Oktober 9, 2026

Kado Untuk Rakyat Di HUT Kemerdekaan Ke 80, Kenaikan Pajak 200% hingga 1000%. Alarm Sudah Mulai Berbunyi

Tetesan Tinta Ida 16825

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.

Apa yang terjadi di Republik hari ini tidak bisa lepas dari akibat pemerintah sebelumnya, Negara sudah terlalu berat dengan beban hutang yang ditinggalkan oleh Jokowi, sesaknya nafas APBN memaksa pemerintah mengambil surat utang baru untuk membayar bunga plus pokok pinjaman luar negeri yang mencapai ribuan trilliun dan sebagai dampaknya rakyat menjadi pelengkap penderitaan APBN yang memaksa memungut dari rakyat.

Sebagian besar SDA sudah diserahkan ke Swasta/oligarki kongkalikong para elit dengan segelintir oligarki telah menjadikan  rakyat terus diijadikan Objek  untuk Menambal APBN maupun ABD.

Ketika Menteri Keuangan menginstruksikan setiap kepala daerah untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), respon yang muncul bukanlah inovasi pembangunan atau pengelolaan aset daerah yang kreatif, melainkan langkah paling mudah dan paling menyakitkan bagi rakyat: menaikkan pajak secara brutal.

Deretan daerah berikut ini menjadi contoh nyata betapa kebijakan tanpa empati itu dijalankan:

  • Banyuwangi: naik 200%
  • Jombang: naik 400%
  • Kabupaten Semarang: naik 400%
  • Cirebon: naik 1000%
  • Kabupaten Bone: naik 300%
  • Kota Malang: naik 300%
  • Kabupaten Jeneponto: naik 400%
  • Kota Solo: naik 400%


Kenaikan yang tak masuk akal ini adalah buah dari sistem yang salah arah: sumber daya alam (SDA) strategis diserahkan ke tangan swasta dan oligarki rakus, sementara pemerintah daerah hanya menggantungkan pemasukan dari pajak rakyat. Akibatnya, rakyat kecil menjadi sapi perah demi menjaga APBN dan APBD tetap terlihat “sehat” di atas kertas.

Ironisnya, kekayaan negeri ini mengalir deras ke kantong segelintir elite yang sudah telanjur hidup glamor, sementara rakyat dipaksa menanggung beban lewat pungutan yang mencekik.

Inilah wajah nyata kebijakan ekonomi yang tidak berpihak pada kedaulatan rakyat, di mana keadilan sosial hanya menjadi slogan, dan kesejahteraan hanyalah janji yang tidak pernah ditepati.

Sahabat Ida Fillah Lillah

Cita-cita luhur yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 adalah untuk mewujudkan kemerdekaan, keadilan sosial, dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

Namun delapan dekade kemudian, kita dihadapkan pada sebuah kenyataan yang mengundang pertanyaan: *Mengapa sebagian besar cita-cita itu masih terasa jauh dari harapan kita?

Inilah yang kita sebut sebagai Paradoks Indonesia. Sebuah negeri yang kaya sumber daya alam, Namun kemiskinan masih menghimpit jutaan rakyatnya.

Sebuah bangsa yang menjunjung tinggi demokrasi, namun praktik kekuasaan sering tersandera oleh kepentingan segelintir elite.

Sebuah konstitusi yang mengaku menjamin hak rakyat, namun dalam pelaksanaannya sering kali meninggalkan mereka yang lemah dan tak bersuara.

“Paradoks Indonesia dan UUD 1945” menjadi panggilan bagi para tokoh bangsa, pemikir, dan pemimpin moral untuk melakukan evaluasi menyeluruh atas pelaksanaan UUD 1945.

Bukan sekadar menyoal pasal demi pasal, tetapi menelisik ruh dan arah konstitusi yang mungkin telah bergeser dari semangat par pendiri bangsa.

Kita ingin menggugah kesadaran bahwa UUD 1945 bukan hanya teks hukum, tetapi kompas moral yang seharusnya menjadi panduan dalam setiap kebijakan negara.

Apakah demokrasi yang kita jalankan sudah sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945? Apakah kedaulatan rakyat benar-benar berada di tangan rakyat?

Apakah kekayaan negeri ini sudah dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, seperti yang diperintahkan Pasal 33?

17 Agustus 2025, dimana 80 th KATANYA Indonesia mendeka tapi kemerdekaan itu tak pernah dirasakan seluruh rakyat, ada baiknya dihari bersejarah ini menjadi momentum untuk mengoreksi arah perjalanan bangsa.

Dari sini kita berharap lahir gagasan-gagasan besar, keberanian moral, dan tekad bersama untuk mengembalikan Indonesia pada rel konstitusinya.

Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.sesuai cita cita pendiri Bangsa.

Masihkah ada harapan kemerdekaan yang sesungguhnya untuk seluruh rakyat Indonesia…??

Baca… telaah… analisa, simpulkan, kaji dan cari solusi…

Wassalamualaikum warrohmatullahi wabarokatuh

Ida N Kusdianti, Sekjend FTA


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca