Oktober 10, 2026

Oleh : Atma

Saat ini ada sebuah negeri yang sedang terpuruk kedalam jurang kegelapan yang amat dalam, namun penduduknya malah merasa sedang berada pada puncak Kesadaran tertinggi.

Gambar ilustrasi

Kemunafikan dipertontonkan dengan gamblang, aneka rupa kejahatan terjadi didalam negerinya, fakta-fakta kepalsuan tersaji didepan matanya, kekejian tertutupi dengan selubung kesucian.

Yang paling mengenaskan adalah bangsa itu mencampakkan adat budaya dan ajaran-ajaran luhur nenek moyangnya sendiri, seakan jijik dan amat takut untuk merawat serta melestarikan pusaka leluhurnya, mereka jadi antipati untuk bersentuhan dengan peninggalan leluhurnya sendiri, takut dicampakkan kedalam neraka, takut dituding sebagai penyembah ‘setan’, akibat setiap hari dibisiki bahwa apapun yang terkait dengan peninggalan leluhurnya adalah kepunyaan setan.

Padahal pada masa lampau, bangsa itu telah meninggalkan jejak kejayaan yang sampai hari ini dapat dilihat dan dipelajari oleh anak-anak keturunannya.

Tapi sungguh menyedihkan, anak-anak keturunan bangsa itu seolah buta dan tuli, gajah dipelupuk mata tak nampak, tapi kuman diseberang lautan nampak dengan jelas. Kejayaan dan segala kemuliaan leluhurnya sendiri yang ada didepan matanya tak dihormati dan enggan diteladani, tapi bualan bangsa lain dari seberang lautan malah ditaati dan dipercaya sebagai “Sabda”.

Semua ada masanya…

Jika sekarang bangsa itu tenggelam amat dalam kedasar kebodohan dan kedurhakaan; tapi suatu saat nanti pasti akan keluar ke permukaan dan mampu melihat indahnya Cahaya Kesadaran, lalu segera kembali kedalam dekapan penuh kasih sayang leluhurnya sendiri.

Cahaya itu telah tampak samar-samar, dan tak lama lagi pasti akan membesar menerangi kegelapan dasar samudra, dan orang-orang bodoh yang tenggelam didasar samudra kedurhakaan yang amat pekat itu akan mampu naik ke permukaan mengikuti Cahaya Kesadaran untuk merangkak dan bersujud dihadapan leluhurnya.

RAHAYU KAMULYANING JAGAD

Jakarta, Minggu 11 Mei 2025

#BangkitlahNuswantara

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca