Kemunduran, keruntuhan dan kehancuran peradaban di Nusantara merupakan cermin dari benturan peradaban yang di alami setelah masing-masing berada pada masa kejayaan, kemudian gagal menghadapi masa krisis dan kritis.
Masing masing memiliki zona waktunya sendiri, keterkaitan dengan tanda-tanda akan terjadinya kemunduran, kejatuhan dan kehancurannya.
Para sejarawan akan merujuk pada kejadian masa lalu dan masa kini untuk dilihat ciri, bentuk, karakter, simbol-simbol yang muncul dan sedang terjadi.
Tidak akan ada satupun negara akan eksis secara sempurna, kecuali ditegakkan oleh pemerintahan (penguasa) yang mendukungnya. Sebaliknya apabila penguasa justru ikut merongrong maka kemunduran, kejatuhan dan kehancurannya akan berjalan lebih cepat.
Bangsa Indonesia mempunyai dasar negara Pancasila yang digali dari peradaban dan pandangan hidup bangsa Indonesia sendiri dan bersumber dari kepribadian bangsa Indonesia, di hancurkan oleh penguasa yang buta sejarah.
Akan menjadi saksi sejarah, negara akan terus dalam kesulitan, berujung kegelapan, kemunduran dan kehancurannya.
Indonesia sudah terjebak praktek liberalisasi, kapitalisasi dan komunisme. Pertarungan pemikiran, politik, ideologi antar penikmat dan kembali ke UUD ’45 tiada henti semakin tajam, keras seperti tidak akan ada titik temu. Itulah tanda tanda kehancuran yang nyata.
Itu terjadi akibat hegemoni kekuatan yang maha dahsyat, 3 kekuatan isme dengan kekuatan oligarki yang makin membesar dan kuat menancapkan kukunya di Indonesia.
Dalam kajian hancurnya peradaban baik oleh Toynbee dan Ibnu Khaldun; datang, proses kejadiannya bukan dari luar tetapi lebih dominan dari dalam diri sendiri.
Tanda-tandanya akan kelihatan dan di tampakkan dari pola hidup para penguasa yang hedonis, hidup mewah, mementingkan diri dan dinastinya. Terus berbohong sampai puncaknya akan menjual kedaulatan negara.
Negara yang telah hancur pasti di tandai dengan pejabat/penguasa yang rakus mencari kekayaan secepatnya dengan segala cara, kemewahan dunia, tindakan amoral, pelanggaran hukum, penipuan, berjudi, menggelapkan dan suka melanggar sumpahnya.
Kehancurannya di ciptakan sendiri oleh penguasa zalim menciptakan kondisi layak kalah dan hancur (Al-qobiliyah lil-hazimah).
Pada 11 Agustus 1951 M. Natsir menulis sebuah artikel berjudul “Jangan Berhenti Tangan Mendayung, Nanti Arus Membawa Hanyut”, nampaknya negara ini akan hanyut.
Para pendiri bangsa di alamnya menangis melihat penguasa saat ini dengan sombong dan teganya menenggelamkan, mencabik-cabik, menghancurkan tujuan dan cita-cita negara bahkan sebagai budak oligarki.
Tanda-tanda kehancuran sudah didepan mata, tergantung pada pemimpin dan penguasa, semua akan terjadi ketika :

- Penguasa sudah tuli
- Taipan oligarki itu penjajah negeri ini
- Taipan kapitalis dianggap Nabi
- Apa kalian sudah buta hati
- Jangankan pedoman konstitusi
- Semua sudah di kebiri
- Tuhan pun sudah tidak di takuti
- Penguasa berbau Liberal, kapitas Komunis
- Bangsa ini tidak sudi dijajah oligarki
Dipersembahkan oleh : Ardi Purnomo
Slipi, The land of the brave
29 Juli 2024 M, 23 Muharram 1446 H, 22 Suro 1958
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.