
Semutibrahim.com jabar 13 September 2025, Belajar dari Amok Massa yang Terjadi di Nepal oleh Gen Z, Dalam tiga hari terakhir, yaitu pada tanggal 8 dan 10 September 2025, situasi di Nepal berubah dengan cepat. Kekacauan yang terjadi menyebabkan setidaknya 19 pemuda meninggal dunia, dan kemudian berakhir dengan kerusuhan massa yang meluas. Saya sempat terkejut melihat video yang beredar di media sosial, di mana rumah menteri dan pejabat Nepal, termasuk gedung parlemen Nepal, dibakar oleh massa. Istri Perdana Menteri Nepal yang mengundurkan diri, KP Sharma Oli, tewas karena luka bakar akibat pembakaran rumah mereka. Beberapa menteri Nepal dievakuasi dengan helikopter dari rumah mereka dan diselamatkan oleh militer Nepal. Peristiwa yang mengenaskan adalah ketika Menteri Keuangan Nepal dikejar oleh masyarakat, dipukuli, dan ditelanjangi.
Menurut pemikiran saya, ini seperti Revolusi Prancis yang terulang kembali di Nepal, di mana protes anti-korupsi yang dipicu oleh larangan media sosial untuk menekan gerakan tersebut berubah menjadi kekerasan massal, dengan tentara dikerahkan untuk memulihkan ketertiban. Sejarah selalu terulang, tetapi dalam waktu yang berbeda.
Di Indonesia setelah peristiwa G30S/PKI pada 1965, juga terjadi penangkapan terhadap Yusuf Muda Dalam sebagai Menteri Urusan Bank Sentral (1965-1966) di bawah pemerintahan Soekarno dianggap memboroskan anggaran negara dan di tangkap karena korupsi. Berlanjut paska Reformasi Pada tahun 1998, terjadi kerusuhan massa setelah tertembak matinya empat mahasiswa Trisakti pada 12 Mei 1998, yang memicu kerusuhan massal pada 13-15 Mei 1998. Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk kasus Kerusuhan Mei 1998 memaparkan temuannya pada 23 Oktober 1998. Menurut TGPF, dampak yang ditimbulkan dari Kerusuhan Mei 1998 telah merenggut nyawa 1.190 orang di Jakarta. Kerusuhan mei 98 menyebabkan pengunduran diri Presiden Soeharto.
Beberapa peristiwa lain yang terjadi di Indonesia
Seperti penjarahan rumah Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan pada tanggal 30 Agustus 2025, dan penggantian Menteri Sri Mulyani sebagai Menkeu. Peristiwa itu menjadi refleksi mendalam bagi saya. Belajar dari Kehidupan Sederhana Pendiri Bangsa. Penulis teringat akan Menteri Sjafruddin Prawiranegara yang hidup sederhana saat menjadi Menteri Keuangan (1946-1947 dan 1949-1950). Beberapa menteri di awal kemerdekaan Indonesia, seperti Bung Hatta, H. Agus Salim, Mohammad Natsir, dan Sutan Syahrir, juga menjalani hidup sederhana. Bercermin pada perilaku mereka sebagai pendiri bangsa yang meninggalkan warisan manfaat tanpa cela, setiap masyarakat Indonesia selalu mendoakan mereka. Apakah tidak terpikirkan, kenapa manusia memburu jabatan dan status kalau kemudian status dan jabatan tersebut membuat mereka terhinakan dan dicaci maki oleh rakyat, seperti kasus Menteri Keuangan Nepal.
Kehidupan Sederhana Para Pendiri Bangsa, Bercermin kepada kehidupan sederhana pendiri bangsa.
H. Agus Sali : Hidup sederhana, tidak memiliki rumah pribadi, dan sering kekurangan uang. Ia memegang prinsip “memimpin adalah menderita” dan menunjukkan kepemimpinan sebagai pengabdian, bukan kemewahan.
Mohammad Hatta : Hidup dengan gaya sederhana, memiliki impian membeli sepatu Bally yang tidak terwujud, dan menunjukkan integritas tinggi dalam menggunakan fasilitas negara.
Sutan Syahrir : Hidup sederhana, fokus pada perjuangan intelektual dan diplomasi, serta mengutamakan kepentingan bangsa di atas kebutuhan pribadi.
Mohammad Natsir: Menunjukkan kesederhanaan dalam hidupnya, fokus pada pengabdian melalui pendidikan dan dakwah, serta menjalani hidup dengan prinsip-prinsip Islam yang menekankan kesederhanaan dan keikhlasan.
Keempat tokoh ini menunjukkan bahwa kesederhanaan bukanlah kelemahan, melainkan cerminan integritas dan pengabdian. Mereka hidup dengan penuh pengorbanan, menempatkan kepentingan bangsa di atas kebutuhan pribadi, dan menjadi teladan bahwa kepemimpinan sejati adalah tentang melayani, bukan mengejar kemewahan.
