Oleh : Haremen
Hari itu, 25, 28 dan 29 Agustus 2025, matahari menyembur panas di langit Jakarta, namun lebih panas lagi bara amarah di dada rakyat.Mereka datang bukan dengan senjata, hanya dengan suara, spanduk, dan tekad yang retak oleh ketidak adilan. Namun jawaban negara, bukanlah dialog, melainkan moncong senjata, beton hitam, dan kendaraan taktis yang menderu tanpa hati.

Dua driver ojol, pekerja yang menukar keringat dengan rupiah, ditindas, dilindas baracuda Brimob, kendaraan taktisbaja, rantis brimob tanpa nurani. Satu nyawa melayang di tengah jalan, satu lagi terkapar, tubuhnya luka parah.
Jerit manusia berubah menjadi gemuruh massa, Mako Brimob terbakar, mobil-mobil taktis jadi arang. Kantor pemerintah terkunci rapat, perusahaan menutup pintu, kampus dan sekolah diliburkan. Jakarta lumpuh. Busway tak lagi melintas, Jaklingko berhenti, Feder membeku di terminal.Di Kwitang, api menjilat dinding Mako Brimob.
Di Jaktim, amarah menjalar : Polsek Matraman, Kamp Makasar, Ciracas, Jatinegara, Cipayung— lima pos kekuasaan diserang rakyat yang tak lagi takut.Di tengah asap dan gas air mata, seorang pendemo disusupkan paksa kesempatan sepi, roboh kejang-kejang dipukul tongkat hitam, darah menetes dari kepalanya, membasahi poster tuntutan yang ia genggam.
Di sudut lain, seorang pemuda dikeroyok pasukan antihuru-hara, tendangan, pukulan dan hantaman tongkat hiram menghujani tubuhnya, seolah manusia hanya boneka tidak bernyawa.Luka itu bukan hanya di tubuh, tapi di ingatan bangsa. Setiap pukulan polisi, setiap sirine yang meraung, adalah pengingat bahwa kekuasaan lebih memilih menaklukkan rakyat daripada mendengarkan jeritan mereka.
Dan malam turun, Jakarta masih terbakar. Bukan sekadar gedung dan kendaraan, tetapi rasa percaya yang runtuh, keadilan yang patah, dan demokrasi yang digilas roda baracuda.
Inilah catatan luka 25 Agustus: saat darah ojol menetes di aspal, dan negeri belajar lagi, bahwa ketika rakyat dipukul, mereka akan bangkit, dengan amarah yang tak bisa dipadamkan oleh tongkat, gas air mata, atau barisan baja.
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.