Oktober 9, 2026

Disampaikan Oleh : Haremen

Gambar ilustrasi

Saat jaring besi hukum ditebar, satu per satu nama terjerat, mereka yang dulu berdiri gagah di mimbar, tiba-tiba tergagap menyebut satu nama—Mulyono.

Saat tertangkap Nadiem Anwar Makarim nyebut Mulyono, seakan ingin berbagi beban, bahwa bukan dia sendiri yang menulis naskah kecurangan, ada bayangan lain di balik layar, ada tangan yang menyusun skenario gelap.

Saat tertangkap Yaqut Cholil Qoumas nyebut Mulyono, suara bergetar, antara takut dan lega, seperti rahasia yang disimpan terlalu lama akhirnya pecah bersama borgol di tangan.

Saat tertangkap Tom Trikasih Lembong nyebut Mulyono, seperti seorang pebisnis yang akhirnya mengaku siapa rekan gelapnya, siapa yang duduk di meja bundar, siapa yang menyulut lilin lalu meniupkannya dengan wajah penuh kepura-puraan.

Saat tertangkap Hasto Kristiyanto nyebut Mulyono, politik pun jadi panggung teater, di mana tokoh-tokoh besar menunduk, dan satu nama kecil mendadak jadi pusat panggilan, jadi kunci yang membuka pintu rahasia, jadi kode yang berseliweran di ruang sidang.

Dan kini, pertanyaan mengambang di udara : Setelah ini siapa lagi yang nyebut nama Mulyono? Apakah masih ada pejabat yang jatuh lagi lalu menyeret namanya? Apakah masih ada pengusaha yang runtuh lalu berteriak menyebutnya? Atau kelak, di pengadilan, nama itu jadi mantra yang diucapkan berulang, seperti doa kelam untuk menutupi dosa sendiri.

Mulyono, Mulyono, Mulyono nama yang tiba-tiba jadi legenda, disebut di lorong-lorong gedung kekuasaan, di catatan gelap transaksi, di lisan orang-orang terpojok.

Tapi siapa Mulyono sebenarnya? Penulis skenario Kurir setia? Atau hanya kambing hitam yang sengaja ditaruh agar mulut-mulut ketakutan punya sesuatu untuk disebut?

Setelah ini, mungkin masih ada yang menyebutnya, mungkin pula semua memilih diam, sebab terlalu sering mengulang nama bisa jadi bumerang.

Namun satu hal pasti : di balik nama yang sederhana, tersimpan rahasia besar negeri ini. Rahasia yang hanya terkuak ketika satu demi satu tokoh tumbang, dan dengan suara lirih mereka mengaku: “Lagi-lagi Mulyono, Mulyono, Mulyono, dia juga tahu.”


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca