Oktober 9, 2026

Disampaikan Oleh : Haremen

Di New York, di gedung tinggi PBB, riuh dunia bersatu, bersilang, bertempur, namun dari timur, dari khatulistiwa, bangkit suara yang lama terpendam, membawa napas Indonesia, menggetarkan panggung dunia.

Sepuluh tahun lamanya, Indonesia diam, seolah menutup tirai sejarahnya sendiri, namun kini, tabir dibuka, bukan sebagai penonton, bukan sebagai pengikut, tapi sebagai aktor utama, membawa amanat rakyat, membawa suara jutaan hati yang menanti. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, berdiri tegak patriotis di mimbar sejarah, matanya menatap dunia, tegas, tanpa gentar. Bawaannya adalah keberanian, napasnya adalah persatuan, dan suaranya gema perdamaian.

Ia menatap tragedi yang mengoyak Gaza, puluhan ribu nyawa melayang, anak-anak menangis, perempuan menjerit, lansia terpuruk, kelaparan menunggu, bencana kemanusiaan nyata di depan mata, dan dunia, seakan tersedak diamnya.

“Di sinilah dia tegak berdiri, berkumpul bukan untuk menghujat, saling menyalahkan, atau strategi kata-kata kosong. Ia tegak bukan untuk seremonial, tapi untuk menanggung tanggungjawab sejarah. Karena ini bukan sekadar nasib Palestina, ini adalah masa depan Israel, ini adalah kredibilitas PBB dan hukum internasional yang dipertaruhkan.”

Ia mengutuk kekerasan tanpa menunjuk pelaku, ia menegaskan komitmen Indonesia, hanya solusi persatuan yang akan membawa damai. Palestina harus diakui, kemerdekaannya harus dijamin, dan setelah itu, Israel pun akan diakui, keamanan mereka dijamin, demi perdamaian sejati, abadi, tidak terbantahkan.

Deklarasi New York, kata Prabowo, adalah jalan damai, jalan adil yang menuntun sejarah, ke sisi yang benar. Negara-negara besar yang telah bertindak, Prancis, Kanada, Inggris, Portugal, mereka berjalan di jalur sejarah yang benar, dan kini, saatnya dunia ikut berjalan, mengakui Palestina, menghentikan darah yang tumpah, mengakhiri perang, menghentikan kebencian.

“Ia ingin Damai! Damai sekarang juga! Damai segera!” Ruang sidang bergema, Namun lebih dari gema itu, yang terdengar adalah tekad Indonesia, bahwa perdamaian bukan hanya kata, tapi janji, tindakan, dan keberanian.

Bendera Merah Putih berkibar, di tengah lautan warna dunia, Indonesia bukan sekadar nama, Indonesia adalah kekuatan, negara Non-Blok yang bangkit dari tidur panjangnya. Sidang PBB menjadi saksi, bahwa bangsa ini tidak gentar, bahwa sejarah menulis tinta baru, bahwa suara Indonesia kembali mengaum.

Prabowo, di atas mimbar PBB, seperti Soekarno, membawa Pancasila, membawa UUD 1945, membawa kalimat anti-penjajahan, menolak penindasan, dengan kata-kata yang menampar penjajah, dengan bara yang menyalakan harapan negeri-negeri terjajah.

“Selama masih ada kolonialisme,” kata Bung Karno, “Selama itu kita tidak tenang, tidak bisa damai, tidak bisa berhenti berjuang.” Hal ini tergambar di podium PBB saat Presiden RI menyampaikan pidatonya.

Api itu harus tetap hidup. Pancasila bukan sekadar kata, UUD 45 bukan sekadar teks, itu adalah janji, darah, dan nadi bangsa.

Sejarah menunggu. Apakah Indonesia akan berdiri setegak Soekarno, Atau goyah di hadapan badai kekuasaan? Harapan rakyat jelas, tidak tergoyahkan: Indonesia tidak boleh tunduk, tidak boleh bisu, tidak boleh jadi bayang-bayang penjajahan baru.

Hari itu Selasa, 23 September, bukan sekadar tanggal. Itu adalah momen kebangkitan, hari Indonesia kembali bersuara, hari Indonesia kembali merangkul dunia dan kembali menggemakan amanat Konferensi Asia – Afrika 1955.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca