
Semut Ibrahim | Kak Nazlira : Bagi saya ini menjadi sebuah fenomena menarik, dikala sebagian besar tokoh-tokoh cendekiawan muslim ICMI (didominasi oleh tokoh-tokoh politik yang lebih mementingkan kepentingan politik dari pada nalar, adab dan ahlak politik) diam, bahkan ikut menjadi perusak ahlak dan adab politik, maka tokoh non muslim seperti Romo Franz justru mengambil peran yang jauh lebih mengedepankan etika dan moral politik.
Harusnya ini menjadi sinyal, alarm yang menyentak nalar semua cendekiawan muslim dalam ICMI untuk secara frontal bicara tentang bobroknya moral, ahlak dan etika politik para politisi bangsa ini, termasuk perilaku politik Presiden.
Beliau Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno SJ, (dikenal sebagai Romo Magnis, ia adalah seorang imam Katolik, pengajar filsafat, dan juga penulis).
Magnis mulai berkarya di Indonesia sejak 1961 sebagai seorang misionaris. Pada tahun 1977, ia menjadi warganegara Indonesia. Ia mempelajari filsafat, teologi dan teori politik di Pullach, Yogyakarta dan München, mengambil doktorat dalam filsafat 1973 dari Universitas Munchen dan sejak 1969 menjadi dosen tetap dan guru besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara di Jakarta.
Bangsa yang majemuk ini membutuhkan tokoh-tokoh agama yang lurus, bukan tokoh agama yang kurus tapi ingin gemuk lantaran diguyur dengan uang politis dan jabatan politik.
Bangsa ini merindukan tokoh-tokoh negarawan, bukan tokoh bangsawan yang tak pernah menapakkan kakinya di bumi, selalu bicara demi rakyat tapi setiap jamuan makan malamnya bergelimang kemewahan, tak pernah merasakan kesusahan apa yang rakyat rasakan.
Bangsa ini seakan hidup ditengah-tengah para penipu, pembohong dan pendusta, yang siap merampok setiap jengkal kekayaan negerinya..!!!
#KamiMuak
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.