Oktober 9, 2026
Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM) dalam sambutannya di Milad Muhammadiyah ke 113 di UMB – Bandung

Semut Ibrahim Mediatama| Grabag – Pertama kali penulis mendengar kata milangkala ini dari Gubernur Jawa Barat, pak Dedi Mulyadi ketika memberi sambutan milad Muhammadiyah ke 113 di kota Bandung 18 Nopember 2025 lalu, ketika penulis membuka kamus elektronik, disana dijelaskan, milangkala merupakan istilah Sunda yang berarti peringatan ulang tahun atau hari jadi untuk sebuah desa, kabupaten, atau bahkan provinsi.

Milangkala terdiri menjadi dua kata yakni “milang” yang berarti menghitung dan “kala” yang  bermakna waktu, atau secara harfiah berarti menghitung waktu “yang telah dilalui”. 

Jika kemudian, bila sebuah desa mengadakan acara milangkala, maka warga beserta para pamong desa akan merayakannya sekaligus menginstropeksi diri, menghitung-hitung perjalanan desanya, jika desa itu ayem dan tentram, kian nyaman dan warganya rukun, maka aneka kesuksesan itu perlu dijaga bersama, tapi jika ditemukan kekurangan-kekurangan maka musti dicari jalan keluarnya demi keberlangsungan desa yang lebih baik.

Namun jika itu sebuah kota yang permasalahannya tak sesederhana desa, akan merayakan ulang tahunnya, seyogyanya mengambil langkah milangkala, kota itu perlu mengkalkulasi dengan tepat, demokratisasi dan permusyawaratan warga musti dijalankan, regulasi dipresisikan, supremasi hukum ditegakkan. Maka jika sebuah kota sedang berulang tahun bukan sebatas festival-festival saja yang diperankan, namun sekali lagi upaya milangkala juga musti dilakukan. Sejauh mana kenyamanan kotanya dari tahun ke tahun, bagaimana kebersihan dan tata kotanya warsa demi warsa, apakah bergrafik turun atau beranjak naik, bagaimana pula kondisi ekonomi warganya apakah kian sejahtera atau makin menurun.

Seperti yang kita ketahui, kota sebagai sebuah tempat aktivitas yang dinamis dan cepat, baik itu budaya, politik dan ekonomi, didukung dengan heterogenitasnya dan sarat daya saingnya, tentu saja memunculkan berbagai persoalan yang tak sedikit bahkan rumit. seperti yang kita lihat akhir-akhir ini bagaimana problem sosial yang terjadi silih berganti disana.

Mengenai hal ini, penulis jadi teringat dengan impian sebuah kota dari seorang penulis bernama bapak Haidar Bagir dalam mukadimah bukunya yang berjudul “Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia” dalam mimpinya tentang sebuah kota idaman, beliau menuliskannya dengan begitu indah;

“Saya bermimpi, melihat planet ini sebagai kumpulan tempat tinggal untuk manusia, bukan tempat tinggal kecerdasan-kecerdasan buatan yang betapa pun pintarnya tak akan pernah punya kelembutan etika dan keluhuran cita estetika seperti manusia biasa. Kota-kota yang tidak dibangun seperti Gotham City dalam kisah Batman, ketika manusia manusia sudah kehilangan kemanusiaannya. Pencakar langit di mana mana, jalan-jalan raya bertingkat tingkat, dihiasi bangunan-bangunan raksasa yang konon berarsitektur masa depan, tetapi telah kehilangan keindahan alaminya: menekan, dingin, kelam, dan “mati”.

Saya bermimpi kota-kota dikembangkan untuk manusia-manusia biasa, keluarga-keluarga yang hangat, rukun-rukun tetangga yang akrab, yang mengembang secara organik sesuai dengan kebutuhan hidup yang sebenarnya sederhana-sederhana saja. Yang rumah rumahnya berdiri oleh dorongan untuk berkumpul hangat dengan keluarga, dengan tetangga, dengan siapa saja. Yang di dalamnya, kita bisa terus memelihara kemanusiaan kita, dari ancaman segala yang serbabesar, serbabanyak, serbatinggi, serbacepat, tetapi justru menekannya. Serba batu, serbabesi, serbaraksasa. Menekan kemanusiaan yang sesungguhnya menyimpan kedahsyatan tak tepermanai, jauh mengatasi semua itu. Manusia yang lebih besar dari hidup, yang dunianya tak dibatasi oleh ruang tiga dimensi dan waktu yang memecah-mecah. Manusia yang sanggup menerobos dunia rendah, terbang tinggi ke dunia keluhuran khayal yang real, ke dunia ruhani tanpa batas, ke dalam keberlimpahan sempurna yang tak terperikan.

Saya bermimpi hidup di kota-kota kecil, tempat semua manusia adalah keluarga manusia yang lain. Di mana kehijauan dan keasrian alam mendapatkan tempat sebanyak-banyaknya. Di mana kecepatan, ketinggian, dan kebesaran tidak disembah seperti dewa. Saya bermimpi kedai-kedai hangat dan bersahaja lebih disukai ketimbang mal-mal atau emporium-emporium besar. Sesak, dan bising, yang dikerumuni orang bukan karena hendak menghilangkan rasa lapar yang biasa, rasa letih yang manusia, atau memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang secukupnya, melainkan karena kepanikan melawan kesepian kehidupan.

Ya, saya bermimpi kota-kota, dan desa-desa, yang ruang publiknya terserak di mana-mana. Ada gedung-gedung kesenian yang tak harus besar tapi aksesnya mudah dicapai siapa saja, ada galeri-galeri mungil, museum-museum yang ramah, perpustakaan-perpustakaan yang berlimpah, dan ada pusat-pusat hiburan yang sopan dan ramah keluarga.“

Wal akhiran. Bukan hanya desa dan kota.  Lembaga, ormas, partai, departemen, dan keluarga kecil kita mungkin perlu dirayakan ulang tahunnya tentunya perayaan dengan muatan-muatan milangkala.

Sudahkah rentang waktu yang berjalan itu kita isi hal-hal yang lebih bernilai untuk kemanusiaan?, sudahkah perjalanan panjang masa ini digunakan untuk lebih meninggikan mutu hidup?. Mungkin ini pertanyaan penting untuk diri penulis sendiri dan juga untuk para pembaca yang budiman.

Wallahu a’lam bishowab.

Oleh : Wildan Sulaiman, Pemerhati Sosial Masyarakat dan Ketua Majelis Tabligh PCM Grabag – Jawa Tengah.


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca