
Perkembangan teknologi adalah keniscayaan, ia bisa tumbuh dengan sangat cepat sehingga acapkali membuat kita terkesima kemudian terpesona. Termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Inteligent (AI). Gejala mandegnya daya kritis dan berbiaknya kepasrahan berfikir akibat ketergantungan AI terlihat jelas, khususnya pada anak-anak kita yang menyerahkan soal kepada Chat GPT (misalnya) untuk menjawabnya.
Manipulasi Informasi
Dalam hal informasi, AI secara signifikan mempengaruhi cara penyebaran informasi, namun potensi bias dan manipulasinya dapat mendistorsi informasi dan/atau menyebarkan misinformasi.
Mohammad Ibrahim Fheili, pada 1 Juli 2024 menulis artikel tentang mekanisme utama yang berkontribusi terhadap pencucian informasi oleh AI meliputi:
Penyajian yang selektif dan bias
Sistem AI dapat menghilangkan data relevan untuk menciptakan narasi yang bias, dan model bahasa yang dilatih dengan konten yang bias dapat menghasilkan informasi yang menyesatkan. Penjahat dapat dengan sengaja merancang algoritma untuk menghasilkan hasil yang menyesatkan atau bias demi kepentingan tertentu.
Deepfake dan amplifikasi konten
AI memungkinkan konten rekayasa yang sangat realistis (gambar, video, dan audio) yang dirancang untuk menyebarkan narasi palsu. Teknologi ini juga dapat memperkuat visibilitas media sintetis, memperluas jangkauan audiens sekaligus memberi mereka rasa legitimasi yang palsu.
Kampanye misinformasi dan ruang gema
Bot otomatis dapat dengan cepat menyebarkan informasi palsu (ruang gema), menciptakan persepsi palsu tentang kredibilitas atau konsensus. Algoritma personalisasi memperkuat bias yang ada dengan menyajikan konten yang selaras dengan keyakinan pengguna, sehingga mempersulit pembedaan antara informasi yang benar dan yang salah.
Ismail Fahmi, Pendiri Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia, melalui akun X-nya mengulas tentang manjing-nya AI di ruang informasi. Berikut ulasannya:
AI di Newsroom: Siapa yang Bertanggungjawab?
Oleh : Ismail Fahmi, Pendiri Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia

Pagi itu di Bonn, dalam sesi yang disorot tajam di Global Media Forum 2025, Nic Newman dari Reuters Institute menampilkan sebuah slide—penuh warna, tapi dengan pesan yang suram:
> Mayoritas orang di Eropa dan Amerika Serikat merasa tidak nyaman jika berita ditulis oleh AI, bahkan dengan pengawasan manusia.
Saya menatap angka-angka itu.
Di AS, hanya 19% merasa nyaman dengan model “berita ditulis oleh AI dengan pengawasan manusia.”
Di Eropa? Lebih rendah lagi: 15%.
Sebaliknya, lebih dari 50% responden di kedua wilayah merasa tidak nyaman.
Dan saat itulah saya sadar: ini bukan sekadar debat teknologi. Ini adalah soal kepercayaan, tanggungjawab, dan nilai manusia dalam informasi.
AI Masuk ke Meja Redaksi
Hari ini, banyak redaksi sudah menggunakan AI.
– Untuk merangkum dokumen.
– Untuk menyusun transkrip.
– Untuk membuat draft berita.
AI membantu efisiensi. Memangkas biaya. Menghemat waktu.
Tapi di tengah kecepatan itu, muncul pertanyaan yang tak kalah penting: apakah kita masih tahu siapa yang benar-benar menulis berita?
Karena jika berita disusun oleh mesin, bahkan dengan pengawasan manusia, mayoritas publik tetap tidak percaya.
Data Tak Bisa Berbohong
Nic Newman membawa data ini langsung dari Reuters Digital News Report 2025:
Mainly AI with some human oversight
USA:
19% nyaman
53% tidak nyaman
Eropa:
15% nyaman
48% tidak nyaman
Mainly human with some help from AI
USA:
38% nyaman
30% tidak nyaman
Eropa:
30% nyaman
27% tidak nyaman
Artinya jelas:
Publik hanya merasa relatif aman jika manusia tetap memegang kendali utama.
Kenapa Publik Tak Percaya AI sebagai Penulis Berita?
Karena berita bukan sekadar data.
Ia adalah narasi, konteks, dan seringkali empati.
AI bisa mengurutkan fakta, tapi ia tidak tahu mana yang pantas ditulis dengan nada tajam atau lembut.
AI bisa mengolah ribuan dokumen, tapi ia tidak bisa membaca isyarat wajah dalam wawancara, atau ironi dalam pernyataan politikus.
Dan yang lebih penting:
Jika terjadi kesalahan—siapa yang bertanggung jawab?
Redaktur? Programmer? OpenAI? Google? Atau… tidak ada sama sekali?
Kita Butuh Jurnalis, Bukan Hanya Output
AI bisa menulis cepat. Tapi tidak tahu kapan harus berhenti dan bertanya ulang.
AI bisa menjawab, tapi tidak tahu kapan harus ragu. Dan ragu adalah inti dari jurnalisme.
Karena jurnalisme bukan tentang jawaban. Tapi tentang menantang kebenaran yang dianggap sudah pasti.
Di Antara Kemudahan dan Ketidakpercayaan
AI di newsroom bukanlah pertanyaan jika, tapi bagaimana.
Kita tahu AI akan membantu. Kita tahu efisiensinya menggoda.
Tapi saat AI mulai mengambil alih narasi, kita harus bertanya: apa yang masih tersisa dari jurnalisme manusia?
Data dari GMF 2025 memberikan jawaban yang gamblang:
Publik masih mau dibantu oleh AI, tapi tidak mau digantikan olehnya.
Dan mungkin, itu peringatan paling penting untuk industri media saat ini: jangan menyerahkan kepercayaan publik kepada sesuatu yang tak punya wajah—dan tak bisa disalahkan. (IF/AI)
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.