
Sunyi yang Memekakkan: Kasus Kriminalisasi Ira Puspadewi
Catatan Agus M. Maksum
Ada kalanya sebuah berita tidak terdengar. Ia hanya bergeser pelan, seperti daun yang jatuh di halaman, tanpa suara, tanpa gegap. Namun ada berita lain yang sunyinya justru memekakkan — karena ia menyimpan sesuatu yang lebih dari apa yang dituliskan.
Kasus Ira Puspadewi adalah salah satunya.
Ia tidak datang dengan keributan. Tidak ada sirene OTT. Tidak ada uang kertas yang digelar di meja konferensi pers. Tidak ada foto seseorang diseret keluar gedung. Kasus ini datang dengan cara yang lebih halus — lebih berbahaya: ia muncul dari sebuah kerisauan, yang kemudian tumbuh, dan lalu menelan seseorang yang bekerja terlalu baik.
Di negeri yang pernah saya kenal, kebaikan sering menjadi wilayah paling sunyi. Dan justru di ruang sunyi itulah seseorang bisa disalahkan.
Saya membaca kasus Ira dalam diam. Dari berita, dari dokumen, dari laporan yang tercecer, dari pendapat orang-orang yang mengenalnya. Semakin saya telusuri, semakin saya merasa sedang berjalan di lorong yang memanjang, yang akhirnya mengarah ke satu kata yang berat: kriminalisasi.
Bukan karena saya ingin mencarinya.
Tetapi karena ia berdiri di sana, menunggu untuk ditemukan.
Ada hal-hal kecil yang justru berbicara paling lantang.
Ira duduk di kelas ekonomi.
Sejak dulu.
Ia tidak menginap di hotel mahal.
Sejak dulu.
Ia bekerja dalam level korporasi internasional.
Lalu pulang, ketika negara memintanya.
Ia memimpin ASDP, BUMN yang keras dan cenderung maskulin, lalu membuatnya naik laba. Menaikkan operasi. Menutup ruang-ruang gelap calo. Menata ulang kapal-kapal di pelabuhan. Mengambil keputusan yang pada saat itu dianggap strategis: akuisisi Jembatan Nusantara.
Dan sesudah itu?
ASDP untung.
Narasi ini sederhana — terlalu sederhana untuk menjadi salah.
Tapi pada suatu titik, kesederhanaan itu berubah menjadi masalah.
Kapital yang seharusnya dihitung sebagai aset tiba-tiba dipandang sebagai “besi tua”.
Izin operasi kapal, yang langka karena moratorium, dinilai seolah tak ada nilainya.
Keputusan bisnis dimaknai sebagai tindakan jahat.
Seperti seseorang menatap matahari dan mengatakan bahwa itu cuma lampu yang redup.
Ada hakim ketua yang menolak untuk percaya itu.
Suaranya terpisah — dissenting opinion — suara kecil yang mencoba berdiri sendiri dalam sunyi yang luas. Ia menyebut bahwa tindakan Ira benar. Bahwa ini aksi korporasi. Bahwa tidak ada mens rea. Bahwa negara tidak dirugikan.
Tetapi suara kecil itu kalah.
Di negeri ini, yang minoritas sering dianggap salah sejak awal.
Saya bertanya pelan:
Jika sebuah keputusan bisnis yang menghasilkan keuntungan bisa berujung penjara, apa yang tersisa bagi para profesional negeri ini?
Keberanian?
Atau hanya kehati-hatian yang mati-matian menjaga diri?
Dan jika kapal yang terus berlayar disebut bangkai, siapa yang sebenarnya sedang kehilangan arah?
Sebagian orang berkata, negara ini kekurangan inovasi.
Tapi bagaimana inovasi itu lahir ketika setiap risiko dijerat pasal, dan setiap niat baik dihadapkan pada pengadilan?
Ada yang bilang BUMN perlu lebih profesional.
Tapi bagaimana profesionalisme bertahan jika setiap langkah maju dipanggil sebagai kesalahan?
Inilah ironi itu:
Negeri yang ingin berlari, tetapi memenjarakan kaki-kaki yang mencoba bergerak.
Saya tidak mengenal Ira secara pribadi.
Tetapi saya mengenal baik suaminya, Bang Zaim.
Saya tahu rumah yang mereka jaga: rumah kesederhanaan, pengabdian, dan integritas.
Rumah yang tidak akrab dengan gelap, kata Manusia Merdeka Said Didu.
Dan saya percaya, seperti semua orang yang menyaksikan dari jauh, bahwa apa yang menimpa Ira bukan hanya persoalan hukum, tetapi persoalan cara kita membaca kebenaran.
Mungkin ini bukan tentang Ira semata.
Ini tentang kita semua — tentang negeri yang sedang diuji kesadarannya.
Tentang bagaimana kita melihat orang bekerja.
Tentang bagaimana kita memperlakukan keberanian.
Tentang bagaimana kita menilai risiko dalam ruang yang seharusnya diisi akal sehat.
Dalam tradisi panjang catatan pinggir, saya hanya ingin mengajukan satu pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban cepat:
Apa jadinya sebuah bangsa ketika orang-orang terbaiknya justru diseret karena kerja yang terlalu baik?
Sunyi yang memekakkan itu masih bergema.
Mungkin karena kebenaran belum mendapatkan tempat untuk duduk.
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.