
Musa dan Khidir (Episode 1) “Kesombongan Ilmu dan Teguran dari Langit”
Oleh : M. Syarif Hidayatullah, S. Ag., M.M.Inov – Sekertaris PDM Kota Batu
Suasana majelis ilmu dipenuhi oleh gemuruh hati yang haus akan pengetahuan. Di tengah-tengah Bani Israil, Nabi Musa ‘alaihissalam berdiri dengan wibawa yang memancar dari wajahnya. Dialah sang pemimpin, sang pemberi syariat, dan sang pembawa mukjizat yang telah menyeberangi Laut Merah. Saat sebuah pertanyaan mendasar meluncur dari seorang hadirin, “Wahai Nabi Allah, siapakah manusia yang paling berilmu di muka bumi ini?” tanpa keraguan, Musa menjawab dengan penuh keyakinan, “Saya.” Jawaban itu lahir dari lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah pengakuan jujur atas segala yang telah Allah anugerahkan kepadanya. Bagaimana mungkin bukan dirinya? Bukankah dia yang diajak bicara langsung oleh Sang Pencipta? Bukankah Taurat berada di tangannya?
Namun, dalam sekejap, langit seakan bergetar. Jawaban tulus yang terkesan percaya diri itu, dalam perspektif ketuhanan, mengandung sebuah kealpaan. Ia lupa bahwa sumber segala ilmu adalah Allah semata, dan Dialah yang mengaturnya menurut kehendak-Nya. Ia lupa untuk mengembalikan ilmu itu kepada Pemiliknya yang Hakiki dengan berkata, “Allahu a’lam” (Allah yang Maha Mengetahui). Dalam seketika, turunlah teguran Ilahi yang halus namun sangat mendalam. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepadanya, bahwa sesungguhnya di sebuah tempat, di majma’ al-bahrain (tempat pertemuan dua lautan), ada seorang hamba-Ku yang telah Kuberi ilmu yang tidak kau miliki.
Teguran ini terekam dalam hadits shahih riwayat Imam Al-Bukhari, yang menjadi pijakan utama kisah ini. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
“قَامَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ خَطِيبًا فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ فَسُئِلَ: أَيُّ النَّاسِ أَعْلَمُ؟ فقال: أنا أَعلَمُ. قال: فَعَتَبَ اللّه عَلَيْهِ إِذْ لَمْ يَرُدَّ الْعِلْمَ إِلَيْهِ؛ فَأَوْحَى اللّه إِلَيْهِ أَنَّ عَبْدًا مِنْ عِبَادِي بِمَجْمَعِ الْبَحْرَيْنِ هُوَ أَعْلَمُ”.
“Musa ‘alaihissalam berkhutbah di hadapan Bani Israil. Lalu dia ditanya, ‘Siapakah manusia yang paling berilmu?’ Dia menjawab, ‘Aku.’ Maka Allah menegurnya karena dia tidak mengembalikan ilmu itu kepada-Nya. Lalu Allah mewahyukan kepadanya, ‘Sesungguhnya ada seorang hamba-Ku di majma’ al-bahrain yang lebih berilmu darimu’.”
Dari sini, kita diajak untuk menyelami sebuah perjalanan spiritual yang agung. Bukan perjalanan fisik semata, melainkan perjalanan seorang hamba dari ilmunya sendiri menuju ilmu Tuhannya; dari rasa percaya diri menuju kerendahan hati; dari “Aku tahu” menuju “Tuhanku yang Maha Tahu”.
Dari sudut pandang psikologi, ini adalah momen dekonstruksi diri yang sangat powerfull. Musa, seorang Nabi yang sudah berada di puncak hierarki spiritual, harus diingatkan bahwa puncak ilmu seseorang tetaplah dasar dari samudera ilmu Allah. Proses ini mematahkan “fixed mindset” tentang pencapaian dan menggantinya dengan “growth mindset” yang tak berujung dalam mencari ilmu Ilahi.
Para ulama seperti Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi dalam tafsir mereka menjelaskan bahwa teguran ini bukan karena dosa, tetapi merupakan bentuk tarbiyah (pendidikan) ilahiyah yang paling halus dari Allah kepada kekasih-Nya. Tujuannya adalah untuk menyempurnakan adab Musa terhadap ilmu dan untuk memperkenalkannya pada dimensi ilmu yang lain—ilmu laduni (ilmu yang datang langsung dari sisi Allah) yang dimiliki Khidir. Ilmu Musa adalah ilmu syariat yang terang benderang, sementara ilmu Khidir adalah ilmu tentang hikmah dan rahasia di balik takdir yang seringkali tersembunyi, yang tidak semua orang mampu memahaminya.
Betapa seringnya kita, seperti Musa, terjebak dalam ilusi pengetahuan kita sendiri? Kita merasa sudah cukup ahli dalam bidang kita, sudah paling paham dengan masalah kita, dan yakin bahwa solusi kita adalah yang terbaik. Kita lupa untuk selalu mengucap “Allahu a’lam” atas segala ketidaktahuan kita. Kisah ini mengajarkan bahwa sikap rendah hati (tawadhu’) adalah pintu gerbang ilmu yang sesungguhnya. Semakin banyak kita tahu, semakin kita menyadari betapa luasnya yang tidak kita ketahui. Teguran Allah kepada Musa adalah bukti kasih sayang-Nya; Dia tidak membiarkan kekasih-Nya terjebak dalam keangkuhan intelektual, meski keangkuhan itu samar.
Dan pelajaran tentang kerendahan hati ini bukan hanya milik Musa. Nabi kita sendiri, Muhammad ﷺ, yang merupakan manusia sempurna, juga diajarkan pelajaran serupa oleh Allah dalam Surah Al-Kahfi. Beliau pernah bersumpah akan menyampaikan sesuatu esok hari tanpa mengucapkan insya Allah (jika Allah menghendaki). Akibatnya, wahyu tidak turun selama lima belas hari sebagai pengingat bahwa segala sesuatu, bahkan penyampaian sebuah janji kecil, mutlak berada di bawah kehendak Ilahi. Hingga akhirnya turunlah ayat teguran, “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu, ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi,’ kecuali (dengan menyebut), ‘Insya Allah’.” (QS. Al-Kahfi: 23-24).
Maka, marilah kita meneladani sikap Musa setelah itu: dia tidak membantah, tidak merasa tersinggung, tetapi langsung tunduk dan bersiap untuk melakukan perjalanan panjang mencari sang guru. Ia menunjukkan bahwa orang yang benar-benar berilmu adalah yang selalu haus untuk belajar, bahkan dari orang yang secara derajat mungkin di bawahnya. Inilah pelajaran abadi: Ilmu bukan untuk disombongkan, tetapi untuk menuntun kita semakin dekat kepada-Nya, dan untuk selalu merasa kecil di hadapan samudera ilmu Allah yang tak bertepi.
Wallahu a’lam… dan kalimat inilah, beserta insya Allah, yang menjadi perisai bagi setiap orang beriman dari kesombongan, sekaligus pengakuan tulus atas keterbatasan kita sebagai hamba.
Lalu, bagaimanakah perjalanan Musa mencari Khidir? Tantangan apa yang harus dihadapinya? Dan pelajaran apa yang akan dipetik dari pertemuan agung antara dua Nabi pemilik disiplin ilmu yang berbeda itu? Nantikan kelanjutan kisah penuh hikmah ini.
Bersambung ke Episode 2: “Pertemuan Dua Samudera Ilmu”
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.