Oktober 10, 2026

Disampaikan Oleh : Sutoyo Abadi : 19.01.2026

Dalam  Sirah Nabawiyah ketika manusia tidak lagi memiliki kemampuan memilih antara yang hak dan batil. Ketika bertemu Dajal akan terkecoh, terjebak masuk dalam tipuannya. Dari tipuan yang akan mencelakakan antara lain ada pilihan : “Yang dilihat manusia sebagai api, sebenarnya air. Sedangkan, apa yang dilihat manusia sebagai air, sebenarnya adalah api” (HR Muslim).

Dajal belum muncul tetapi apakah alam ini sudah diawali dengan munculnya Dajal kecil, manusia bingung membedakan mana hak dan batil.Apakah saya ini sudah terseret buta hati, fakir atau bahkan miskin iman, berkali kali tertipu dengan Dajal kecil tetap tertipu, bahkan ikut larut merekayasa tipuan, tanp sadar sedang tersesat.

Sampai tidak lagi mampu melihat sinyal tipuan seorang mengaku beriman bahkan selalu tampil meyakinkan sebagai perjuangan suci penuh ayat ayat suci, pura-pura lugu dan jujur ternyata penipu.

Seorang ilmuwan merangkap aktor  politikus, pejabat tinggi negara bahkan seorang Presiden tampil dengan kostum kesucian moral, jargon idealisme, dan pidato penuh berapi – api ternyata penipu.

Dipangung bicara lembut tentang nilai-nilai kesadaran etis, kebenaran, perjuangan suci bahkan siap mati demi rakyat ternyata penghianat negara.

Perjuangan idealisme demi kebaikan tegaknya kejujuran, keadilan dan kebenaran, justru menjadi musuh Dajal kecil yang potensinya harus di bunuh dan dibantai demi kehidupan hedonis kaum Iblis kapitalis tanpa gangguan.

Seorang idealisme kadang seperti menangnya orang yang kalah. Seorang idealis sejati harus memilih kalah sekalipun harus hancur dalam perjuangan moral demi menegakkan kemenangan kebenaran dan keadilan.

Seorang idealis sejati sadar bahwa kemenangan bagi idealisme adalah ketika posisi dirinya telalu berada pada nilai kebenaran, apapun resikonya.Upaya mempertahankan idealisme baginya begitu indah dan menawan karena akan menggelandang  terus menerus berziarah pada kemanusiaan, dan nuraninya.

Seorang idealis butuh kesabaran dalam menyusuri tepian – tepian akhir memanusiakan manusia.

Fenomena inilah seperi dikabarkah dalam sirrah Nabawiyah, manusia sudah tenggelam dalam kebathilan, tidak lagi mampu melihat hak dan batil, semua terbawa arusnya Dajal kecil “kehidupa hanya dipertaruhkan dengan tawar menawar transaksi materi”.

Ternyata benar “dunia hanya panggung sandiwara“. Hiruk pikuk manusia berlomba – lomba bermain watak atau bermain peran sekedar mendapatkan remah remah dari Dajal kecil. Hidup hanya merasa setelah itu mati hanya akan sebagai debu, tidak sadar semua akan dipertanggungjawabkan dihadapan Tuhan Yang Maha esa.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca