Oktober 9, 2026

Oleh Prihandoyo Kuswanto Ketua Pusat Studi Kajian Rumah Panca Sila

PENDAHULUAN

Tulisan ini untuk memberikan pencerahan pada kita semua agar tidak terjebak pada hitam putih para pemimpin dan agitasi para penolak pemberian Gelar kepada Jendral Besar Soeharto.

Dengan pemberian Gelar Pahlawan Kepada Jendral Besar Soeharto PDIP dan GUSDURIAN mulai melakukan agitasi menolak pemberian gelar pada Soeharto dengan tuduhaan pelanggaran HAM berat, untuk memberikan keseimbangan dan kesetaraan dalam berargumentasi kita harus seimbang dan jangan juga melihat Bung Karno dengan satu sisi tetapi juga ada sisi gelap yang harus menjadi timbangan.

Tujuan utama tulisan ini adalah agar adik adik GenZ tidak gampang terjebak dan termakan oleh agitasi politikus PDIP yang selalu berfikir negative bila perlu bangsa ini disesatkan tidak lagi berfikir tentang ajaran Soekarno tetapi melakukan pecah bela nada dendam kesumat Megawati dan tokoh tokoh PDIP bisa kita rasakan.

Agar cakrawala kita bisa adil dalam melihat hitam putih nya para pemimpin perlu melihat secara jernih dan bisa memila Bung Karno pun jika kita bongkar sejarah juga banyak mengorbankan rakyat nya ribuan yang dikorbankan.

Apa Megawati pernah dengaan jujur melihat semua ini hingga ngotot menolak gelar Pahlawan Soeharto. Tetapi yang lebih tragis justru Megawati yang menghancurkan ajaran Soekarno dengan mengamandemen UUD 1945 dan Mengganti Pancasila dengan Demokrasi Liberal.

Akibat yang dilakukan ini menurut penelitian Prof Kaelan amandemen UUD 1945 telah membubarkan negara proklamasin 17 Agustus 1945. Itu sama arti nya Gelar Proklamator tercabut apa Megawati dan PDIP sadar apa Yang telah dilakukan

KEKEJAMAN ROMUSA MATI NYA 90 RIBU RAKYAT INDONESIA

Sukarno mengakui bahwa dia yang mengirim para romusa berlayar menuju kematian. Namun menurutnya, langkah itu ditempuh demi kemaslahatan yang lebih besar.

Jika Soeharto dituduh represif pada jaman itu yang masuk akal sebab negara yang dia terima ini negara hancur dengan inflasi 600%. Kemudian Soeharto menjalankan konsep Tri Logi pembangunan untuk menyelamatkan negara nya agar bisa berjalan butuh ketegasan dan menghindari pertarungan politik yang tidak perlu yang justru tidak bermanfaat untuk kemaslamatan bangsa dan negara.

Lebih kejam mana dengan Romusa yang menelan korban 90.000 rakyat Indonesia. Ketika ditanya soal romusa, seperti ditulis dalam autobiografinya Sukarno : An Autobiography, As told to Cindy Adams (1965: 193), Sukarno menjawab bahwa ada dua cara yang bisa ditempuh dalam menghadapi Jepang, yakni melawan seperti pemberontakan PETA atau bekerja sama.

Sukarno diminta Dai Nippon mengirim rakyat Indonesia sebagai romusa, sebuah kerja paksa ekstrem yang dikomandoi militer Jepang selama Perang Dunia II, khususnya di wilayah Asia-Pasifik. Menanggapi permintaan ngeri itu, Sukarno justru setuju dan mendukung penuh pengiriman romusa, baik di dalam maupun luar negeri.

“Tujuan usaha ini adalah untuk menunjukkan kepada Jepang bahwa penduduk Jawa telah siap sehidup semati dengan Dai Nippon. Kita berjanji tidak akan bercukur selama pengabdian sebagai romusha, sebagai tanda bukti kepada negara,” komentarnya, dikutip dari Aiko Kurasawa, Kuasa Jepang di Jawa (2015).

Belakangan, di media sosial berseliweran komentar yang merusak Sukarno. Alasannya, lantaran ia dianggap “menjual” rakyat Indonesia kepada Jepang. Ia dicap sebagai mandor romusa yang jauh dari konotasi positif.

