang sempurna.”
Peradaban sejati tidak diukur dari kekayaan materialnya, melainkan dari kedalaman dan keluasan ilmu yang diwariskannya. Ilmu adalah warisan peradaban yang tak ternilai harganya.
Disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim sebagai berikut: “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkannya dalam urusan agama.”
Pemahaman (Tafaqquh) dalam agama adalah bentuk ilmu tertinggi yang menuntun manusia pada perbuatan baik, yang merupakan inti dari peradaban yang beretika.
Ulama salaf dan khalaf (terdahulu dan kemudian) secara konsisten meletakkan ilmu pada posisi tertinggi sebagai nafas yang menghidupkan dan mengarahkan umat.
Imam Ahmad bin Hanbal: “Manusia lebih membutuhkan ilmu daripada makanan dan minuman, karena makanan dan minuman dibutuhkan hanya sekali atau dua kali sehari, sedangkan ilmu dibutuhkan setiap saat.”
Maknanya, ilmu adalah kebutuhan fungsional bagi setiap detik pengambilan keputusan dan perilaku manusia. Tanpa ilmu, manusia tidak dapat menjalankan hidupnya dengan benar.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan bahwa ilmu adalah cahaya yang dengannya manusia dapat membedakan antara Al-Haq (kebenaran) dan Al-Bātil (kebatilan). Peradaban yang rapuh adalah peradaban yang kehilangan cahaya ilmu dan tenggelam dalam kebodohan, sehingga tidak mampu membedakan keadilan dari kezaliman.
Dalam karyanya, Ihya’ Ulumiddin. Al-Ghazali membagi ilmu menjadi ilmu mu’amalah (ilmu dunia untuk peradaban) dan ilmu mukāsyafah (ilmu agama untuk spiritualitas). Keduanya mutlak diperlukan; peradaban tidak akan stabil jika hanya menguasai teknologi (ilmu dunia) tanpa memiliki etika yang dipandu ilmu agama.
Ilmu adalah tiang penyangga yang menghubungkan antara ibadah kepada Allah dan pengelolaan dunia. Peradaban yang dibangun di atas dasar ilmu akan kokoh, beretika, dan berkelanjutan. Tugas kita sebagai khalifah adalah menuntut, mengajarkan, dan mengamalkan ilmu sehingga setiap kemajuan teknologi dan sosial kita tetap berakar pada nilai-nilai ilahi dan memberikan manfaat universal bagi seluruh umat manusia.
Artikel ini ditulis oleh: KH. Wahyudi Sarju Abdirrahim, Lc. M.M, Anggota Majelis Tabligh PWM Jateng dan Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Muflihun Temanggung
===
Pondok Pesantren Modern Al-Muflihun Temanggung fokus pada kaderisasi ulama dengan berpijak pada turas islam (kitab kuning) dan pemikiran Islam kontemporer. No kontak: 081328096425
Silahkan salurkan wakaf dan sedekah Pembaca untuk pembangunan Pondok melalui LazisMu:
No rek: BSI: 7890090073
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.