Oktober 10, 2026

Soetoyo Abadi 22/07/2024

Sejarah panjang membentangkan lembaran putih menorehkan tulisan bercak sejarah terbaca dengan jelas sejak abad 12, Cina sudah memiliki nafsu birahi ingin menguasai Indonesia (Jawa).

Pada abad 12 di Jawa telah berdiri kerajaan Singasari dengan Rajanya Sri Maharaja Kertanegara. Pada masa itulah Raja Khubilai Khan dari daratan Cina mengutus Mengki (Meng Chi untuk datang ke Jawa menundukkan Singasari).

Pada tahun 1289 pasukan “Meng Chi” mendarat di Tuban, Jawa Timur. Merasa kuat, sombong dan angkuh meminta Raja Sri Maharaja Kertanegara takluk dan tunduk dengan Raja Khubilai Khan.

Sri Maharaja Kertanegara tersinggung merasa kehormatan dan harga dirinya terhina dan dihinakan “Tidak Sudi Dijajah Cina, Mengki (Meng Chi) langsung di potong telinganya dan di minta pulang kenegaranya.

“Khubilai Khan,” sangat marah dan dendam maka pada tahun 1293, empat tahun  kemudian di bawah panglima “Ike Mese” dengan seribu kapal perang, 30.000 pasukannya kembali datang dengan pendaratan yang sama di pelabuhan Tuban untuk menundukkan Singasari.

Sayang Kertanegara sudah tidak ada setelah di serang Raja Kediri Jayakatwang yang digantikan menantunya Raden Wijaya.

Terjadilah siasat cerdik Raden Wijaya, memanfaatkan tentara “Ike Mese” untuk menumbangkan “Jayakatwang”. Setetelah tumbang tak terduga Raden Wijaya memiliki tekad yang sama dengan mertuanya “Tidak Sudi Dijajah Cina”.

Tentara “Ike Mese” sebagian kapalnya di lumpuhkan (dibakar) sebagian pasukannnya di bunuh dalam peperangan, sisanya di usir untuk kembali kenegerinya.

Inilah kegagalan pertama sang penakluk menundukkan sasarannya. Sejarah penaklukan tidak pernah berhenti, tanpa putus asa pada akhirnya dikemudian Cina mampu menguasai Indonesia tanpa perang fisik.

Cina mengubah strategi politiknya dengan “Barongsari dan angpaonya”. Dengan mudah penguasa Indonesia di alam kemerdekaan di serang perutnya, lahirlah oligarki  menjadi kekuatan lebih dahsyat perang tanpa fisik.

Politik perang Barongsai dengan “Ternak Penguasa” kekuatan politik dan ekonomi Indonesia luluh lantak. Bukan saja mampu membeli semua peraturan dan UU yang mengatur  negara, negarapun di beli dengan mengubah UUD 45…?

Setelah Pasal 6 (1) syarat menjadi Presiden “Orang Indonesia Asli” diubah maka tinggal selangkah lagi secara fisik dan psychis etnis Cina sebagai Presiden RI.

Sangat terasa NKRI telah masuk dalam jaring liputan perangkap negara Cina, mereka ingin menguasai Nuswantara sejak Zaman Sriwijaya”. 

Akankah Indonesia berhasil runtuh total dalam genggaman kekuasaan oligarky…?

(Bersambung)

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca