Oktober 9, 2026
Tangkapan layar toktok Gugun

Gelar Perkara Khusus hanyalah Permainan Ilusi Transparansi

Catatan Dokter Tifa

Jokowi  berjanji akan menunjukkan ijazah ke pengadilan.

Ternyata dia, melalui Polda, menunjukkan ijazahnya di gelar perkara khusus.

Ditunjukkannya ijazah itu, yang  hanya berlangsung kurang dari 10 menit. Dan berbagi adu kepala dengan puluhan orang yang hadir. Tidak ada proses observasi,  penelitian,  pengkajian yang memadai dengan waktu sependek itu. Apalagi kami dilarang menyentuh, memegang,  meraba, dan menguji selembar kertas yang disebut ijazah tersebut.

Itulah permainan manipulasi otak.

Saya meminta ijazah ditunjukkan di saat awal gelar perkara. Tetapi dipenuhi di saat terakhir, setelah 6 jam diskusi yang sangat melelahkan. Dilakukan hampir tengah malam. Ketika otak sudah lelah berpikir.

Masyarakat harus paham dan tidak boleh terjebak dalam ilusi transparansi yang sedang dimainkan ini.

Sebab,
Ini bukan soal asli dan tidaknya ijazahnya tersebut.
Pembuktian  keaslian ijazah bagi RRT sudah selesai. Sudah kami tuntaskan secara science-based.

Ini adalah  perang konsistensi.
RRT tetap konsisten dengan hasil penelitiannya.
Jokowi tetap konsisten dengan kebohongannya.

Dia lupa, ijazah bukan dokumen tunggal yang berdiri sendiri. Ada transkrip nilai yang amburadul, skripsi yang muncul tahun 2108, KKN yang terjadi dua kali, kartu  Registrasi masuk ke prodi Sarjana Muda dan bukan prodi Sarjana, dan  700++  dokumen yang disita Polda dari UGM.

Untuk saya, dr Tifa, semua bahan itu adalah tanda  kegiatan penelitian kami akan  terus berlanjut.


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca