
Di negeri ini, kebodohan bukan kecelakaan. Ia seperti tanaman. Disiram setiap hari, dipupuk, dijaga agar tetap tumbuh subur. Kebodohan bukan musibah ia investasi. Investasi bagi mereka yang butuh rakyat tetap tidak paham, supaya kekuasaan bisa berjalan tanpa gangguan.
Bagaimana cara merawat kebodohan? Mudah.
Pertama: urus pendidikan sekadarnya. Biarkan sekolah menghafal, bukan berpikir. Biarkan kurikulum berubah secepat mood pejabat. Biarkan guru sibuk administrasi, bukan mendidik. Hasilnya: generasi boleh sekolah 12 tahun, tapi tidak belajar 12 menit pun tentang bagaimana menjadi warga negara.
Kedua: penuhi ruang publik dengan kebisingan. Gosip selebriti lebih penting daripada data ekonomi. Drama politik lebih laku daripada teori politik. Publik diajak marah, takut, senang, berisik tapi jangan sampai kritis. Boleh gaduh, asal tidak sadar.
Ketiga: latih masyarakat mencintai simbol daripada substansi. Biarkan debat kusir tentang bendera, slogan, jargon, dan fanatisme kelompok berlangsung tiap hari. Jangan pernah bicara tentang kesenjangan, korupsi kebijakan, atau pengawasan anggaran itu terlalu bahaya.
Dan keempat: jadikan pertanyaan sebagai dosa sosial. Orang yang bertanya dianggap pembangkang. Orang yang kritis dicap pemberontak. Orang yang membaca dianggap aneh. Maka pelan-pelan, masyarakat belajar bahwa berpikir itu risiko, dan patuh itu aman.
Beginilah cara merawat kebodohan: bukan membuat rakyat tidak sekolah, tapi membuat rakyat tidak sadar. Bukan menutup mulut mereka, tapi menutup pikiran mereka. Bukan melarang berbicara, tapi mengalihkan pembicaraan.
Pada akhirnya, inilah sistem yang berjalan mulus: rakyat sibuk bertahan hidup; penguasa sibuk memperpanjang hidup kekuasaannya. Dan selama rakyat tidak berpikir tentang struktur yang menindas mereka struktur itu akan tetap berdiri kokoh.

Kebodohan adalah penjara paling mahal. Yang dirantai bukan tubuh, tetapi kesadaran. Dan selama penjaranya dijaga rapi, siapakah yang ingin pintunya dibuka?
Karena dalam politik hari ini, yang paling ditakuti bukan rakyat yang berteriak tapi rakyat yang berpikir kritis dan memahami. Makanya tidak heran apabila di desa atau di dusun ada orang yang berpikir kritis dan berani menyampaikan pemahaman politik hak warga pada layanan pemerintahan jangan berharap di undang hadir di rapat dan musyawarah desa.
Ternyata, ‘kebenaran’ itu sendiri adalah kata paling kasar di kamus para penguasa! Lebih kasar dari umpatan! Lebih jorok dari fitnah! Kebenaran itu seperti alergi bagi mereka, begitu ada warga yang berani bicara kritis dan mengoreksi kebijakan langsung masuk daftar “bakteri yang harus di hindari” dan kehadirannya di Rapat Desa di anggap hanya akan bikin gaduh.
Menjadi kritis bukan berarti anti pada aturan atau otoritas. Justru, berpikir kritis membantu kita menjaga agar kekuasaan tidak disalahgunakan dan keputusan tidak diambil tanpa alasan rasional. Orang kritis menghormati otoritas yang transparan, bukan yang hanya menuntut patuh tanpa logika.
Berpikir kritis bukan tentang melawan, tapi tentang membangun kepercayaan yang berakar pada kesadaran.
Wallahu a’lam bishawab.(Gyo/RedSIM-LAMTENG)
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.