Oktober 10, 2026

— Sutoyo Abadi : 19.12.2025

Kebanggaan sebagai singa Asia tiba – berubah menjadi kucing piaraan oligark. Digadang sebagai patriot sejati disertai harapan besar masyarakat tiba tiba berubah menjadi paranoid.

Orasi di atas podium “saya pembela rakyat tiap mati bersama rakyat“, ketika rakyat mati terbawa arus banjir bandang, hanya tingak tinguk menjauh dari bahaya kematikan.

Dengan penuh prasangka, tidak juga menetapkan banjir bandang sebagai Bencana Nasional, menghalangi bantuan kemanusiaan dari negara di dunia yang peduli atas rencana yang mengerikan.

Ketika semua sudah terbuka sebab banjir karena kerusakan alam di hulu akibat perampokan dan deforestasi penebangan hutan yang luar biasa sadis dan ganasnya, tidak secepatnya mengganti para menterinya yang terlibat penggundulan hutan bahkan diajak ke istana untuk pidato membela diri.

Rakyat yang masih hidup dan kehilangan semuanya, menangis dengan mengibarkan bendera putih, artinya agar negara segera hadir menolongnya, malah sibuk menebar isue penuh kecurigaan prasangka.

Tidak pernah tahu dan belajar beberapa negara bertindak cepat membantu tsunami di Aceh saat itu. Sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan wajib memikul tanggungjawab segera dan secepatnya mengatasi penderitaan rakyat, presiden justru sibuk dengan imajinernya yang tidak jelas arahnya.

Setan darimana,  belajar dengan siapa dalam kondisi darurat bencana, setiap empati dicurigai, setiap solidaritas dituduh agenda, setiap kepedulian dianggap ancaman politik. Inilah wajah kekuasaan yang gagal membedakan antara empati dan konspirasi.

Yang tertimpa bencana sampai kehabisan air mata, menyerah dan akhirnya mati kelaparan. Bahkan sangat memilukan, tragis dan menyedihkan Jenazahnya sampai membusuk tidak diketahui dan tidak ada tenaga untuk segera mengurus pemakamannya

Kita yang menyaksikan sesek nafasnya malah diseret ke politik, rencana dijadikan medan perang narasi membela diri. Penderitaan dan kesedihan dipaksa masuk dalam citra dan pencitraan.

Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa dirinya siap mati demi bangsa dan rakyat Indonesia. Kepala Negara juga menyatakan tidak ragu untuk membela kepentingan masyarakat Indonesia (dalam sambutannya di Pembukaan Kongres XVIII Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) di Surabaya, Jawa Timur, Senin (10/2/2025).

Ribuan rakyat tak berdosa (korban banjir) telah mati diterjang gelombang banjir, sesuai janjinya sudah tiba saatnya presiden tidak ragu harus mati bersama mereka. Presiden akan tamat di jemput oleh arwah menagih jajinya mati bersama mereka.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca