Oktober 9, 2026

Toleransi adalah membiarkan, bukan ikut-ikutan.

Mereka merayakan Natal, biarkan saja. Jangan diganggu. Tak perlu ikut merayakan.

Mereka merayakan Nyepi, biarkan saja. Jangan diganggu. Hormati mereka dengan cara jangan berisik, jangan bikin keramaian. Dan tak perlu ikut merayakan.

Itulah toleransi yang sebenarnya.

Jika anda ikut merayakan ibadah agama lain, itu bukan toleransi. Itu TOLOLRANSI.

Jika anda shalat atau shalawatan di rumah ibadah agama lain, itu bukan toleransi. Itu TOLOLRANSI.

Sebab saudara-saudara kita yang merayakan Natal, mereka sebenarnya tidak pernah mempermasalahkan jika kita tidak mengucapkan selamat Natal.

Selama kita membiarkan mereka menjalankan ibadah agamanya dengan tenang dan dalam tanpa gangguan apapun, bagi mereka itu sudah sangat cukup.

Kenapa umat Islam dilarang mengucapkan selamat Natal?

Karena itu sama saja dengan mengakui bahwa Yesus adalah tuhan, Natal itu dogma gereja yang “mengakidahi” 25 Desember sebagai hari lahirnya Tuhan Yesus, meskipun tidak ada data sejarah yang menguatkan hal itu. Padahal ajaran Islam meyakini bahwa Yesus atau Isa Al-Masih adalah nabi. Ini soal aqidah, dan aqidah merupakan hal yang sangat penting, bisa menentukan nasibmu di akhirat kelak.

“Lho…, itu kan hanya ucapan!”

Jangan sepelekan ucapan. Sebab kalimat “Saya terima nikahnya…” pun hanya ucapan, tapi itu adalah ucapan yang bisa mengubah status perbuatanmu dari haram menjadi halal.(Gyo-SIM/Lamteng)


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca