Asal Bangsa Jangan Rusak, titik.

Di sampaikan oleh : Aendra
Di zaman ketika segalanya diukur dengan angka—likes, views, kurs, dan peringkat—kita sering lupa bahwa tidak semua yang bernilai bisa dihitung. Ada tiada, dalam banyak hal, memang menyakitkan. Kehilangan pekerjaan, kesempatan, atau kenyamanan hidup bukan perkara sepele. Namun sejarah mengajarkan satu hal penting : bangsa yang hancur bukan selalu karena kekurangan, melainkan karena kehilangan arah dan nilai.
Bangsa ini tidak lahir dari kelimpahan. Ia lahir dari keterbatasan yang dipeluk dengan keyakinan. Dari perut yang lapar, dari senjata yang tak seimbang, dan dari doa-doa panjang yang dipanjatkan dalam sunyi. Karena itu, ketika hari ini kita berkata “kita kaya”, maknanya seharusnya tidak berhenti pada sumber daya alam atau bonus demografi. Kita kaya karena pernah sepakat bahwa kemerdekaan, persatuan, dan martabat manusia lebih mahal dari sekadar kepentingan sesaat. Lihat lagi Pancasila 5 sila yang sangat kuat
Namun persilangan zaman tidak pernah ramah. Kita hidup di titik temu antara iman dan ambisi, antara kepentingan pribadi dan tanggung jawab kebangsaan. Media sosial mempercepat segalanya : kemarahan, penghakiman, dan polarisasi. Dalam iklim seperti ini, bangsa bisa rusak bukan karena diserang dari luar, tetapi karena kita terlalu sibuk saling meniadakan dari dalam. Yang berbeda dianggap ancaman, yang tak sejalan dicap musuh.
Di sinilah pentingnya kesadaran religius dalam arti yang paling substantif : iman yang melahirkan etika, bukan sekadar simbol. Agama mengajarkan amanah—bahwa kekuasaan, suara, dan pengaruh bukan hak mutlak, melainkan titipan. Merusak bangsa demi keuntungan pribadi, apa pun dalihnya, adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah itu.
Kita boleh kalah dalam banyak hal duniawi, tetapi kita tidak boleh kalah dalam menjaga nilai. Nilai hakiki dalam hidup yang beradab
Para penghianat selalu ada atau tiada tak mengapa bukan berarti apatis atau pasrah. Ia adalah sikap dewasa untuk membedakan mana yang prinsip dan mana yang bisa dikompromikan.
Kita bisa berdebat keras soal kebijakan, pilihan politik, atau arah pembangunan. Tetapi ketika perdebatan itu mulai merusak persatuan, mengoyak kepercayaan, dan menghilangkan rasa saling menghormati, di situlah bangsa mulai kehilangan fondasinya.
Persilangan harus dilewati. Tidak ada bangsa yang tumbuh tanpa konflik, tanpa luka, tanpa kesalahan. Yang membedakan adalah keberanian untuk belajar dan memperbaiki. Kita sering ingin gerbang masa depan terbuka lebar, tetapi enggan melewati jalan sempit bernama kejujuran, kesabaran, dan tanggung jawab. Padahal masa depan yang lebih baik tidak datang sebagai hadiah, melainkan sebagai hasil dari pilihan-pilihan sulit hari ini.
Generasi hari ini memikul beban yang berbeda dari generasi sebelumnya. Kita tidak lagi berperang melawan penjajah bersenjata, tetapi melawan disinformasi, keserakahan, dan kelelahan moral. Patriotisme pun harus dimaknai ulang. Ia bukan sekadar slogan atau seremoni, melainkan keberanian untuk tidak ikut merusak. Untuk tidak menyebarkan kebencian. Untuk tetap adil meski bisa curang. Untuk tetap jujur meski kebohongan lebih menguntungkan.
Religiusitas dan patriotisme seharusnya tidak dipertentangkan. Keduanya bertemu dalam satu titik : tanggung jawab. Tanggung jawab kepada Allah, kepada sesama, dan kepada generasi yang belum lahir. Negeri ini bukan milik kita sepenuhnya. Ia adalah pinjaman sejarah. Dan setiap pinjaman akan dimintai pertanggungjawaban. Jangan menumpuk pinjaman.
Mungkin kita tidak selalu bisa memastikan hidup kita akan lebih mudah. Mungkin ada tiada yang harus kita relakan. Tetapi satu hal yang harus kita perjuangkan bersama : jangan sampai bangsa ini rusak oleh tangan kita sendiri.
Jika hari ini kita mampu menjaga nilai, merawat perbedaan, dan melewati persilangan dengan nurani, maka gerbang masa depan akan terbuka—bukan hanya lebih maju, tetapi juga lebih bermartabat.
Dan di sanalah, kelak, kita bisa berkata dengan tenang : kita pernah memilih yang benar, meski tidak selalu yang mudah. Dan akhirnya kita harus sampaikan bahwa bangsa ini jangan dikhianati apalagi dirusak oleh yang rakus dan serakah, Tabik.
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.