Sutoyo Abadi : 12.07.2024
Apa 3 pesan Malaikat Jibril, kepada Nabi Muhammad SAW :

1. Hiduplah sepuasmu tapi ingat engkau akan meninggal;
2. Cintailah apa yang kamu cintai tapi ingat engkau akan perpisah;
3. Kerjakan apa yang kamu ingin kerjakan tapi ingat engkau akan akan bertanggungjawab.
Orang yang lalai akan terus melawan panduan agama dan tatanan alam, berbuat seenaknya : “Orang yang ketika menang dalam perkara perkara kecil setidaknya sanggup menahan diri tetapi terus melaju, akan mengundang kemalangan bagi dirinya sendiri di tangan para dewa maupun manusia, sebab ia menyimpang dari tatanan alam (I Ching Abad 8 SM)
Akhir cerita seorang pemimpin akan dinilai dari seberapa baik saat mengahiri segalanya. Akhir yang kacau akan terus menggema sepanjang masa dan menjadi catatan hitam dalam kehidupannya.
Di akhir sebuah kekuasaan yang terbaiklah yang akan di mahkotai, apapun jalannya akan di kenang sebagai pahlawan dan sebaliknya keburukan tetap akan menjadi noda hitam kehidupanya.
Jokowi dalam menggenggam kekuasaan selalu menabrak titah Tuhan dan tatanan alam, tenggelam dalam rekayasa politik kotor, kebohongan, pencitraan, tipuan, manipulasi yang hanya menunggu waktu akan terbongkar semua kebusukannya.
Melanggar terlalu jauh dari kapasitas dan kapabilitasnya, sama buruknya belum apa-apa sebenarnya sudah jatuh. Anehnya membiarkan harga diri dan reputasinya semakin dalam terjerumus dalam langkah kebijakannya mengabaikan kepentingan rakyat.
Merasa semakin nyaman hidup bersama oligarki dan Cina. Di akhir masa jabatannya terjebak dengan ribuan tikungan yang keliru ke berbagai arah kekacauan yang kompleksitas, nampak kewalahan tanpa ada jalan keluar bahkan berpotensi membayakan dirinya.
Tidak paham : Dalam kekuasaan rekayasa kemenangan apapun kecenderungan hanya berpikir menang atau kalah, sukses atau gagal sungguh berbahaya, karena pandangan jauh ke depan untuk kebaikan dan kepentingan rakyat tertutup.
Terjebak politik dinasti yang akan terjadi bangga ketika menang dan pahit ketika kalah. Padahal kemenangan dan kekalahan bersifat sementara. Kemenangan politik dengan rekayasa curang dan manipulasi pasti akan menjadi bencana.
Tidak sadar dan menyadari semua akan di nilai pada akhirnya, mengabaikan cara mengakhiri masa jabatannya dengan energi kebajikan untuk rakyat dengan citra, kesan dan kenangan yang baik, justru hanya memburu kesenangan diri, keluarga, kroni dan bandar politiknya.
“Mengakhiri apapun dengan buruk tidaklah ada artinya”. Keinginan terus mempertahankan kekuasaannya dengan macam-macam rekayasa pelanggaran konstitusi dan rekayasa program negara asal asalan. Akan terjadi pembalikan resiko terburuk menerpa dan menimpanya. Tertawalah selagi masih bisa tertawa.
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
Setuju
Ahlan sepakat