Bahkan terdapat cuplikan video berwarna di Youtube yang menampilkan parade barisan romusa yang dipimpin Sukarno hendak membangun jalur kereta api Saketi-Bayah, Banten Selatan. Di sampingnya berjalan Mohammad Hatta, dan Adam Malik di depan. Mereka memakai topi jerami dengan pita terkebat di lengan (pertanda nomor rombongan), serta memanggul tas khas romusa.

Parade barisan romusa terlihat begitu semarak. Spanduk-spanduk dibentangkan dengan slogan yang mendukung Dai Nippon. Diiringi musik latar “Mars Barisan Pekerja”, jalan-jalan di Tokubetsu Shi (kini Jakarta) dipenuhi manusia. Mereka menonton dari pinggir jalan, bertepuk riuh mengawal parade menuju kamp romusa di Bayah yang dibuat dari anyaman bambu dan beratapkan rumbia.

Sukarno naik ke atas gundukan pasir, lantas menghadap ke muka barisan romusa dan berpidato “Jikalau saudara ingat akan hebatnya pengorbanan yang dikerjakan oleh prajurit-prajurit Dai Nippon dan prajurit Indonesia di medan peperangan, dan ingat akan hebatnya pengorbanan romusa biasa, maka saudara-saudara tidak akan memandang berat akan pekerjaan ini,” pekik Sukarno di hadapan massa.

Sementara rakyat yang didaftarkan dan dikirim sebagai romusa yang asli mesti menggantung nasib dan peluh di atas derita. Mayoritas romusa yang dikirim ke Burma (Myanmar) meregang nyawa. Sementara itu, jumlah korban romusa dalam pembangunan rel kereta api Saketi-Bayah diperkirakan mencapai 93.000 jiwa.

DERITA PARA ROMUSA

Di masa pendudukan Jepang, batu bara Bayah akhirnya dilirik. Mereka melakukan eksploitasi batu bara di kawasan ini agar tidak bergantung pada pasokan batu bara dari Sumatra dan Kalimantan yang rentan diserang oleh Sekutu.

Untuk mendukung transportasi pengangkutan batu bara dari Bayah, Jepang membangun jalur kereta api sepanjang 89 km. Jalur ini mengambil percabangan di Stasiun Saketi yang berada di jalur Rangkasbitung-Saketi-Menes-Labuan. Jalur ini dibuka oleh Belanda pada 1906 dan ditutup oleh perusahaan kereta api negara sekitar tahun 1984.

Dalam buku Sejarah Perkeretaapian Indonesia Jilid 1 (1997) disebutkan, pembangunan jalur kereta api lintas Saketi-Bayah dilakukan dengan menggunakan rel-rel hasil bongkaran dari jalur peninggalan Belanda yang ada di Pulau Jawa.

Jalur yang mulai dioperasikan pada bulan April 1944 ini antara lain melewati Stasiun Cimanggu, Kaduhauk, Jalupang, Pasung, Kerta, Gintung, Malingping, Cilangkahan, Sukahujan, Cihara, Panyaungan, Cisiih, Bayah, dan Gunung Madur.Pembangunan jalur kereta api Bayah-Saketi ditebus oleh penderitaan dan nyawa para romusa. Mereka dipaksa bekerja di bawah tekanan, di lingkungan yang berat, disertai asupan makanan yang tidak layak.

SAKETI DAN BAYA JALAN MENUJU NERAKA

Menurut Harry A. Poeze, sang juru kunci Tan Malaka, jumlah korban dalam pembangunan jalur ini tidak dapat ditentukan lagi, dan besarnya penderitaan pasti tidak terbatas. Sejarawan Belanda ini menjuluki jalur antara Saketi dan Bayah sebagai “Jalan Menuju Neraka”.

Mengutip dari buku Poeze, J. Kevin Baird menyebut jumlah korban romusa dalam pembangunan proyek tersebut mencapai 90.000 jiwa. Secara kebetulan, angka ini mendekati arti kata dari kota Saketi. Dalam bahasa Sunda, saketi berarti 100.000.

Jalur Saketi-Bayah dikuasai Jepang untuk melayani kepentingan perang mereka. Meski demikian, jalur ini tetap beroperasi ketika mereka sudah hengkang dan Indonesia menyatakan kemerdekaan pada 1945. (BERSAMBUNG KE BAGIAN 2)


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca