
Oleh : Bambang Oeban
Di negeri yang berpeta hati disebut Sumatera, kini bumi mengerang seperti ibu tua menahan sakit agar anaknya tak panik, terbalut putus asa, diharap tenang.
Gunung batuk abu, luap sungai, air deras membawa rahasia hulu, tanah retak menagih doa, rumah-rumah berlutut lebih rendah dari batas kesabaran, pasrah
Rakyat hidup prihatin, bukan metafora, tapi realitayang berderap lemah pelan, mengantre di dapur umum, menggigil di tenda plastik yang berisik bila hujan dan panas matahari saat bertugas
Anak-anak belajar mengeja kata “kehilangan” lebih dulu daripada “kemerdekaan”. Ibu-ibu menanak nasi dengan air mata sebagai bumbu yang tak tercantum di resep negara. Ayah-ayah menghitung hari bukan dengan kalender, tapi dengan logistik.
Namun di atas sana, di gedung ber-AC yang dinginnya lebih abadi dari empati, para pemimpin berdiri tegak dengan harga diri setinggi seribu menara.
“Kami mampu,” kata mereka, dengan suara berat seperti dentum palu sidang. “Kami menolak bantuan asing.” Bukan karena bantuan itu beracun, bukan pula karena niatnya busuk, melainkan karena satu katayang disetrika rapi : kedaulatan.
Ah, kedaulatan. Kata sakti yang sering dipakai seperti jas kebesaran di acara resmi, namun lupa digantungkan saat hujan bencana turun tanpa undangan. Rakyat bertanya pelan, agar tak dianggap kurang ajar : “Apakah kedaulatan bisa mengganti selimut?” “Apakah harga diri bisa diminum bersama obat?” “Apakah penolakan bisa mengenyangkan balita?”
Pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah masuk notulan rapat. Terlalu sederhana daripada meja yang terlalu mahal.
NEGARA GAGAH DI CERMIN
Pemimpin kita gagah. Gagah di podium, gagah di spanduk, gagah di pidato yang dipoles retorika, berkilau disorot lampu. Ia berkata, “Bangsa besar tidak mengemis!”
Padahal yang mengemis bukan bangsa, melainkan perut anak-anak yang belum sempat belajar apa itu nasionalisme. Ia berkata, “Kami berdiri di kaki sendiri!” Padahal kaki itu masih berbalut sepatu impor, melangkah di karpet asing, dan berfoto dengan kamera produk luar negeri.
Ironi ini lucu, bila tak terlalu menyakitkan. Negara seperti lelaki tua yang menolak tongkat demi terlihat perkasa, lalu jatuh dan berkatapada tanah : “Ini latihan.” Padahal, urusan sakit di tepi jurangkematian…
MARTABAT DAN KEMANUSIAAN
Mari bicaca apa adanya,tanpa pengeras suara. Menolak bantuan asingTuhan bilang “bukan dosa.” Menerima bukan cacat2 aib, yang menjadi soal adalah waktu dan kondisi, tanpa kompromi. Saat rakyat terluka, apakah martabat negara lebih penting daripada nyawa manusia? Bukankah kemerdekaanlahir dari solidaritas? Bukankah sejarah mencatat bahwa bangsa ini pernah menerima uluran tangan tanpa kehilangan jati diri?
Kemanusiaan tidak punya paspor. Air mata tidak perlu visa. Dan empati, tidak pernah mengancam kedaulatan. Yang mengancam justru keangkuhan menyamar selaku nasionalisme.
DIALOG DUA SISI
Rakyat : “Pak, hujan deras, tenda bocor.”
Pemimpin:“Sabar, ini ujian nasional.”
Rakyat : “Pak, obat menipis.”
Pemimpin : “Kita mandiri, jangan bergantung.”
Rakyat : “Pak, bantuan dari luar negeri datang.”
Pemimpin (tersenyum bijak) : “Kita tolak, demi harga diri.”
Harga diri mengangguk puas, sementara perut rakyat berbunyi lebih keras dari pidato kenegaraan.
NEGERI BELAJAR DEWASA
Wahai negeri, kedewasaan tak berarti menolak semua pertolongan. Kedewasaan adalah tahu kapan berkata tidak dan kapan berkata terima kasih.
Harga diri sejati bukan terletak pada penolakan, melainkan pada kemampuan melindungi yang paling lemah. Bangsa besar bukan yang paling keras suaranya, melainkan yang paling cepat mengulurkan tangan kepada warganya sendiri dan bila perlu, tak malu menerima bantuan demi keselamatan bersama.
EVALUASI
Nasionalisme bukan lomba adu dada, bukan otot yang dipamerkan di cermin geopolitik. Nasionalisme adalahkerja sunyi : logistik tepat waktu, data akurat, koordinasi jujur dan keputusan yang berpihak pada korban, bukan aksi pencitraan. Menolak bantuan asing tanpa kesiapan penuh adalah seperti menutup payung sambil berkata, “Aku tahan hujan demi prinsip.” Prinsip macam apa yang basahnya hanya dirasakan rakyat?
BELAJAR MERUNDUK
Tidak ada negara yang runtuh karena berkata terima kasih. Banyak negara runtuh karena menolak belajar dan terlalu mencintai bayangan sendiri. Rendah hati bukan tanda lemah. Ia tanda cerdas. Pemimpin yang besar bukan yang tak pernah dibantu, melainkan yang paham bahwakekuasaan …bukan miliknya, melainkan titipan untuk melindungi kehidupan.
Puisi pamflet ini tak menunjuk hidung, tak mengangkat palu hakim. Solusinya sederhana, pelaksanaan butuh keberanian :
- Utamakan nyawa, bukan narasi. Dalam darurat, kemanusiaan harus berdiri di depan protokol.
- Transparansi kepada rakyat. Jelaskan alasan, kapasitas, dan batas kemampuan tanpa jargon berlebihan.
- Kolaborasi, bukan kompetisi. Bantuan asing bisa diawasi, diarahkan, dan disinergikan tanpa kehilangan kedaulatan;
- Evaluasi nasionalisme simbolik. Ganti dengan nasionalisme kerja nyata Karena pada akhirnya, negeri ini bukan milik harga diri segelintir elit, melainkan milik tangis yang ingin reda, luka yang ingin sembuh dan harapan yang masih percaya bahwa pemimpin mendengar dari bawah, bukan hanya dari atas podium
- Dan bila suatu harisejarah bertanya …“Di mana negara saat Sumatera terluka?” semoga jawabannya bukan : “Sedang menjaga gengsi,” melainkan : “Sedang menyelamatkan keberlangsungan hidup bangsa di tanah kini, tengah terluka.”
Dari Timur Bekasi, Kamis, 18 Des 202518.05
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.