Indonesier (Indonesia terhormat) Pidato Jahja Datoek Kajo di Volksraad. Jahja Datoek Kajo menyebut dirinya Indonesier (Indonesia terhormat) di sidang Volksraad.
Jahja Datoek Kajo, lahir pada 1 Agustus 1874 di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, adalah seorang tokoh Minangkabau yang menjabat sebagai anggota Volksraad (Dewan Rakyat Hindia Belanda) periode 1927-1931 dan 1935-1939. Dia gigih memperjuangkan penggunaan bahasa Indonesia di sidang Volksraad, yang saat itu dilarang oleh Belanda . Indonesier” merujuk pada identitas nasional yang penuh kehormatan, martabat, dan komitmen memperjuangkan kepentingan rakyat Indonesia. Yahya Datoek Kajo, tokoh Minangkabau dan anggota Volksraad, menolak tunduk pada aturan kolonial dan memilih berbahasa Melayu dalam sidang pada 30 Juni 1928, menegaskan kebanggaan sebagai “Indonesier.” Istilah ini mencerminkan kesadaran nasional, perlawanan terhadap kolonialisme, dan kebanggaan akan bahasa serta budaya Indonesia sebagai alat persatuan.

Refleksi Historis dan Nilai Kebangsaan, Kerusuhan di Nepal akibat larangan media sosial dan pamer kemewahan pejabat di tengah kemiskinan mencerminkan kegagalan kepemimpinan yang berulang, seperti kerusuhan 1998 dan G30S/PKI di Indonesia.
Konsep “Indonesier” mengingatkan pentingnya nilai keadilan, kesederhanaan, dan integritas dalam kepemimpinan untuk mencegah konflik sosial yang berakhir dengan amok massa dan kerusuhan. Pelajaran dari Nepal, Kemarahan rakyat Nepal akibat dampak kesenjangan sosial dan korupsi. Di Indonesia, nilai-nilai “Indonesier” yang diperjuangkan Yahya Datoek Kajo—keadilan dan pengabdian kepada rakyat—menjadi contoh dan refleksi bagaimana mencegah ketidakpuasan sosial yang bisa berakhir dengan amok massa dan revolusi sosial yang rusuh dan choas.
Kembali pada Nilai Kebangsaan, Indonesier adalah refleksi untuk mengutamakan kepentingan rakyat, menentang korupsi, dan membangun masyarakat adil serta sejahtera, sebagaimana diteladankan oleh para pendiri bangsa. Dengan menerapkan nilai-nilai ini, Indonesia dapat mencegah konflik sosial dan mencapai kemajuan yang berkelanjutan.Penutup
Penutup
Potensi diri yang diwujudkan melalui kemanfaatan dan pelayanan kepada masyarakat telah dicontohkan oleh para pendiri bangsa seperti Drs. H. Mohammad Hatta (Bung Hatta), Sutan Sjahrir, Mohammad Natsir, dan H. Agus Salim. Kehormatan mereka sebagai pejuang dan pejabat negara terletak pada gaya hidup sederhana, kejujuran, dan dedikasi mereka dalam melayani rakyat. Integritas mereka menjadikan nama mereka dikenang dan dihormati oleh masyarakat hingga kini. Marilah kita merefleksikan diri untuk meneladani nilai-nilai luhur mereka, agar kita dapat menjadi bagian dari Indonesia yang terhormat, sesuai dengan pepatah, “Manusia mati meninggalkan nama, harimau mati meninggalkan belang.” Nama baik yang kita tinggalkan akan menjadi warisan abadi bagi masyatakat terutama generasi muda. Mari kita renungkan pula pernyataan Tan Malaka, “Tidak ada yang akan memperjuangkan rakyat jika mereka tidak hidup seperti rakyat.” Kata-kata ini mengingatkan kita bahwa kepemimpinan sejati lahir dari empati dan kedekatan dengan kehidupan rakyat. Tanpa kepekaan terhadap penderitaan dan kebutuhan rakyat, perjuangan untuk keadilan sosial hanyalah retorika pepesan kosong.
Bung Hatta sendiri pernah menyatakan, “Kalau tidak jujur, maka tak ada gunanya segala pengetahuan dan kecakapan yang dimiliki.” Kejujuran adalah fondasi utama dalam membangun kepercayaan dan kehormatan, baik sebagai individu maupun sebagai bangsa. Tanpa kejujuran, segala upaya untuk memajukan bangsa tidak akan membuahkan hasil yang bermakna. Marilah kita bersama-sama berkomitmen untuk meneladani para pendiri bangsa dengan menjalani hidup yang jujur, sederhana, dan penuh pengabdian. Dengan demikian, kita tidak hanya meninggalkan nama baik, tetapi juga warisan kebaikan untuk Indonesia yang lebih adil dan sejahtera.
Oleh: Novita sari yahya, Penulis dan peneliti politik kebangsaan//red. Si_news jabar//pimpinan redaksi pusat Jakarta/hot line semutibrahim.com
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.