Dipersembahkan oleh : Atma
Menyaksikan peperangan yang kini terjadi di wilayah Timur Tengah bukan hanya dilihat sebagai peristiwa politik atau konflik semata, namun juga sebagai cermin dari kahanan roso (keadaan jiwa) umat manusia yang sedang kehilangan keseimbangan.

“Dunia adalah cermin, apa yang terjadi di luar adalah cerminan dari patah hatinya manusia serta gambaran dari rusaknya hati manusia”.
Perang, kehancuran, dan kebencian dalam pandangan spiritual Jawa adalah pertanda bahwa nafsu, ambisi, dan kesombongan telah melampaui belas kasih dan pamer (kasih sayang dan pengertian). Perilaku orang Jawa mengajarkan bahwa tatanan dunia hanya dapat dicapai jika batin mampu menyatukan perasaan, pikiran, dan perbuatan.
Pandangan spiritual Jawa terhadap Perang : perang bukan hanya tentang senjata dan bom, ini tentang persatuan. Perang bukan hanya tentang senjata, tetapi karena tidak adanya rasa persatuan yang sesungguhnya.
Persaingan luar berasal dari kompetisi internal, Perselisihan di luar muncul dari dalam.
Seorang pria yang acuh tak acuh dan tidak waspada akan menjadi domba dalam pertempuran naga karena orang yang tidak menyadari dirinya dan lingkungan akan menjadi korban dalam pertempuran kekuatan besar.
Pepatah Jawa :
“Sugih tanpa Bandha, Digdaya tanpa Aji, Nglurug tanpa Bala, Menang tanpa Ngasorake”.
Dia yang menang tanpa mempermalukan, dia yang memerintah tanpa menyiksa, adalah pejuang sejati. Orang yang menang tanpa menghina, orang yang bertahta tanpa menyiksa, itulah pejuang sejati.
Jadi, orang Jawa hanya melihat hal yang terjadi ini dengan kesedihan, nurani, dan mengingat bahwa kedamaian tidak dapat dipaksakan dengan senjata, tetapi harus dimulai dengan hati yang jernih dan penuh kasih.
Rahayu kamulyaning jagad, rahayu kinasih
Jakarta, Jum’at 24 Besar 1958, 20 Juni 2025, 24 Dzulhijjah 1446 H
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.