Rakyat Dipaksa Telan Rumus Ketidakwarasan, Lima Tahun VS Seumur Hidup
Oleh: Nazlira al-Habsy, Pegiat Literasi Rakyat

Ada sebuah keajaiban hitung-hitungan di negeri ini yang tidak akan pernah bisa dijawab oleh guru matematika mana pun, bahkan oleh mereka yang telah mengabdi puluhan tahun hingga rambutnya memutih dimakan kapur tulis.
Rumusnya sederhana namun menyayat hati, “Lima tahun duduk equivalent seumur hidup kenyang.”
Teori formulasi yang ditemukan oleh sekumpulan manusia terpilih yang menyebut diri mereka “Wakil Rakyat” itu bahkan tak mampu dipecahkan otak sejenius Albert Einstein sekalipun.
Masa kerja mereka singkat, hanya satu periode jari tangan, 5 tahun. Yang disebut kerja itu pun adalah duduk di ruang berpendingin udara yang sejuk, di atas kursi empuk yang harganya mungkin setara gaji setahun 10 orang buruh pabrik. Di sanalah mereka duduk rapat, atau terkadang juga terlelap.
Tugas mereka mulia di atas kertas, namun ajaib di rekening. Hanya dengan modal lima tahun “bersuara” (atau diam), negara dengan sukarela mengikatkan diri untuk menanggung hajat mereka sampai liang lahat.
Seolah-olah keringat lima tahun mereka adalah elixir suci yang nilainya tak terhingga. Pensiun seumur hidup untuk kerja seumur jagung. Sebuah warisan feodal yang dibungkus rapi dengan pita demokrasi.
Di sisi lain, lihatlah ke bangunan sekolah yang atapnya bocor itu‼️
Di sana ada seorang guru honorer. Gajinya sering dirapel tiga bulan sekali, nominalnya pun seringkali lebih kecil dari struk satu kali makan siang sang “Wakil Rakyat” tadi.
Ia tidak duduk lima tahun, tapi berdiri dua puluh hingga tiga puluh tahun. Kakinya bengkak menahan lelah, suaranya serak mendidik anak-anak bangsa agar tidak bodoh, agar kelak bisa memilih wakil yang benar.
Apakah ia mendapat pensiun…?
Jangankan pensiun, bermimpi untuk diangkat menjadi pegawai tetap saja seringkali dilarang. Komplain sedikit soal MBG saja bisa dipecat.
Ketika masa baktinya habis dan tubuhnya renta, negara memberinya ucapan terima kasih berupa selembar piagam kertas, lalu membiarkannya mati perlahan dalam kemiskinan.
Tidak ada tunjangan hari tua, tidak ada jaminan kesehatan VIP. Pengabdian mencerdaskan kehidupan bangsa puluhan tahun ternyata harganya jauh lebih murah dibandingkan keahlian mengangkat jari tangan (yang lebih sering dipakai buat ngupil dari pada kunjungan ke dapil) dalam sidang paripurna.
Sungguh sebuah komedi tragis. Kita dicekoki dan dipaksa menelan mentah-mentah “Undang-Undang” yang isinya membuat kaya raya si pembuatnya, membiayai hari tua mereka yang bekerja hanya sekejap, sementara kita membiarkan pahlawan yang membangun fondasi negara ini mengais remah-remah di masa senjanya.
Hati nurani macam apa yang dipakai untuk mengetuk palu aturan itu..⁉️ Bagaimana mungkin kalian bisa menikmati uang pensiun itu dengan tenang, sementara guru yang dulu mengajari kalian mengeja kata “KEADILAN” itu kini sedang bingung mencari uang untuk makan..?
Di negeri ini, “Pengabdian” rupanya diukur bukan dari seberapa besar jasamu pada bangsa dan negara, melainkan seberapa dekat pantat busukmu dengan kursi kekuasaan.
Bajingan kalian semua…‼️‼️
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.