Oktober 9, 2026

— Sutoyo Abadi : 14.11.2024

Setiap pagi harus menyimak artikel (ekonom) Prof Anthony Budiawan, berbeda pagi ini masuk menyimak senandung tokoh nasionalis kita Prof. Kwik Kian Gie (audia visual) bermuatan Indonesia dalam situasi krisis dan kacau.

Sekalipun suara sedikit parau masih bisa dituangkan dalam tulisan sbb :

Tanah airku entah mengapa

Negara kaya menjadi merana

Tanah yang dulu amat mulia

Telah di jarah sepanjang masa

Tanah airku kini telah uzur

Tempat korupsi nan amat subur

Tempat polisi para mafia

Sejak dulu kala

Melambai lambai kardus dan dolar

Berbisik bisik cari kuasa

Rakyatnya melarat luar biasa

Tanah airku oh mengapa…

Senandung itu menyentuh kalbu, dalam situasi kritis dan kacau mutlak di butuhkan kemampuan bertindak/bergerak dan mengambil keputusan lebih cepat untuk mengatasi kekacauan yang sedang terjadi.

Belajar dari Napoleon pakar perang terbesar : “Kecepatan dan kemampuan beradaptasi dan bertindak datang dari organisasi yang fleksibel – bagilah menjadi kelompok kelompok mandiri yang sanggup beroperasi dan mengambil keputusan sendiri”.

Pahamilah : “Masa depan adalah milik kelompok yang fleksibel, cepat dan non lineier”.

Bagi aktifis perjuangan jadilah kekuatan yang sulit di gapai dan tidak bisa di hentikan dengan menanamkan semangat perjuangan yang membara, cepat ambil keputusan dan bertindak dengan cepat.

Bukan milik pejuang sejati, mengaku pejuang atau aktifis tetapi tanpa rencana dan tindakan cepat, selain menunggu waktu (seratus hari, enam bulan, satu tahun) baru bergerak, itu pejuang yang sudah mati sebelum datang ajal kematiannya.

Musuh kita adalah Taipan Oligarki seperti menggunakan filosofi komandan Paton : “Jangan pernah menjelaskan kapan orang orang, cara melakukan segalanya. Hanya menjelaskan apa yang harus dilakukan, maka mereka akan mengejutkan  dengan tindakan mereka”. (Paton : A Genius For War Carlo D’Este, 1996)

Gerakan mereka sangat senyap tetapi memiliki kekuasaan dan kekuatan menguasai. Dengan “senjata Angpau” mereka, maka para budaknya akan membabi buta, untuk melawan siapapun yang akan menghambat dan menghalangi mereka, inilah yang telah terjadi di era rezim Jokowi.

Sinyal yang di tampilkan oleh Presiden Prabowo saat ini masih tidak jelas sikapnya dan belum ada tindakan cepat, terasa masih omon omon. Apalagi kalau akan mengikuti cara cara Jokowi pasti bencana yang akan datang.

Akhirnya keberanian, keputusan dan tindakan cepat, fleksibilitas dari Prabowo Subianto yang akan memberi kuasa atas kendali dan jawaban dalam mengatasi kekacauan seperti yang di senandungkan begawan ekonomi kita Kwik Kian Gie.

Bukan dan tidak hanya omon – omon. Prabowo Subianto lebih baik menghindari pencitraan model Jokowi dan hanya larut pada dominasi sepele.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca