Oktober 9, 2026

Tak mudah merawat ego. Ego itu bukan keangkuhan diri. Ego itu mendulang “aku” atau “diri” sebagai pusat kehendak, pusat kesadaran dan mengibarkan identitas diri. Sementara egois, merujuk pada sifat yang lahir ketika ego, kehendak diri, melambung terlalu tinggi, menembus atap-atap langit.

Sejatinya, ego tak perlu dibunuh. Ego itu dirawat, dikendalikan oleh jiwa, agar berjalan beriringan dengan ruh. Ruh itu zat ilahi yang melampirkan aura positif, aura ilahiah, aura transenden. Sementara jiwa, itu dibauri energi negatif dan energi positif. Dibutuhkan filter untuk menyaring energi negatif dan positif. Apa filternya? Filternya, hati, qolbu. Hati itu panglima dari semua ornamen yang ada pada diri manusia.

Merawat ego, tak perlu capai-capai menelisik pikiran Sigmund Freud. Freud utak-atik ego dalam tiga besar: id, ego dan superego. Freud terlalu teoritis. Terlalu njelimet. Pun pandangan Alan Watts, yang “ngawang-ngawang”. Watts yang melihat ego sebagai konstruksi ilusi yang menyebabkan rasa terpisah dari alam semesta. Duuuh. Rumit.

Hal-hal sederhana mengendalikan ego, itu mewujud dalam laku sholat. Dalam sholat, ego lahir sebagai pusat kesadaran diri ketika berkarib-karib dengan Sang Khalik. Aku, diri sebagai kehendak, sebagai pusat kesadaran, menerabas barikade ilahiah. Aku dan Dia, melebur dalam ruang kesadaran bersama, dalam sholat.

Klaim Cogito Ego Sum, “aku berpikir, maka aku ada”, yang diusung Rene Descartes, menjadi kurang tepat jika didulang dalam kesadaran sholat. Sepertinya dalam rakaat sembahyang, ujaran yang pas, “Aku Ada Maka Aku Berpikir”. Atau seperti doktrin Syeikh Yahya bin Muadz Ar-Razi:

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه

“Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya”.

Jadi orang itu bisa berpikir jika dia memahami “aku”, memahami “diri”, jika seseorang memujud.

Lagi, ke Descartes. Dedengkot filsuf Barat ini, kadang gak jujur. Dia tak jujur perihal nyontek pemikiran besar Imam Al-Ghazali. Imam Al-Ghazali memberi maklumat: “keraguan adalah peringkat pertama keyakinan“, yang diadopsi Decartes menjadi: “keraguan adalah jalan pertama menuju keyakinan” (la doute est le premier pas vers la certitude).

Mari merawat ego sembari mengubur sikap egois, memang tak mudah. Tapi insya Allah bisa.

Oleh : Gus Effendi, Pembelajar dan Pegiat Majelis Sahabat Yatim


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca