Oktober 10, 2026
Ilustrasi oleh PCM Grabag

Semut Ibrahim Mediatama – Grabag | 10 November 2025, Mengingati jasa-jasa para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raga untuk mempertahankan kemerdekaan tanah air yang kita cintai, memastikan merah putih tetap berkibar dengan gagah perwira dan menjaga kedaulatan Bangsa Indonesia tetap mengakar kuat (ashluha tsabitun) di setiap jiwa bangsa Indonesia dan menjulang tinggi (far’uha fissama’) membersamai ketinggian hakikat kemerdekaan itu sendiri.

Wildan Sulaiman, Pemerhati Sejarah yang juga Ketua Majelis Tabligh PCM Grabag, Magelang, Jawa Tengah mengulas tentang semangat kepahlawanan dengan tajuk “HERO” berikut ulasannya:

Teringat masa kecil, teringat pula akan tokoh tokoh hero yang melegenda dalam jagad film kartun yang populer di televisi televisi kala itu, seperti Spiderman yang mampu membasmi kejahatan, membantu penegak hukum menangkap pencuri dan para penyamun ditengah kota besar yang penuh gedung bertingkat, penuh  keramaian serta aneka kompleksitas. Kita dibuat heran olehnya dalam mengejar para pelaku kejahatan, sang manusia laba laba itu menggunakan jaring jaring yang keluar dari tangannya hingga mampu melompat dari gedung ke gedung pencakar langit kota itu.

Ada Spiderman ada pula Batman yang hampir sama perannya, yakni petualangan heroik sang manusia kelelawar yang digdaya dalam membantu polisi memberantas kejahatan di kota Gotham, Disana Batman menjadi sosok yang populer sebab kesuksesan menangkap para pencuri dari kelas kecil, yang sekali pukul langsung jatuh plus dimasa oleh warga, hingga menangkap pelaku kejahatan “maqom” raksasa yang licik, penuh intrik, sulit ditangkap alias mudah berkelit layaknya belut, tapi akhirnya dengan kelihaian dan kekuatan jurus kelelawar terbang, dan demi tegaknya supremasi hukum, Batman akhirnya sanggup melumpuhkan para penjahat itu.

Walau cerita tadi hanya khayali belaka, Namun ada hal yang bisa kita ambil efek positifnya yakni, memberikan pengertian kepada anak anak, bahwa segala macam kejahatan harus dilawan, mengajarkan untuk selalu menomorsatukan kebenaran, menghadapi segala bentuk keculasan dengan tegar dan berani. Sebab bila tak ada tindakan tegas, kejahatan akan selalu saja menganggu proses proses keharmonisan sosial.

Dari super hero yang fiktif fiktif dan tak ada di dunia nyata, kita tentu ingat pula saat bersekolah di SD hingga SMA, disana kita jumpai mata pelajaran sejarah bangsa Indonesia, yang memberikan informasi dan teladan tentang kesemangatan para pendahulu kita dalam merebut kemerdekaan dari serakah dan jahatnya penjajahan bangsa asing yang anti kemanusiaan itu, Disana ada “real Super hero”, sebut saja Pangeran Diponegoro yang pemberani, Tuanku Imam Bonjol yang ksatria, Kapitan Pattimura yang pantang menyerah, dan Cut Nyak Dien yang teguh dalam perjuangan, yang tentunya perlu kita teladani bersama akan jiwa patriotnya, patriotisme yang mendarah daging melahirkan spirit tulus ikhlas, berkorban jiwa dan raganya demi kemerdekaan tanah air, mengusir penjajahan yang jelas jelas tidak sesuai peri kemanusiaan dan peri keadilan itu.

Rupanya kata “hero” alias pahlawan menjadi kata penting pada ulasan ini, pertanyaanya kemudian apakah arti pahlawan itu sendiri?. Menurut kamus wikipedia bahwa, Pahlawan berasal dari bahasa Persia bahlawan yang berarti pejuang, yakni orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani. Batman dan Spiderman adalah sosok fiktif yang dilukiskan sebagai tokoh yang berani membela kebenaran, sangking populernya, wajah dan gayanya tergambar di kaos kaos anak, tas sekolah, dan dosgrip. Pantas jika mudah diingat oleh anak anak.

Coba cermati, “the real hero” sering dilihat gambarnya didinding kelas, patungnya berdiri gagah dialon alon kota, riwayat hidupnya tertulis di lembar demi lembar buku biografinya, mustinya kita jadikan sebagai pengingat. Tapi kadang kita lalai, sudahkan kita berupaya semaksimal mungkin meneruskan cita cita mereka?.

Wal Akhiran, Mari 10 November ini kita posisikan diri sebagai insan yang sanggup meneladani perjuangan mereka. Dengan pertanyaan yang menantang pula. Pertama, Beranikah kita menyuarakan kebenaran ditengah atmosfer kebohongan yang merajalela?, Kedua, Sejauh mana kita berjuang untuk membela yang benar ditengah keadaan “benar- salah” yang semakin tak jelas bedannya?.

Pertanyaan itu tiba tiba datang kepada diri saya sendiri, dan mungkin juga tertuju kepada para pembaca. Semoga kita tergolong kedalam orang orang yang sanggup menangkap pesan kebenaran, dengan lompatan nyata bukan langkah khayalan. Wallahu A’lam bishowab.


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca