Oktober 9, 2026

— Sutoyo Abadi : 07.01.2025

Masa penjajahan berabad abad lamanya telah mewariskan kepada Indonesia struktur perekonomian yang didominasi perusahaan asing dan para pedagang Cina.

Belanda mendominasi bidang perkebunan, pertanian, pertambangan, perdagangan luar negeri, industri dan perbankan. Semua perusahaan besar di tangan mereka. Golongan etnis Cina menguasai sektor menengah menjadi perantara perusahaan asing dengan orang pribumi.

Etnis Cina menguasai industri kecil menampung hasi dari petani sebagai perdagangan antar wilayah Sejak itulah Nuswantara susah masuk dalam perangkap genggaman Cina.

Perlahan tapi pasti mempersiapkan penguatan eksistensi penguasaan Nuswantara dengan membawa masuk banyak imigran Cina ke Indonesia.

Untuk membentuk koloni baru yang kita kenal dengan nama Pa-Cinaan sering kita kenal Pecinan, kaum pribumi tetap menjadi kelas pinggiran.

Pada era perjuangan dan paska jemerdekaan, perilaku dan tabiat mereka tidak berubah “Ideologinya adalah Angpao”, untuk tetap eksis menguasai pejabat negara, sebagai penguasa dan pengambil kebijakan negara.

Pada masa kemerdekaan ekonomi mutlak sudah di kuasai oleh mereka, ketololan pejabat penguasa negara tetap dalam kendali Saudagar Cina, di kendalikan dalam setiap pengambilan kebijakan negara untuk memperkuat etnis Cina menguasai Nuswantara.

Pada masa Presiden Sukarno dan Suharto, yang paham atas kejadian sejarah di atas, sekuat tenaga masih ada upaya pengendalian kekuatan dan kekuasaan pedagang etnis Cina. Sampailah pada masa Presiden Jokowi sangat mengerikan bukan saja kedaulatan negara di serahkan ke Saudagar Cina bahkan di berikan karpet merah dengan leluasa menjajah Nusantara.

Bahkan imigrasi etnis Cina dengan dalih Tenaga Kerja Asing (TKA) masuk ke Nusantara dengan bebas dengan alasan investasi dan lebih parah di beri payung hukum Program Strategis Nasional (PSN). Lebih gila lagi mereka di fasilitasi untuk membangun pusat pusat hunian warga Etnis Cina dengan kawasan lebih luas dan eklusif seperti PIK 1 dan akan di bangun PIK 2 dan PIK di sepanjang pantai pulau Jawa dan kawasan lainnya di luar Jawa.

Apa yang membuat penguasa kita benar benar buta sejarah terhadap penghianatan demi penghianatan terus mereka lakukan. Sangat mungkin karena buku buku sejarah dengan rapi di sembunyikan. Hampir di pastikan Presiden sekelas Jokowi yang buta sejarah menjadi penyebab “Nuswantara dalam kondisi gawat darurat dalam genggaman cengkeraman saudagar etnis Cina”.

Penghianatan Cina lebih merupakan kelaziman perilakunya sejak jaman penjajahan, pra dan paska kemerdekaan. Kaum pribumi tetap di korbankan sebagai kelas terbawah bahan akan di musnahkan.Ribut ribut soal dugaan korupsi Jokowi menjadi terlalu sederhana di bandingkan dengan penghianatan Jokowi menjual kedaulatan negara. Jokowi sia sia membela diri, terang benderang masuk kategori sebagai PENGHIANAT NEGARA – hukuman nya adalah  hukuman mati.

-Atma_

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca