Oktober 10, 2026

Seri ke VI kajian peringatan 80 th Negara Indonesia

Oleh : Ir PRIHANDOYO KUSWANTO, Ketua Pusat Study Kajian Rumah Panca Sila

PENDAHULUAN

Sejak Konstitusi di kudeta dengan dibungkus amandemen UUD 1945 dan diganti nya UUD 2002 dan dengan segala kelicikan maka UUD 2002 masih juga dikatakan UUD 1945, agar rakyat dan TNI tidak berontak. Strategi penipuan ini memang jitu sebab selama 22 tahun reformasi TNI, POLRI diam bahkan menikmati keadaan padahal apa yang dijaganya itu Pancasila dan UUD 1945 sudah tidak bermakna sejak Pasal 1 ayat 2 UUD 1945 diamandemen.

DEMOKRASI LIBERAL

Demokrasi Liberalpun dijalankan, apakah bangsa ini pernah mengalami hal yang demikian ? ya tentu saja pernah mengalami bahkan sekarang ini adalah melanjutkan apa yang telah dijalankan pada tahun 50 an melanjutkan Free fight liberalism, pertarungan perebutan kekuasaan dengan Pilsung, Pilkada, saling jegal, saling caci maki, kampanye hitam dan terus berlanjut hari ini demokrasi banyak banyakan suara yang banyak belum tentu baik dan yang banyak belum tentu mengerti itulah yang terpilih.

Triliunan rupiah dikucurkan demi memilih yang belum tentu baik, puluhan Triliunan dikucurkan hanya untuk memilih koruptor. Mengapa begitu…? sudah terbukti 84% kepala daerah tersangkut masalah Korupsi dan korupsi sudah taraf subversif terhadap negara. Politik Uang menjadi energi untuk menggerakan demokrasi mbelgedes siapa yang punya banyak uang bisa membeli demokrasi maka diakar rumput ada istilah NPWP Nomor Piro Wani Piro politik serba transasional.

MEMBUKA SEJARAH

Barang kali kita harus membuka sejarah agar tidak tersandung untuk kedua kali nya dengan batu yang sama pidato Bung Karno perlu kita baca kembali apa yang di wejangkan nya dan bisa menjadi kaca benggala berbangsa dan bernegara cuplikan pidato Bung Karno : “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah (Never Leave History)….”. Cobalah lepaskan pandangan kita lebih jauh lagi ke belakang. Marilah kita mawas diri sejak saat kita terlepas dari cengkeraman penjajah Belanda di tahun 1950, yaitu apa yang dinamakan Pengakuan Kedaulatan – recognition of sovereignty. Betapa hebatnya crucial period-crucial period yang harus kita lalui selama masa 1950-1959 itu. Free fight liberalism sedang merajalela; jegal-jegalan ala demokrasi parlementer adalah hidangan sehari-hari, main krisis kabinet terjadi seperti dagangan kue, dagangan kacang goreng.

Antara 1950 dan 1959 kita mengalami 17 kali krisis kabinet, yang berarti rata-rata sekali tiap-tiap delapan bulan.

Pertentangan yang tidak habis-habis antara pemerintah dan oposisi, pertentangan ideologi antara partai dengan partai, pertentangan antara golongan dengan golongan. Dan dengan makin mendekatnya Pemilihan Umum 1955 dan 1956, maka masyarakat dan negara kita berubah menjadi arena pertarungan politik dan arena adu kekuatan.

NAFSU INDIVIDUALISME

Nafsu individualisme dan nafsu egoisme masih meharajalela, tubuh bangsa dan rakyat kita laksana merobek-robek dadanya sendiri, bangsa Indonesia menjadi a nation devided againts itself. Nafsu hantam kromo, nafsu serang-menyerang dengan menonjolkan kebenaran sendiri, nafsu berontak-memberontak melawan pusat, nafsu z.g. demokrasi yang keblinger, yang membuat bangsa dan rakyat kita remuk-redam dalam semangat, kocar-kacir berantakan dalam jiwa.

PERPECAHAN DI TUBUH BANGSA

Sampai-sampai pada waktu itu aku berseru : rupanya orang mengira bahwa sesuatu perpecahan di muka Pemilihan Umum atau di dalam Pemilihan Umum selalu dapat diatasi nanti sesudah Pemilihan Umum. Hantam kromo saja memainkan sentimen. Tapi orang lupa, ada perpecahan yang tidak dapat disembuhkan lagi! Ada perpecahan yang terus memakan, terus menggerantes, terus membagi dalam jiwa sesuatu rakyat, sehingga akhirnya memecahbelahkan keutuhan bangsa samasekali.

Celaka, celaka bangsa yang demikian itu! Bertahun-tahun, kadang-kadang berwindu-windu ia tidak mampu berdiri kembali. Bertahun-tahun, berwindu-windu ia laksana hendak doodbloeden, kehilangan darah yang ke luar dari luka-luka tubuhnya sendiri.

Karena itu, segenap jiwa ragaku berseru kepada bangsaku Indonesia : terlepas dari perbedaan apapun, jagalah persatuan, jagalah kesatuan, jagalah keutuhan! Kita sekalian adalah makhluk Allah! Dalam menginjak waktu yang akan datang, kita ini seolah-olah adalah buta.

TUHAN YANG MENENTUKAN

Ya benar, kita merencanakan, kita bekerja, kita mengarahkan angan-angan kepada suatu hal di waktu yang akan datang. Tetapi pada akhir nya Tuhan pula yang menentukan. Justru karena itulah maka bagi kita sekalian adalah satu kewajiban untuk senantiasa memohon pimpinan kepada Tuhan. Tidak satu manusia berhak berkata, aku, aku sajalah yang benar, orang lain pasti salah!Orang yang demikian itu akhirnya lupa bahwa hanya Tuhan jualah yang memegang kebenaran!

Demikian kataku di waktu itu.Berbareng dengan crucial period-nya krisis-krisis kabinet dan krisis demokrasi itu, kita juga mengalami kerewelan-kerewelan dalam urusan daerah, kerewelan-kerewelan dalam urusan tentara, mengalami bukan industrialisasi yang tepat, tetapi industrialisasi tambal sulam zonder overall-planing yang jitu, mengalami, aduh, Indonesia yang subur loh jinawi, bukan kecukupan bahan makanan tetapi impor beras terus-menerus, mengalami bukan membubung-tingginya kebudayaan nasional yang patut dibangga-banggakan, tetapi gila-gilaannya rock and roll, geger-ributnya swing dan jazz, kemajuannya twist dan mamborock, banjirnya literatur komik.

Contoh-contoh ini adalah cermin daripada menurunnya kesadaran nasional kita dan menurunnya kekuatan jiwa nasional kita.

HILANG NYA RASA KEPERCAYAAN PADANEGARA BANGSA

Apakah kelemahan jiwa kita itu? Jawabanku pada waktu itu adalah, “kelemahan jiwa kita ialah bahwa kita kurang percaya kepada diri kita sendiri sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang percaya-mempercayai satu sama lain, padahal kita ini pada asalnya adalah rakyat gotong royong”.

Demikianlah seruanku pada waktu itu, dan demikianlah pesan seluruh jiwa semangatku menghadapi crucial period waktu itu.

Situasi di bidang ekonomi pun pada waktu itu tidak jauh berbeda. Warisan ekonomi yang saya terima pada tahun-tahun itu barulah berupa tindakan pengambil-alihan obyek-obyek ekonomi dari tangan penjajah Belanda sahaja. Situasi ekonomi yang demikian itu sudah jelas belum memungkinkan adanya pembangunan. Malahan cita-cita pembangunan kita itu sahaja pada waktu itu sudah dihadapkan kepada crucial period – nya pertentangan pandangan dan berlawanannya konsepsi.

Berkobarlah pertentangan daerah melawan pusat dalam soal pembangunan, berkobarlah rivalitas daerah yang yang satu melawan daerah yang lain. Sebagai usaha untuk mengatasi hantam-hantamam di bidang ekonomi pembangunan itu, diselenggarakan di Jakarta sini tempo hari Munas dan Munap. Tetapi kendatipun demikian, segala usaha ternyata tidak mampu menahan arus-meluncurnya disintegrasi dan dislokasi perekonomian kita yang malahan semakin menjadi-jadi.

Pengeluaran uang menjadi terus-menerus meningkat, antara lain dan teristimewa karena diperlukan untuk operasi politik, operasi militer, dan operasi administrasi. Biaya yang meningkat-ningkat ini mengakibatkan inflasi yang sungguh sukar dapat dibendung. Harga-harga dan tarif-tarif terus menaik, pendapatan dari para buruh dan pegawai sebaliknya terus-menerus merosot dalam nilainya karena uang kita semakin kehilangan kekuatan nilai tukarnya. “Tibalah sebagai puncak dalam crucial period-nya ekonomi keuangan itu tindakan pengguntingan uang, yang ternyata malah menambah hebatnya inflasi dan menambah beratnya penderitaan dan pengorbanan rakyat….”

KESIMPULAN

Keadaan sekarang rasa nya sama dengan keadaan Indonesia tahun 50 an , yang membedahkan saat ini adalah kita menyerahkan kompas kehidupan berbangsa dan bernegara pada Asing, kita rela melegalkan Kolonialisme, Kita kudeta konstitusi dibungkus amandemen UUD 1945 kita cangkokan UUD 1945 dengan Liberalisme, Kapitalisme, dan Individualisme, dengan UUD 2002 cangkokan ini. Kemudian selanjutkan kita legalkan Kolonialisme, Kapitalisme, Liberalisme dengan Puluhan Undang-Undang, bahkan kita sudah tidak lagi bisa berfikir sehat negara bangsa ini kita bongkar, kita buka blak, agar asing bisa masuk meraba semua kehidupan berbangsa dan bernegara kita, dengan bangga mengatakan adalah era baru, padahal era dengan penghisapan, Kolonialisme adalah musuh pendiri bangsa ini, kita tidak lagi mempertimbangkan sejarah, nilai-nilai, bahkan kita kalap.

Pancasila kita tengelamkan dan sesungguh nya sejak Kudeta dengan dibungkus amandemen UUD 1945 Indonesia sudah dicabut roh nya, Indonesia bukan lagi Indonesia yang di Proklamasikan 17 Agustus 1945 Indonesia bukan lagi yang digambarkan didalam UUD 1945 , dan Indonesia bukan lagi Indonesia yang berdasar pada Pancasila.

Terus kepalsuan kita jalankan, 80 Tahun kita peringati hari kemerdekaan yang semu dan membohongi diri sendiri padahan dengan kudeta konstitusi yang dibungkus dengan amandemen UUD1945 Negara Proklamasi 17 Agustus 1945 sudah bubar.

Indonesia yang sekarang adalah negara dengan dasar Ultra Liberal, maka tidak heran jika 0,1 % Korporasi Asing dan Aseng menguasai lahan seluas 76%, Lahan di Indonesia ya perkebunan, tambang-tambang, real estat, Industrial eastat, dan 0,10 persen menguasai 50% kekayaan Indonesia.

Apakah ini semua sesuai dengan tujuan bernegara kita yang di proklamasikann17 Agustus 1945 ? inilah bukti nyata bahwa negara bangsa ini sudah bukan Negara Pancasila. Pertanyaan berikut nya apakah kita sebagai anak bangsa membiarkan keadaan seperti ini? tentu tidak, saya yakin mulai membesar tingkat kesadaran kita sebagai bangsa, dan saya juga yakin akan ada revolusi besar di negeri ini, bagaimana dengan anda apakah anda sudah sadar atau belum tentang keadaan bangsa dan negara ini ?

80 tahun umur negara Proklamasi, WHO menyatakan 174,6 juta rakyat Indonesia dalam kemiskinan, keadilan sosial semakin jauh dari pandangan kita untuk mewujudkan nya. Ada yang salah dalam mengelolah negara ini, apakah kita semua akan membiarkan negara seperti ini ? Atau kita membangun kesadaran untuk kembali pada UUD 1945 dan Pancasila.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca