Oleh: M. Syarif Hidayatullah, S.Ag., M.M.Inov – Sekertaris PDM Kota Batu

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” QS. Al-Isra'[17]:1
Peristiwa Isra’ dan Mi’raj bukan sekadar perjalanan spiritual Nabi Muhammad Saw. yang penuh mukjizat. Ia adalah mahakarya wahyu yang merangkum inti keimanan, membelah tabir realitas, dan menancapkan paku-paku keyakinan dalam hati seorang manusia pilihan, sekaligus menjadi ujian keimanan bagi manusia lainnya.
Dalil utama yang menjadi sandaran peristiwa agung ini adalah firman Allah Swt.: “Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’: 1). Kemudian, hadis-hadis shahih yang diriwayatkan dalam kitab-kitab seperti Shahih al-Bukhari dan Muslim merinci tahap demi tahap perjalanan mi’raj menempuh langit hingga ke Sidratul Muntaha.
Para ulama menyoroti bahwa perjalanan ini terjadi dengan jasad dan ruh Nabi. Imam An-Nawawi, dalam syarah Shahih Muslim, menegaskan bahwa mayoritas ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpendapat Isra’ dan Mi’raj terjadi dalam keadaan sadar, dengan jasad dan ruh, bukan hanya mimpi. Ini adalah mukjizat hakiki yang mengatasi hukum alam (kauniyah) karena sang Pencipta alam yang mempersembahkannya.
Filosofi yang terkandung begitu dalam
Pertama, ia adalah penegasan kenabian dan penghiburan ilahi. Peristiwa ini terjadi setelah tahun kesedihan (‘am al-huzn), di mana Nabi ditinggal wafat oleh paman dan istri tercintanya, Khadijah. Allah menghibur dan mengangkat derajat Nabi dengan sebuah perjalanan agung, menunjukkan bahwa di balik kesulitan dunia, ada kemuliaan di sisi-Nya.
Kedua, ia adalah pelajaran tentang hakikat shalat. Ketika Nabi diberi wahyu untuk melaksanakan lima puluh waktu shalat, dan atas nasihat Nabi Musa a.s., beliau kembali memohon kringanan hingga menjadi lima waktu, kita diajarkan bahwa nilai lima waktu itu setara dengan lima puluh di sisi Allah. Shalat adalah hadiah langsung dari Allah, mi’raj-nya seorang mukmin, titik temu antara hamba dan Rabbnya.
Ketiga, perjalanan ini adalah peta kosmologi iman. Nabi diperlihatkan berbagai keadaan manusia: ada yang bercocok tanam dan segera panen lalu menanam lagi, simbol orang yang berjihad dengan harta dan jiwa; ada yang memikul kayu berat yang tak sanggup diangkat, simbol orang yang memikul amanah namun tak menjalankannya; hingga pemandangan surga dan neraka. Semua ini adalah gambaran bahwa setiap perbuatan di dunia ini memiliki konsekuensi abadi di akhirat.
Keempat, konfirmasi tentang kekuasaan mutlak Allah. Isra’ dan Mi’raj adalah bukti bahwa Allah Maha Kuasa atas ruang dan waktu. Jarak dan dimensi adalah makhluk-Nya, dan Dia mampu memperjalankan hamba-Nya melampauinya dalam sekejap.
Namun, di balik kemukjizatannya, beberapa subhat atau keraguan sering dilontarkan.
Pertama, masalah logika dan sains. Bagaimana mungkin manusia melakukan perjalanan sejauh itu dengan kendaraan secepat apa pun pada masa itu? Jawabannya, ini adalah mukjizat yang bersifat supra-rasional, bukan irasional. Ia berada di luar kemampuan nalar manusia karena memang dimaksudkan untuk menunjukkan kekuasaan yang melampaui nalar.
Kedua, kontradiksi dengan ayat lain. Ada yang bertanya, bagaimana mungkin Nabi melihat Allah di Mi’raj padahal Allah berfirman “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata” (QS. Al-An’am: 103)? Inilah titik yang memerlukan perenungan mendalam. Hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Dzar al-Ghifari menjadi kunci utama. Ketika Abu Dzar bertanya langsung kepada Nabi, “Apakah engkau melihat Tuhanmu?” Nabi menjawab, “Aku melihat cahaya.” Jawaban ini sangat dalam dan menjadi dasar pemahaman para ulama. Nabi tidak mengatakan “Aku melihat Dzat-Nya dengan mata kepalaku,” tetapi “Aku melihat cahaya.”
Imam Al-Qurthubi dan ulama lainnya menjelaskan bahwa yang dilihat Nabi adalah cahaya keagungan-Nya, bukan Dzat Allah sendiri. Ini adalah penglihatan dengan ‘ain al-bashirah (mata hati atau penglihatan batin) yang diberikan Allah sebagai mukjizat khusus pada malam Mi’raj. Penglihatan dengan bashirah ini melampaui penglihatan mata biasa (‘ain), ia adalah penglihatan hakiki yang memancarkan keyakinan (yaqin) tanpa meniscayakan bentuk, arah, atau jarak bagi Dzat Allah yang Maha Suci dari semua itu. Jadi, tidak ada kontradiksi. Ayat Al-An’am menegaskan ketidakmampuan penglihatan mata jasmani mencapai-Nya, sementara penglihatan Nabi di Mi’raj adalah karunia khusus dengan hakikat penglihatan yang lain sama sekali, yang hanya dapat digambarkan sebagai “cahaya” yang menyilaukan segala pemahaman manusia.
Ketiga, isu politik tentang Yerusalem (Masjidil Aqsha). Sebagian meragukan keberadaan Masjidil Aqsha pada saat itu. Ulama sejarah menjelaskan bahwa Masjidil Aqsha dalam konteks ayat adalah wilayah yang diberkahi di sekitar Baitul Maqdis, yang sejak zaman Nabi Ibrahim dan Sulaiman sudah menjadi tempat suci. Isra’ ke sana juga memiliki pesan spiritual bahwa Islam adalah kelanjutan dan penyempurna agama-agama samawi sebelumnya.
Maka, dari puncak perjalanan yang tak tertandingi ini, kita diajak untuk merenung: Jika Nabi telah dipertemukan langsung dengan Sang Khaliq untuk menerima kewajiban shalat, betapa berharganya shalat itu? Ia bukan ritual rutin, tetapi sambungan langsung dari peristiwa agung yang melampaui bintang-bintang. Isra’ dan Mi’raj mengajak kita untuk tidak terkungkung oleh dimensi fisik semata. Ada realitas lain yang lebih hakiki, yang hanya bisa dijangkau dengan keimanan, ketakwaan, dan ketaatan. Penglihatan ‘cahaya’ Nabi dengan bashirah-nya itu adalah metafora tertinggi: bahwa mendekat kepada Allah bukanlah mendekat secara fisik, tetapi mendekat dalam cahaya iman, cahaya taqwa, dan cahaya ma’rifah.
Setiap kali kita menegakkan shalat dengan khusyuk, sejatinya kita sedang melakukan mi’raj kecil, mengangkat hati dan pikiran melampaui kesibukan dunia, menuju hadirat-Nya. Peristiwa ini adalah pengingat bahwa di saat jiwa terasa sempit oleh beban dunia, ada jalan keluar yang diberikan Allah: sebuah perjalanan spiritual (mi’raj) melalui shalat, zikir, dan mendekatkan diri kepada-Nya. Sebab, batasan yang sesungguhnya bukanlah langit atau Sidratul Muntaha, tetapi sejauh mana hati kita berani melakukan ‘mi’raj’ meninggalkan keduniawian, untuk ‘melihat’ cahaya ilahi—meski sekelumit—dalam setiap keheningan sujud kita. Wallahu a’lam… (MSH)
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.