Oktober 9, 2026

Mungkin dise-umur jagung jabatannya, Purbaya hanya berpikir lurus soal pekerjaan yang ditugaskan oleh Presiden kepadanya. Dengan gayanya yang ‘slenge’an’, ia tidak memikirkan bahwa kebijakan populis yang ia jalankan adalah sebuah pertaruhan besar.

Disadari atau tidak, popularitas yang dituainya justru bisa menjadi modal politik yang sangat berharga untuk 2029. Namun pada saat yang sama, ia sesungguhnya tengah berjalan di atas “ranjau” politik yang bisa meledak kapan saja.

Skill Koboinya dalam memainkan tali laso keuangan dan anggaran yang meresahkan pejabat disatu sisi dan melonggarkan jerat di perut rakyat pada sisi lainnya harus diimbangi dengan kemampuannya untuk bermanuver, membangun aliansi, dan mengelola loyalitas kepada Presiden.

Karena suka tidak suka, itu akan menjadi kunci utama kelangsungan karier politiknya dalam tiga tahun ke depan.

Tiga tahun mendekati masa kampanye Pilpres berikutnya, dalam iklim politik tentu akan sangat berpengaruh membentuk kerlap-kerlip kristal popularitas Purbaya. Setiap kebijakannya yang berdampak positif bagi rakyat akan selalu memiliki dimensi elektoral.

Manuver kebijakan Menkeu Purbaya yang sangat populis dan pro-rakyat, seperti meringankan beban pajak rakyat, menghapus pph buruh/pekerja kecil di beberapa sektor tertentu, subsidi energi yang diperbesar atau pemutihan pajak bagi UMKM serta efisiensi anggaran para pejabat, secara alamiah akan melambungkan namanya. Publik cenderung mengasosiasikan kebijakan yang “terasa langsung di kantong” dengan figur yang paling vokal atau bertanggung jawab atasnya, dalam hal ini adalah Sang Menteri Keuangan.

Kenaikan popularitas ini menjadi sebuah paradoks. Di satu sisi, ini menunjukkan keberhasilan kementerian dalam menerjemahkan visi Presiden dan membantu rakyat, yang seharusnya menjadi nilai positif bagi pemerintah.

Namun, di sisi lain, hal ini menciptakan dinamika kekuasaan yang rawan di internal pemerintahan. Terbukti, pagi-pagi saja dari tengah pulau Jawa sudah terhembus aroma kecurigaan yang menengarai bahwa sosok Purbaya dipersiapkan demi memblokade ambisi keluarga Solo yang semakin keras “memaksa Prabowo kontrak politik” untuk Gibran Dua Periode.

Purbaya dengan style Koboinya mungkin piawai melesatkan peluru Fiskal dan Moneter secara presisi pada sasaran yang tepat, namun dalam skil berpolitik, Purbaya nampaknya harus berguru lagi pada para Begawan dan Suhu yang telah teruji memiliki kedigdayaan ilmu politik, seperti ilmu “Opportunistic Politics” dari Prof Mahfud MD, ilmu “Political Chameleon” atau “Bunglon Politik” dari Cak Imin atau bahkan mungkin ilmu “Ngepet Konstitusi” ala Nyai Ratu Iriana.

Purbaya juga harus mendalami filosofi politik yang mengajarkan fatsun politik bahwa dalam sistem presidensial, Presiden adalah “Matahari” dalam tata surya kabinet. Semua menteri adalah planet yang memantulkan cahayanya.

Ketika seorang menteri menjadi terlalu bersinar hingga cahayanya menyaingi bahkan meredupkan matahari, ini menciptakan disekuilibrium. Presiden bisa dianggap lemah atau “tersandera” oleh popularitas pembantunya.
Narasi publik bisa bergeser dari “Program Presiden” menjadi “Gebrakan Menkeu Purbaya,” yang secara politik sangat merugikan bagi citra kepemimpinan tertinggi.

Jadi sekali lagi, jika tidak berhati-hati, popularitasnya yang meroket dapat menjadikan Menkeu Purbaya target empuk. Para pesaingnya akan berusaha “mematikan” bintang yang sedang bersinar ini sebelum menjadi terlalu besar.

Dalam kabinet Prabowo terlalu banyak “musuh dalam selimut”, bahkan rival politik dari koalisi yang sama pun juga akan berkepentingan untuk menghentikan lajunya agar tidak menghalangi ambisi mereka sendiri di 2029.

Jadi, waspadalah Pak Menkeu, jangan sampai lecutan popularitas mu menjadi pedang bermata dua yang akan mencelakakan diri mu sendiri.

Oleh: Nazlira al-Habsy


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca