Oktober 9, 2026

Oleh: Madi Saputra

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58)

Sejarah selalu menjadi guru terbaik bagi umat manusia. Jika kita ingin membangun Indonesia yang kuat dan berdaulat, kita harus belajar dari peradaban besar yang telah bertahan berabad-abad. Salah satu contoh terbaik adalah Ottoman Empire (Kesultanan/Khalifah Utsmani), yang berdiri kokoh selama 700 tahun, menguasai tiga benua, dan menjadi salah satu kekuatan terbesar dalam sejarah Islam.

Namun, apa rahasia panjang umur dan kejayaan Ottoman? Di dalam sistem pendidikannya, khususnya di akademi kepemimpinan yang melahirkan bupati, gubernur, dan pejabat negara, terdapat satu pelajaran sederhana namun penuh makna: Tidak ada negara tanpa tentara yang kuat, Tidak ada tentara yang kuat tanpa uang, Tidak ada uang tanpa kemakmuran, Tidak ada kemakmuran tanpa rakyat yang bahagia dan sejahtera, Tidak ada rakyat yang bahagia dan sejahtera tanpa pemerintah yang bersih dan adil.

Kalimat ini bukan sekadar rangkaian kata, tetapi merupakan rumus peradaban yang seharusnya menjadi pedoman bagi setiap pemimpin. Jika kita menerapkannya dalam konteks Indonesia, maka kita akan memahami mengapa negeri ini masih terus berjuang dalam menghadapi berbagai Krisis nasional dan global.

1) Tidak Ada Negara Tanpa Tentara yang Kuat,

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka segala kekuatan yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu serta orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.”(QS. Al-Anfal: 60)

Keberadaan tentara yang kuat bukan hanya soal pertahanan, tetapi juga tentang kedaulatan nasional. Ottoman Empire (Khalifah Utsmaniyah memiliki tentara elit, Janissary, yang dididik secara khusus dan menjadi kekuatan utama dalam mempertahankan serta memperluas wilayahnya.

Tanpa tentara yang kuat, negara akan rentan terhadap ancaman eksternal maupun infiltrasi kekuatan asing.Dalam konteks Indonesia, kita harus memastikan bahwa TNI bukan hanya kuat secara fisik, tetapi juga bebas dari pengaruh oligarki dan kepentingan asing.

Negara yang lemah dalam pertahanan akan mudah dikendalikan oleh kekuatan luar, dijajah secara ekonomi, dan dikuasai oleh kepentingan asing yang ingin menguasai sumber daya alamnya.

Maka, membangun kekuatan militer yang profesional dan loyal kepada negara adalah syarat mutlak bagi kedaulatan Indonesia.

2) Tidak Ada Tentara yang Kuat Tanpa Uang

“Dan janganlah kamu berikan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya harta (mereka yang berada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Tetapi berikanlah kepada mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.”(QS. An-Nisa: 5)

Tentara yang kuat tidak cukup hanya dengan patriotisme dan latihan militer yang keras, tetapi juga membutuhkan sumber daya finansial yang besar. Ottoman Empire (Khalifah Utsmaniyah) mampu membangun pasukan yang kuat karena memiliki sistem ekonomi yang stabil, Zakat Infaq dan Shodaqoh yang dikelola dengan baik, serta kebijakan keuangan yang tidak bergantung pada pinjaman asing.

Dalam konteks Indonesia, jika negara tidak memiliki sistem ekonomi yang kuat, maka anggaran pertahanan akan selalu tergerus oleh kebutuhan lainnya. “Ketergantungan pada utang luar negeri untuk membiayai pertahanan hanya akan melemahkan kedaulatan bangsa dalam jangka panjang.

Maka, sumber daya keuangan yang sehat adalah syarat utama bagi kekuatan militer yang tangguh.

3) Tidak Ada Uang Tanpa Kemakmuran

“Sesungguhnya jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”(QS. Al-A’raf: 96).

Negara tidak akan memiliki keuangan yang kuat jika tidak memiliki ekonomi yang mandiri dan produktif. Ottoman Empire (Kasultanan Utsmaniyah) memiliki pusat-pusat perdagangan dan industri yang menjadikannya sebagai kekuatan ekonomi dunia.

Hasil pertanian, tekstil, logam, dan perdagangan internasional menjadi sumber utama kekayaan kesultanan. Indonesia, dengan segala kekayaan alamnya, seharusnya mampu menjadi negara dengan perekonomian mandiri, bukan hanya menjadi eksportir bahan mentah yang nilainya jauh lebih rendah.

Namun, kemakmuran tidak akan tercapai jika ekonomi dikuasai oleh segelintir oligarki dan sistem ekonomi lebih berpihak pada pemodal asing daripada rakyat sendiri.

Hilirisasi industri dan kebijakan ekonomi berbasis produksi harus menjadi prioritas utama jika Indonesia ingin benar-benar mandiri secara ekonomi.

4) Tidak Ada Kemakmuran Tanpa Rakyat yang Bahagia dan Sejahtera

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari dunia, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi.”(QS. Al-Qasas: 77)

Negara hanya bisa mencapai kemakmuran jika rakyatnya bahagia dan sejahtera. Ottoman Empire memahami bahwa kesejahteraan rakyat adalah kunci stabilitas nasional.

Sistem pajak (ZIS) mereka adil dan digunakan untuk kepentingan rakyat, bukan hanya untuk memperkaya elite penguasa. Pendidikan dan kesehatan gratis bagi rakyat menjadi prioritas utama, sehingga kesenjangan sosial dapat ditekan. Sebaliknya, jika ekonomi hanya menguntungkan segelintir elit, maka kesenjangan sosial akan melebar, dan stabilitas negara akan terancam.

Kemakmuran sejati adalah kemakmuran yang dapat dirasakan oleh seluruh rakyat, bukan hanya oleh segelintir pengusaha besar atau elite politik.

5) Tidak Ada Rakyat yang Bahagia dan Sejahtera Tanpa Pemerintah yang Bersih dan Adil

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”(QS. An-Nahl: 90)

Di atas segalanya, negara yang besar dan kuat hanya bisa bertahan jika dipimpin oleh pemerintah yang bersih dan adil. Khalifah Utsmaniyah atau Ottoman Empire memiliki sistem hukum yang berbasis pada SISTEM HUKUM ISLAM, di mana rakyat memiliki hak untuk menggugat penguasa yang zalim.Korupsi adalah kejahatan berat yang dihukum dengan Adil, sehingga sistem pemerintahan dapat berjalan dengan bersih dan efektif.

Pemimpin yang adil dan bertanggung jawab akan memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil berpihak kepada rakyat, bukan kepada kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.

Tanpa kepemimpinan yang adil, rakyat akan kehilangan kepercayaan kepada negara, dan pada akhirnya peradaban akan runtuh dari dalam.

IIndonesia Harus Belajar dari Sejarah.

Pelajaran dari Ottoman Empire (Khalifah Utsmaniyah) bukan sekadar sejarah, tetapi pedoman untuk membangun kembali kedaulatan bangsa ini. Jika Indonesia ingin menjadi negara yang kuat dan berdaulat, maka formula ini harus diterapkan dengan tegas : Bangun militer yang kuat dan profesional, Pastikan sistem keuangan negara mandiri dan stabil, Dorong ekonomi berbasis produksi dan hilirisasi, Pastikan kesejahteraan rakyat menjadi prioritas utama, Tegakkan kepemimpinan yang bersih dan adil.

Jika tidak, kita hanya akan menjadi bangsa yang terus dikendalikan oleh kepentingan asing, Aseng dan oligarki dalam negeri. Sejarah telah memberikan pelajaran. Kini, pilihan ada di tangan kita.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca